
“Buruk!” desisku sembari menghempaskan tubuh—dengan tangan terbentang lebar di atas kasur. Saat ini pikiran dan persaanku kacau. Rasanya bercampur aduk. Dia ... dia yang membuatku jadi seperti ini. Vino ... kamu menyebalkan! pekikku dalam diam mengingat kejadian kemarin.
“Apa kamu melakukan ini karena merasa bersalah di masa lalu?” pertanyaan yang pernah kulontarkan padanya.
Vin ... kumohon jangan lakukan ini lagi. Jangan perlakukan aku dengan baik. Jangan pedulikan aku lagi, jangan pernah tersenyum di hadapanku, jangan menatapku dengan tatapan yang tidak bisa kuartikan, jangan ... aku menarik kerah baju olahraga yang kukenakan lalu menutup setengah wajahku, memejamkan mata sesaat sembari menstabilkan emosi—menghirup napas dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan dari mulut. Kumerasa ... aroma ini ... aromanya membuat pikiranku sedikit tenang.
“Bau ini ....” Mataku terbuka lebar. Wajahku tiba-tiba terasa panas. Aku baru ingat, aku masih mengenakan bajunya Vino. “Bodoh!” Dan entah kenapa aku tidak ingin melepaskannya.
***
“Terima kasih.” Aku memberikan sebuah kantung plasik yang berisikan baju olahraga yang sudah kucuci kepada Vino. Aku berpikir panjang akan hal ini, ingin mengembalikannya di sekolah atau di rumah. Setelah sekian lama berpikir, jadi aku kembalikan saja di sekolah.
“Lo masih marah sama gue, Rin?” tanyanya sembari mengambil kantung itu dari tanganku sembari menunggu jawaban.
Aku mengerutkan jidat. “Marah? Marah soal apa?” tanyaku pura-pura melupakan semuanya. Setelah berpikir dan merenungkan, wajar saja Vino bersikap sok peduli, sok baik, secara itu permintaan Mama agar dia menjagaku di sekolah. Melihat keakraban kedua orang tua kami, mana mungkin cowok itu bisa menolak permintaan Mama. Aku sadar, akunya saja yang berpikir terlalu jauh.
“Rin.”
“Sudah kubilang aku tidak marah.”
“Tapi kenapa lo ngehindarin gue?”
Aku mendongak sedikit dan menatap lurus cowok yang berdiri tak jauh di depanku. “Siapa yang menghindar?” nadaku sedikit meninggi.
Dug!
Pandangan kami bertemu.
Entah kenapa ada tusukan kecil yang menusuk jantungku kemudian itu berubah menjadi sentruman kecil yang menjalar ke seluruh tubuh ketika Vino mendekatkan diri ke arahku. Mataku sedikit melebar, jarak di antara kami cukup dekat.
“Lalu apa namanya coba ketika berbicara sama gue, lo membuang wajah. Apa itu bukan namanya menghindar?”
Seketika tubuhku mematung. Bodoh, pertanyaan itu tidak perlu kujawab! Ketika ada pria tampan berdiri di depanmu, saling memandang, membuat pikiranmu kacau, siapa yang tahan dengan kondisi demikian, ha?
Aku mundur selangkah. “Bo-bodoh! Apa kamu ingin membuat urat leherku tegang, ha?” tunjukku pada leher karena capek mendongak, kemudian kembali menurunkan pandanganku tepat pada dadanya yang bidang.
“Jadi ... apa perlu gue membungkuk sedikit?” tanya Vino membuat mataku melebar kembali ketika pandangan kami sejajar. Wajahnya begitu dekat. Aku mengerjap, kemudian refleks mendorong wajah Vino dengan telapak tanganku.
“Kamu gila?!” Aku berdecih dan meninggalan Vino seorang diri.
“Hei, Rin! Tunggu!” teriak Vino, “tuh kan, lo marah.”
Ak tidak marah. Hanya saja ... kamu membuatku terkejut dengan tindakanmu itu. Dasar Vino Bodoh!
“Kuharap dia tidak mengejarku,” gumamku sembari menoleh ke belakang tanpa memperlambat langkah kaki.
Braaak!
“A-awh!” ringisku kesakitan ketika hendak kembali menoleh ke depan. Tanpa sengaja aku menabrak seseorang. “Ouh, hidungku.” Suaraku tertahan di tenggorokan. Sakit! Benturannya cukup kuat. Wajahku mendarat pada dada bidang seorang cowok.
