Dorin Tanea

Dorin Tanea
Episode 48


__ADS_3

“Oh, sorry,” kataku dengan suara pelan karena tidak sengaja menabrak seseorang. Ini kali keduanya aku menabrak cowok itu. Entah angin apa yang membuatnya begitu aktif saat ini. Biasanya wajah itu tidak terlihat dimana pun kecuali di perpustakaan. Tidur di siang hari sama halnya dengan kelelawar. Dasar nokturnal.


“Woi, tunggu!” Tatapannya datar dan dingin langsung menusuk dada. Pikiran yang terlintas di benakku sekarang adalah melepaskan diri dari genggaman tangannya kemudian kabur.


Dia memandangiku lama dengan bibir mengatup, namun genggamannya semakin erat ketika hendak menarik tanganku. Aku mendesah dalam hati. Berpikir, kenapa semua cowok yang pernah kutemui di masa lalu, tingginya itu kelewatan? Padahal bisa dibilang, cowok yang tidak kuketahui namanya ini dulu tingginya tidak jauh berbeda denganku. Mereka pada makan apa, sih?


“Le-lepas!” Aku menarik tanganku kuat. “Bukankah aku sudah bilang minta maaf?”


Sial! Dia begitu kuat. Aku meringis menahan sakit. Tanganku yang bebas mencoba melayangkan tinju ke


arahnya, namun dengan mudahnya dia menangkap genggamanku dengan tangannya yang besar. Tiba-tiba bulu kudukku merinding melihat seutas senyuman iblis di wajahnya.


“Gue pikir kita tidak akan pernah bertemu lagi, Dorin.”


Mataku melebar. Ternyata dia mengingatku dengan jelas dan dia juga mengetahui namaku? “Oh, reaksi yang bagus,” katanya dengan suara dan tatapan mengintimidasi. Sekarang aku tidak bisa berkutik. Kedua tanganku berada dalam kunciannya.


“A-Apa yang kamu lakukan?” kataku dengan terbata ketika dia mendekatkan wajahnya.


Merinding. Lagi-lagi dia tersenyum seperti iblis. Seperti harimau yang siap mencabik-cabik lalu menyantap mangsa di depannya.


“Di mana pacar lo, apa dia juga ada di sini?” bisiknya di telingaku. “Gue merindukannya.” Kata-kata terakhir membuatku merinding.


“Menjauh darinya!” Seseorang menarik tubuhku dan dua orang lainnya mendorong cowok itu menjauh. Aku bersyukur dengan kedatangan mereka bertiga, namun diriku sibuk dengan pikiranku sendiri.

__ADS_1


Pacar? Apa yang dia maksud Meka? Aku menggeleng kemudian. Ternyata dia masih dendam pada Meka. Kalau bertemu, apa mereka akan berkelahi lagi? Setelah melihat perubahan cowok itu, aku tidak yakin siapa yang bakalan menang.


“Dorin!”


“Hei, Rin!”


“Oh ...?” Aku memperhatikan ke tiga cowok yang sudah berada di depanku entah sejak kapan.


“Apa lo nggak apa-apa?”


Aku mengangguk pelan. “Ya, aku tidak apa-apa.”


***


Saat pulang sekolah, trio serigala menyeretku ke sebuah kafe. Entah mengapa suasananya begitu mencekam apalagi Vino yang duduk di seberangku menatap tanpa berkedip dengan menyilangkan kedua tangan di depan dada. Seolah-olah, dia bersikap seperti aku sedang ketahuan berselingkuh.


ada Shiro. Oh, mereka seakan menginterogasiku.


Aku berdehem pelan. “Tidak ada. Lihat, aku baik-baik saja, kan?” Bohongku, padahal ketemu cowok itu saja


sudah membuatku merinding.


“Tidak ada yang baik jika sudah berurusan dengan Gafa,” sambung Vino dengan nada seriusnya.

__ADS_1


“Gafa? Maksudmu cowo tadi?”


“Rin, kenapa lo bisa berurusan sama preman sekolah itu?” Tatapanku beralih ke Shiro, dia tampak mengkhawatirkanku.


“Aku tidak sengaja menabraknya,” jawabku jujur. Tapi alasan utamanya bukan karena itu, sih.


“Tidak mungkin karena itu saja, kan?” Fandy mulai bertanya, seperti halnya seorang detektif.


Aku menghela napas pendek kemudian mengangkat dua jari. “Aku tidak sengaja menabraknya dua kali. Mungkin karena itu dia sangat marah.” Aku menatap trio serigala satu per satu. Jujur saja, aku tidak mau membuat mereka bertiga terlibat dalam masalahku. Terlebih lagi setelah mendengar cerita mereka tentang Gafa, preman sekolah yang memiliki tempramental buruk. Cowok yang pernah menghajar seniornya dan hampir mematahkan tangannya.


“Seriusan hanya itu?” selidik Fandy lagi.


Aku mengangguk.


“Ingat! Ketika lo berpapasan dengan dia. Lo harus menghidar.”


“Oke, aku akan mengingatnya Tuan Alpha.” Aku tersenyum. “Terima kasih atas perhatian kalian.”


Shiro tersenyum sembari menyentuh sendok yang ada di piringnya. “Mari kita makan, makanannya sudah keburu dingin.”


Aku mendengkus. “Karena siapa coba makanannya jadi dingin.”


Vino hanya berdehem mendengar perkataanku dan memulai mengaduk makanan yang ada di depannya.

__ADS_1


 


Bersambung ...


__ADS_2