Dorin Tanea

Dorin Tanea
Episode 54


__ADS_3

Suara deringan keras berasal dari ponsel. Aku meraba-raba dengan mata tertutup sembari mencari ponselku yang posisinya entah di mana.


"Berisik!" gumamku sembari mematikan alarm.


...***...


"Ma, kenapa tidak bangunin Dorin?!" teriakku sembari berlari ke bawah.


"Maaf, Mama ketiduran," ujar Mama menguap sembari menutup mulut dengan punggung tangan. "Lagi pula Dorin punya alarm sendiri, kan?"


"Hah, Mama!" Aku tidak bisa mengeluh lagi. Itu salahku yang sudah mempause alarm berkali-kali.


"Aku pergi, Ma!" kataku sembari menyambar roti yang baru saja disiapkan Mama di atas piring.


Hari ini Papa ke luar kota, palingan jam sembilan nanti berangkat ke bandara di antar sama Pak Nono.


"Kenapa mobilnya, Pak?" tanyaku melihat Pak Nono sibuk sendiri.


"Ndak tahu, Neng. Mesinnya nyala lalu mati lagi, Neng."


"Jadi sekarang nggak bisa anterin Dorin?" tanyaku sembari menggigit besar roti di tanganku.


"Maaf, Neng. Sepertinya tidak bisa."


Aku mendengkus. "Yaudah. Dorin pergi sendiri saja." Aku mengambil ponsel di saku rok, mencoba memesan kendaraan online.


Aku mengerutkan jidat. "Kenapa lama sekali? Apa semuanya memesan ojek online? Nah, ini dapat."


Entah keberapa kalinya embusan napas keluar dari mulutku. "Lama!" gerutuku membatalkan pesanan, butuh 15 menit untuk menjemputku. "Yasudah, naik bus saja."


...***...


Aku melirik jam tangan pada pergelangan tangan. "Hah, aku lupa membawanya," keluhku karena buru-buru jadinya ketinggalan.


Ini salahmu! Aku melempar pandang ke luar jendela yang terbuka. Embusan angin menerpa wajahku dan menerbangkan rambut kecoklatanku yang terurai.


Oh, bukan.

__ADS_1


Ini salahku. Kenapa aku terlalu memikirkan ucapan Vino?


Ah, karena cowok itu aku tidak bisa tidur nyenyak apalagi sampai memimpikannya. Memikirkan bagaimana sikap Vino yang dingin dan tidak memedulikanku lagi.


Aku menepuk pipi dengan kedua tangan. "Itu bagus!" kataku menguatkan hati sembari berdiri karena bus baru saja berhenti di halte.


Aku menghela napas panjang--melihat gerbang sekolah yang sudah tertutup rapat dari kejauhan. Orang-orang pun tidak ada yang berkeliaran di luar sekolah. Hanya diriku seorang yang terlambat.


"Sial!" keluhku sambil mengambil jalan bagian belakang gedung sekolah. "Kuharap sekali ini saja aku melakukan hal bodoh ini," kataku sembari melempar tas di balik pagar dinding. Bersiap-siap melompat. Aku mundur beberapa langkah, mengambil posisi, kemudian berlari dan melompat dengan memijakkan kaki ke dinding pagar. Dengan cepat tanganku meraih puncak pagar tersebut--mendorong tubuhku untuk naik.


Keseimbangangku goyah. "Wow!" Pandangku melihat ke bawah . Ternyata cukup tinggi juga .


"Rin, apa yang lo lakukan?!" teriak seseorang membuatku melihat ke sumber suara. Orang itu mendekat dan berdiri di depanku. Kepalanya mendongak habis.


"Eh, Vino. Jangan berisik!" kataku setengah berbisik sembari menempelkan jari telunjuk menempel di bibir kemudian memperhatikan sekitar. Untung tidak ada guru dan orang-orang.