“Sial!” gumamku tanpa sadar ketika mendongak melihat wajah seseorang yang ada di depanku. Ini ketiga kalinya aku menabrak orang itu. Pertemuan sialan macam apalagi ini.
“Barusan lo bilang apa?!”
Aku mundur selangkah sembari menggelengkan kepala. “Tidak, bukan seperti itu.” Aku terdiam sesaat sembari menelan ludah. Tatapannya yang tajam benar-benar membuatku tertekan. “Ma-maf. A-aku benar-benar tidak sengaja.”
__ADS_1
Jidat cowok itu mengernyit, seakan memikirkan sesuatu sebelum berkata, “Ini sudah keempat kalinya lo nabrak gue!” katanya mendekatkan diri ke arahku. Tentu saja aku melangkah mundur meghindarinya.
“Tidak! Baru tiga,” protesku sembari mengangkat tiga jari.
“Oh, benarkah?” dari tatapnya dia terlihat masih berpikir sembari memasukkan satu tangan ke saku celana dan tangan lainnya menyentuh dagu yang tidak ditumbuhi rambut. Tiba-tiba tubuhku merinding saat matanya kembali menatapku. “Baru tiga? Berarti akan ada yang ke empat, kan?”
Pemikiran macam apa itu. Kalau bisa, aku tidak ingin melihat wajahmu selamanya.
“Apa lo tertarik dengan gue?”
“Haaah?” Aku melongo seketika mendengar pertanyaan konyol tersebut. Bagaimana mungkin dia berpikiran seperti itu?
Cowok bernama Gafa itu tersenyum. Senyuman yang sulit diartikan.
“Bukankah kata orang-orang, ketika seseorang bertemu dengan orang yang tidak dikenali sebanyak tiga kali secara berturut-turut bukankah itu namanya jodoh?”
Aku menyipitkan mata. Cowok ini bodoh atau apa sih. Ingin kuberteriak di telinganya itu, tentu saja kita sering bertemu, namanya juga di sekolah! Oke, entah mengapa rasa takutku hilang begitu saja karena melihat cara pikirnya.
“Tapi gue tidak tertarik dengan lo,” sambungnya dengan nada datar sembari melangkah maju. Semakin mengintimidasi.
Dan siapa juga ysng tertarik dengan lo!
Gafa tersenyum iblis. Raut wajahnya kembali mengintimidasi mangsa yang ada di depannya. Sial! Langkahku terhenti, tanpa sadar punggungku sudah merapat pada tiang koridor. Cowok ini pandai sekali menyudutkan orang.
Dadaku berdebar takut. Tubuhku serasa tenggelam di depan cowok tinggi ini. Pandanganku ke bawah saat tangan Gafa menempel kuat pada tiang koridor sekolah, tepatnya melewati batas kepalaku. Seakan menahan pergerakanku agar tidak bisa kabur.
“Mi-minggir! Apa yang kamu lakukan?”
Gafa menggoyangkan telunjukknya di depan wajahku sembari membuat decakan kecil. “Lo salah. Tapi apa yang gue inginkan.”
Kenapa menyebalkan sekali melihat karakter cowok seperti Gafa ini? Padahal aku sudah membaca komik begitu banyak dan sudah memperhatikan karakter atau tokoh-tokoh yang ada di dalam komik. Oih, kenapa karakter manusia di dunia nyata lebih menyebalkan?
“Jadi, apa yang kamu inginkan?” tanyaku menelan rasa takut. Mecoba menghilangkan getaran pada suara.
Gafa berdecak kembali sembari menggoyangkan telunjuknya di depan wajahku. “Bukan seperti itu. Jadi, apa yang kakak inginkan?” ujarnya lembut sembari mencontohkan dan itu terdengar menjijikkan.
Aku menggeleng kuat. “Kita seumuran!” protesku. Yang kutahu cowok itu kelas sebelas sama dengan trio
serigala.
Gafa membuang napas sembari meluruskan badan kemudian melipat tangan di depan dada. Tiba-tiba saja telapak tangannya yang besar sudah berada di atas kepalaku—mencengkeramnya—kemudian menariknya ke atas hingga membuat pandangan kami beradu dekat.
Gafa tersenyum dingin sembari mendekatkan wajah.
Dadaku berdegup hebat. Benar yang dikatakan trio serigala, cowok ini sangat kasar, dia tidak memandang cewek
maupun cowok. Sialan! Aku tidak bisa berkutik sedikit pun.
“Lo tidak ingat posisi lo, hum?”
