
Vino berhenti lalu melepas genggamannya dari tanganku. Dia memunggungiku, seakan tidak mau memperlihatkan wajahnya itu padaku.
"Vin?" panggilku pelan.
Dia membalik, menatapku.
"Apa dia menggangu lo?"
Aku menggeleng sebagai jawaban. Kurasa bukan kata-kata itu yang ingin dia ucapkan. Seakan ada sesuatu yang ingin dia sampaikan, mungkin tertahan di tenggorokannya. Aku bukannya sok tahu, tapi aku pernah berada di posisinya.
"Sepertinya kalian itu cocok," kata Vino lagi yang tak bisa kumengerti. Jadi dia ingin menjodohkanku juga dengan Rega? Oh, ayolah! Cowok itu menyukai Karissa. Kalau tidak, ngapain dia minta nomor gadis itu?
"Kenapa kamu berkata seperti itu?!"
"Karena keluarga lo dan Rega mendukung itu. Lo nggak nyadar arah pembicaraan mereka tadi?"
"Vin, kalau kamu menyeret aku ke sini untuk membahas itu. Cukup. Mending aku kembali."
"Sorry, lagi pula ... itu bukan urusan gue, kan, kalau lo menjalin hubungan dengan siapa?" Wajah itu terlihat tenang, namun entah mengapa ada sesuatu yang tidak kumengerti di matanya.
Aku menarik napas lalu membuangnya. Melangkah duluan di depan Vino. Cowok itu pun mengikuti dari belakang.
"Dia tanya nomor Risaa sama aku," kataku entah mengapa harus menjelaskannya pada cowok ini. Padahal aku bukanlah seorang kekasih yang kepergok selingkuh dengan laki-laki lain. "Hanya itu," sambungku.
Kami berdua berjalan santai mengelilingi hotel ini lalu duduk di dekat lampu taman hotel.
"Apa yang kamu lakukan?" tanyaku saat Vino melepas jasnya.
"Pakailah!" Dia menyelimuti bahuku dengan jasnya.
Malam ini cukup dingin dan Vino cukup peka ketika diriku mengusap lengan kiriku dengan tangan kanan karena embusan angin yang membuatku sedikit merinding.
__ADS_1
"Terima kasih."
Hening. Tidak ada pembicaraan di antara kami berdua saat adegan pemberian jas barusan, membuat aku merasa canggung.
"Vin." Aku membuka suara. Memecah keheningan malam. "Semenjak di kantin waktu itu, apa kalian bertiga belum bicara satu sama lain?"
Vino menatapku, tapi tidak ada balasan. Semua orang tahu kalau trio serigala tidak sekompak seperti biasanya.
"Ada apa dengan trio serigala? Bukankah kalian tidak pernah seperti ini?"
Vino menyenderkan punggungnya di kursi. Menatap ke langit. "Ini bukan masalah yang sesederhana itu, Rin," jelasnya membuatku mengerutkan jidat.
"Boleh aku tahu, apa maksud pembicaraanmu dengan Fandy waktu di kantin itu?" tanyaku mengingat apa yang diucapkan Vino
Andaikan lo jujur sama gue. Ini semua tidak akan terjadi! Lo nggak akan bikin Dorin sakit hati, Fan!
"Apa maksudmu ... jika Fandy jujur, dia tidak akan membuatku sakit hati," jelas aku lagi, jika Vino benar-benar melupakannya.
"Kamunya aja yang bikin itu ribet!" ujarku penuh tekanan di akhir kata.
Vino mengalihkan pandang ke arahku lalu tersenyum tipis. Bisa dibilang aku terpesona sesaat.
"Rin, bukannya kita lucu?"
"Maksudmu?"
"Bukankah ini pembicaraan santai kita yang terpanjang dalam sejarah?"
Mataku menyipit. "Iya, biasanya kita perang adu mulut! Dan itu semua gara-gara kamu yang membuatku kesal. Nyebelin minta ampun!" Saking kesalnya mengingat masa lalu, tanpa sadar aku mencubit-cubit kecil lengan Vino.
Cowok itu mengaduh kesakitan kemudian disusul tawa kecil. Ini pertama kalinya kudengar suara tawanya itu. Merdu di telinga.
__ADS_1
"Habisnya wajah lo lucu saat marah," ucap Vino kemudian mengembungkan pipinya.
"VINO!" teriakku mengejar dan cowok itu menghindari pukulanku. Dia masih saja mengejekku dengan tawanya. "Akh, kenapa kamu kembali menyebalkan?!"
...***...
"Hanya segitu doang?" Tanya Meka saat diriku selesai membicarakan orang yang bernama Rega lewat telepon. Meski Meka orang yang menyebalkan, terkadang dia mau mendengarkan curhatku.
"Lalu apa lagi?" tanyaku balik. "Membalasnya dengan memberikan julukan? Atau memukul wajah tampannya itu?"
"Palingan lebih tampan gue dari dirinya," ucapan Meka membuatku ingin muntah.
"Wueeek! Ya, kamu tampan kalau dilihat dari atas menara Tokyo.
"Ketawa lu, ya! Tawa aja terus." Kudengar Meka semakin kesal. Senang bangat dah, kalau bikin si Meka oneng itu kesal. Biasanya, kan, dirinya yang membuat diriku kesal.
"Eh, Mek. Lagi pula kakek mengajarkan kita untuk memaafkan. Jadi, aku ingin pegang kata-kata itu."
"Bagaimana kalau Rissa yang meminta maaf?" sambung Meka.
Aku hanya terdiam beberapa saat. "Hmmm, aku tidak tahu. Jangan bahas dia, lagi pula aku tidak mau membicarakannya."
"Oke, oke. Bentar dulu, Mami gue manggil."
"Heh? Lagak lu manggi emak lu Mami!" cibirku lagi.
"Iri bilang, Bos!"
"Sudahlah, lagi pula telingaku juga panas mendengar suaramu itu," celetukku dengan suara keras. Biar panas itu telinga. Aku pun langsung mematikan sebelum cowok itu protes.
Aku meletakkan ponsel tersebut di sampingku. Berjalan ke arah jendela yang sudah tertutup. Kurasa, Vino juga sudah tidur. Lampu kamarnya terlihat sudah mati, digantikan lampu tidur. Aku pun menutup gorden, namun masih berdiri di sini sembari mengingat kejadian di taman hotel tadi ... Vino benar-benar bisa mengalihkan pembicaraan. Membuatku teralihkan dan tidak bisa bertanya lagi tentang permasalahnnya dengan Fandy, yang juga menyeret namaku ke dalamnya.
__ADS_1
...***...