
"Dor-Dor!" Suara gadis itu terdengar dari arah luar, mungkin sebelum masuk dia mengintip di jendela kelas. Ela berteriak lagi memanggil namaku. Sekarang wajahnya terlihat lebih fresh dibandingkan dua hari lalu yang seperti mayat hidup. "Dor-Dor kangen Ela, nggak?"
Aku membalas menggeleng.
"Bohong, pasti Dorin kangen Ela."
Aku mendorong kepalanya dengan telapak tangan hingga wajahnya menjauh.
"Masa cuma Ela yang kangen Dor-Dor?" keluhnya menggerutu sembari memanyunkan bibir mungilnya. Ela pun duduk di sampingku.
"Dor-Dor, lihat catatan kemarin, dong." Belum juga lima menit dia berada di lokal ini, namun suaranya itu sudah berisik. Membuat telingaku sakit.
"Ini. Tapi perlakukan dengan baik!" kataku, "tidak ada lipatan, tidak--"
"Tidak boleh basah dan kotor," sambung Ela mengingat semua persyaratan yang kuajukan. Kemudian Ela tertawa setelah itu.
Aku pun memberikan catatanku pada Ela, katanya catatanku mudah dimengerti dari teman-teman lainnya. Karena itu Ela suka meminjam catatanku dan membawanya pulang.
Kalau soal meminjamkan barang, aku memang tidak pelit dari dulu, tapi karena sering dikembalikan rusak, makanya kali ini aku membuat peraturan yang lebih ketat.
"Aku mau ke tempat Nora dulu," ujarnya setelah memasukkan bukuku ke dalam tasnya.
__ADS_1
Kulihat Ela dan Nora berbincang. Gadis itu memberikan pertanyaan yang sama pada Nora kemudian dia tertawa setelah membisikkan sesuatu. Feeling-ku berkata Ela sedang membicarakanku.
Nora melirikku sekilas kemudian kembali memandang Ela. Semenjak kemarin, semenjak dia tahu aku menyukai Fandy, entah mengapa aku merasakan sesuatu yang berbeda dari tatapannya. Terlebih lagi Fandy dekat denganku.
Apa Nora cemburu padaku?
Sekarang, aku tidak memiliki perasaan yang lebih terhadap Fandy, tapi sikap perhatiannya kemarin ... membuatku bimbang.
Aku menepuk pipiku secara bersamaan dengan kedua tangan. Dorin, bangunlah! Lupakan masa lalumu! Lupakan perasaanmu, fokus pada pelajaran.
"Dor-Dor kenapa?"
"Hah?" Aku menggeleng. "Tidak. Tidak kenapa-napa?"
Aku melewati kelas trio serigala yang kosong, saat ini mereka sedang dalam pelajaran olahraga. Yang aku suka dari sekolah ini adalah, tempat ini memiliki lapangan olahraga khusus. Ya, bisa dibilang saat di kampung dulu kami tidak memiliki lapangan seperti di sini, di mana ada lapangan basket, voli, takraw, badminton, dan lapangan futsal yang ada di dalam gedung. Dan tidak heran jika sekolah ini selalu memenangkan pertandingan dalam bidang olahraga.
Aku melangkah cepat pergi ke toilet, ini sudah di ujung tanduk, aku sudah tidak bisa menahannya lagi.
"Apa terjadi sesuatu dengan trio serigala?"
Di dalam bilik toilet, aku mendengar mereka membicarakan trio serigala. Mendengar nama itu, etah mengapa aku sedikit tertarik untuk menguping dan betah berlama-lama di sini. Tenang, toilet ini tidak bau, karena ada parfum menempel di dinding yang menyemprot secara otomatis.
__ADS_1
"Sepertinya begitu." Suara yang lain membalas. "Di kelas mereka hanya diam, tidak seperti biasanya yang saling mengobrol."
"Apa masalah cewek?"
Cewek? Aku pun mengangkat bahu. Sebenarnya aku juga penasaran kenapa Vino tiba-tiba pergi begitu saja kemarin dan meninggalkan pertanyaan di benakku.
Andaikan lo jujur sama gue. Ini semua tidak akan terjadi! Lo nggak akan bikin Dorin sakit hati, Fan!
Kata-kata itu, apa maksudnya? Apa karena Fandy membahas tentang Karissa kemarin?
Aku menggeleng kemudian, berpikir sejenak untuk tidak bertanya pada mereka berdua apa yang terjadi.
"Entahlah, tapi yang kutahu hanya Fandy yang berpacaran. Vino dan Shiro masih jomblo. Apa mereka berdua tertarik dengan Friska? Secara, kan, Friska juga sering nongkrong dengan trio serigala."
"Hah, serius loh? Lebih cantikan gue daripada dia! Cewek gatel itu hanya modal uangnya saja."
Saat gadis itu berkata demikian, aku bisa membayangkan kalau dia berkata sambil menyibakkan rambut panjangnya ke belakang.
Brak!
Aku mendengar suara keras dari luar. Suara pintu yang di banting kuat.
__ADS_1
"Ka-Kak Friska?"
Friska? Dia datang di saat yang tidak tepat. Kuyakin kedua gadis yang ada di luar sana wajahnya pucat. Lebih baik aku berdiam di sini sebentar lagi, kalau guru bertanya nantinya, mungkin aku bisa memberikan alasan perutku sedang tidak enak.