"Balik! Balik nggak!" Dia memutarkan telunjuknya. Semua orang tahu kalau bagian dalam sekolah pagarnya kelihatan tinggi dibandingkan di luar.


"Sssttt! Bisa diam nggak?!" Aku memelototinya.


"Aku sudah telat, jadi minggir sana! Aku mau lompat!"


"Kalo lo nggak nurut. Gue panggil guru piket!" tunjuk Vino lurus ke arahku dengan wajahnya yang tegas.


Aku menggeram kesal sembari meremas kepalan tangan. "Awas saja kalau aku sampai ketahuan," balasku sambil mengangkat tinju.


Priiit ... Priiit ....


"Sial!" gumamku melihat Pak Satpam yang baru saja membunyikan peluit kemudian disusul guru piket.


"Sial lu, Vin!"


"Apa yang kamu lakukan di sana?!" seru Bu Guru dengan wajah kaget ketika sudah mendekat.


Aku menutup wajah dengan satu tangan. Malu. Seumur-umur baru kali ini aku melakukan hal yang memalukan seperti ini di depan guru, kepergok pula lagi memanjat pagar sekolah.


"SETOP! Kamu setop di sana dan jangan bergerak. Vino, tolong ibu ambilkan tangga," kata Bu Guru memerintahku untuk diam di tempat dan menyuruh Vino Virgo ke gudang untuk mengambilkan tangga.

__ADS_1


Setelah berada di bawah Vino berkata, "Lo nekat ya." Vino mengusap sisi jidatnya yang tampak berkeringat. Lalu dia memberikan tas yang kulempar tadi ke tanganku.


...***...


"Yang semangat!" ujar Vino sembari mengangkat tinjunya ke atas.


Aku berdiri lalu mengentakkan kaki ke tanah--memukul lengannya berkali-kali. "Ini gara-gara kamu!"


"Aw, sakit!" keluhnya mengusap lengannya.


"Andai kamu tadi diam, aku nggak bakal ketahuan Bu Guru!" geramku. Gara-gara dia aku dapat hukuman membersihkan taman sekolah. Malah panas lagi.


Cowok tinggi itu hanya tertawa menghindariku. Seketika ... waktu serasa berhenti berdetak, sekelilingku rasanya membeku. Kini pandangaku hanya tertuju pada wajah Vino yang tersenyum.


Tersadar. Aku menggeleng kemudian. Apa yang kupikirkan? Apa yang kamu harapkan Dorin?


"Hei, jangan lari! Sini kamu Vin!"


"Habis lo aneh-aneh aja, mana ada cewek manjat pagar. Lo monyet, ha?"


"Akh, menyebalkan." Aku berhenti. Melipat tangan di dada--membuang wajah ke samping.


"Oke, oke. Gue minta maaf." Vino mendekat. "Gue nggak mau lo kenapa-napa, Rin."


Aku diam tanpa menoleh ke arahnya, namun suaranya barusan membuat hatiku luluh. Seakan melupakan masalah kemarin.


"Lain kali kalau lo butuh bantuan gue, gue bisa kok membukakan pintu gerbang tanpa lo manjat pagar." Vino membungkukkan sedikit badan dan itu membuatku merespon melihat ke arahnya. "Oke?" sambungnya sembari meletakkan telapak tangannya yang besar di atas kepalaku.


Aku terpaku beberapa detik. Senyuman itu ... membuat dadaku berdebar lebih cepat.


"Apaan sih!" Aku menepis tangan Vino yang bertengger di atas kepalaku dan mundur selangkah. "Masuk kelas sana. Aku mau menyelesaikan ini."


"Oke, oke. Sekarang gue masuk. Tapi ingat! Jangan melakukan hal yang berbahaya lagi!" Entah mengapa hari ini dia cerewet sekali. Vino pamit, kemudian kembali ke kelasnya.


Aku menyipitkan mata menatap punggungnya yang menjauh. Terima kasih, tapi bukankah kamu bilang kemarin untuk berhenti menjagaku?


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2