Mulutku yang tadinya terkatup rapat karena menahan getaran, kini mencoba membuka suara. “Ma-maaf,” ujarku pelan. “Ja-jadi, apa yang Kakak inginkan?” Tidak punya pilihan selain mengikuti permainannya. Sedari tadi aku tidak melihat tanda-tanda kehidupan di sini. Apa semua orang sudah memasuki kelas?
“Nah, gitu dong.” Gafa menepuk-nepuk pelan pipiku dengan tangan yang satunya. Sialan! Aku mengupat dalam hati karena diperlakukan seperti anak anjing. “Jadilah cewek penurut! Cowok tidak suka dengan cewek yang keras
kepala.”
__ADS_1
Kesal. Kedua tanganku sudah terkepal kuat. Dorin, tahan! Tahan sebentar lagi. Ikuti permainannya dan ini akan berakhir. Sebisa mungkin hindari masalah dengan orang ini, dan aku juga tidak ingin menyeret trio serigala ke dalam masalahku nantinya.
Gafa menarik diri ke belakang sembari melepas cengkeramannya di atas kepalaku dengan tampang lebih serius
daripada tadi.
“Jadi, di mana cowok lo?”
“Aku tidak punya cowok,” jawabku.
“Apa dia bersekolah di sini?” tanya Gafa lagi yang membuatku jengah. Apa dia tidak mengerti kata-kata manusia yang berarti tidak? Dasar cowok menyebalkan!
“Oh, jadi kalian putus? Atau lo ninggalin dia karena telah berubah cantik?”
“Sudah kubilang aku tidak punya cowok.”
Gafa tersenyum miring dan itu membuatku menelan ludah.
“Kalau dia bukan cowok lo—” Gafa mendekatkan diri ke arahku kemudian berbisik. “tidak mungkin dia segila itu menghajar gue. Lo masih ingat, kan, kondisi gue gimana?”
Aku mendengus kesal tanpa sadar mendorong tubuh Gafa cukup kuat dengan kedua tangan. “Apa kamu masih dendam? Itu sudah lama. Lagi pula kamu duluan yang mulai menghinaku, Meka hanya marah dan kesal karena omonganmu itu. Kamu tidak ingat sudah membuat anak gadis orang menangis, HA?!” Aku berteriak dengan napas terengah. Kesal. Sekalian mengeluarkan unek-unek yang sudah lama kutahan selama berada di sekolah ini. Sekalian saja kulampiaskan pada cowok di depanku. “Seharusnya di sini kamu yang berutang maaf!”
Dengan gerakan cepat leherku sudah berada dalam cengkeraman Gafa. Aku sedikit terbatuk. “Jadi, lo bilang gue
harus melupakan cowok lo itu? Bukankah sudah gue bilang sebelumnya, gue merindukannya, hm?” Senyuman Gafa membuatku semakin merinding.
Dasar psikopat. “Akh, lepas!” kataku sembari memukul-mukul tangannya seolah tak berdaya. Saat ini pilihanku
hanya dua, mengikuti alur permainannya atau menjadi pemberontak. Aku bisa saja lepas dari cengkeraman tangannya, tapi untuk berduel dengan orang ini sepertinya aku tidak bisa melawan Gafa.
“Priiit!”
Aku menoleh ke samping ketika mendengar suara peluit Pak Satpam. Oh, terima kasih Tuhan.
“Urusan kita belum selesai,” ucap Gafa sebelum hilang dari pandanganku.
“Dor ... Dor tidak apa-apa?” suara cempreng Ela terdengar memangggil dari kejauhan. “Kenapa handphone Dor-Dor nggak aktif? Ela khawatir. Jadinya Ela turun ke bawah untuk cari Dor-Dor. Eh, Ela malah lihat Dor-Dor sama Kak Gafa. Ela takut Dor-Dor kenapa-napa, jadi Ela panggil Pak Satpam deh," ceroco Ela tidak berhenti.
Aku mengagguk pelan sembari menyentuh leherku yang terasa panas. “Ya, aku tidak apa-apa. Terima kasih.”
Di samping Ela membimbingku menuju kelas.
“Ela,” panggilku sembari menghentikan langkah. “Tentang hari ini, tolong jangan bilang ke siapa-siapa. Termasuk
trio serigala.”
“Kenapa?”
Ni anak malah tanya kenapa lagi. Bakalan ribet nantinya.
“Pleaaas, El ....”
Ela pun mengangguk kemudian dengan tampang khawatir..
Bersambung ....
__ADS_1