Dorin Tanea

Dorin Tanea
Episode 30 (Fandy)


__ADS_3

Libur. Biasanya hari ini gue nongkrong bareng  sama Vino dan juga Shiro. Tapi semenjak kejadian di kantin, kami belum berbicara satu sama lain. Sama sekali gue nggak mengerti apa yang dimaksud Vino.


Jujur ... tapi jujur masalah apa?


"Hah!" Gue bangkit dari kasur. Rebahan sambil bermain game membuat gue lelah. Kalah mulu dari tadi, tidak fokus gue. Baru saja meletakkan handphone di atas meja belajar, benda itu sudah berdering. Tertera nama Friska di layar. Gue pun malas mengangkatnya. Sekarang ini, gue merasa kesal entah sama siapa? Kedua sahabat gue yang menjauh atau Dorin yang bersikap kasar sama Friska?


Gue menggaruk kepala kasar dengan kedua tangan. Melihat kiriman foto itu membuat gue tidak percaya apa yang dilakukan Dorin pada Friska. Tapi ... gadis itu juga pernah melukai tangan Vino, kan?


Gue beralih mengusap wajah dengan kasar. Menyakinkan diri, bahwasanya waktu itu Vino sudah sangat keterlaluan bercandanya. Pantas saja, kan, Dorin marah besar? Tidak ada orang yang suka dibandingkan, apalagi dikatakan anak pungut.


Ah, bukannya gue membela Dorin di sini. Tapi gue hanya kesal karena dia tidak mempercayai gue. Padahal sudah gue bilang, Friska tidak mungkin melakukan hal keji itu. Menyebar Foto Dorin dan membuat gosip murahan.


"Maafin gue, Rin," kata gue tanpa sadar mengingat ekspresi kekecewaan di wajahnya kemarin. Sebenarnya gue tidak bermaksud menyeretnya dengan kasar. Gue hanya kesal karena dirinya yang jauh berubah. Maksud gue bukan badannya, tapi sikapnya itu.


Ponsel di atas meja masih berbunyi. Terpaksa gue mengangkatnya. Kalau tidak, Friska asti akan ngambek. "Hallo, Fris."


Terdengar suara helaan napas di seberang sana. Gue rasa dia masih marah atau cemburu mendendengar gosip entah apa.

__ADS_1


"Hallo, Honey. Ada apa?" tanya gue segera mengubah kata panggilan.


"Beb, main ke rumah dong," katanya membujuk gue mampir ke sana. Dan, sudah lama juga sih, gue nggak main ke rumah Friska.


"Oke, Honey. Tunggu gue di sana, ya."


Secepat kilat gue menyambar handuk dan meluncur ke kamar mandi karena dari pagi gue belum mandi hany mencuci wajah dan menggosok gigi.


...***...


Kalau dipikir lagi, kali ini gue menjalin hubungan dengan seorang gadis yang pada akhirnya menjadi musuh Dorin. Hah, kenapa selalu saja begitu?


Hubungan gue berakhir dengan Karissa setelah dia mengatakan alasan kenapa Dorin pindah sekolah. Bukan hanya itu saja pokok permasalahannya. Dino, lelaki sialan itu hanya beerpura-pura menjadi pacarnya Dorin hanya untuk memanfaatkannya. Kalau gue berada diposisi Dorin, gue juga bakalan kesal lah.


Jujur, waktu itu gue nembak Friska karena ingin dekat dengan Dorin, ya, meski pada akhirnya gue melukai perasaannya.


Lo bisa bilang gue bodoh. Gue sendiri juga tidak tahu ini perasaan apa. Yang jelas, gue hanya suka berada di dekatnya. Gue juga sudah lama tahu kalau gadis itu memperhatikan gue di Sekolah Dasar dulu, dan gue berpura-pura tidak tahu kalau Dorin curi-curi pandangan ke arah gue.

__ADS_1


Juga, gue hanya ingin menjaga perasaan Vino dengan tidak menceritakan kejadian itu padanya kalau Dorin nembak gue. Meski Vino tidak bilang, gue tahu kalau alpha dominan itu menyukai Dorin. Gue bilang si Vino Alpha, karena anak-anak di sekolah memberi julukan itu padanya. Hanya saja, gue tidak mengungkitnya karena, gue takut dia malah memberi jarak sama Dorin atau malah lebih membully Dorin dengan mulut busuknya itu.


Kedua, hubungan gue terjebak dengan Friska karena saat itu gue tidak bisa menolak perintah senior waktu MOS. Lo tahu apa yang mereka suruh? Si Devin ****** itu memberikan hukuman sama gue untuk menembak Friska. Gadis yang katanya terpopuler di sekolah.


Sebelumnya sudah banyak anak-anak yang ditolak Friska. Mereka yang ditolak, hukumannya akan berlanjut terjun ke kubangan yang sudah dipersiapkan senior.


Nah, karena gue cowok sejati, tentunya gue menjalankan hukuman tersebut. Ini sudah takdir atau gimana, gue juga nggak tahu, Si Friska malah nemerima gue setelah menolak puluhan cowok yang diperintahkan Devin untuk menembak gadis itu.


Semua senior terkejut, mungkin itu tidak sesuai dengan skenario yang mereka buat untuk mengerjai juniornya. Friska nerima gue, dan gue selamat dari kubangan. Tentunya, si Devin ****** itu merasa kesal karena gue liat dari raut wajahnya, mungkin dia jatuh hati pada Friska.


Setelah MOS selesai, gue pikir hubungan gue dan Friska akan berakhir. Tapi kenyataannya, kami masih berpacaran sampai sekarang.


Friska, gadis itu orangnya pencemburuan. Selalu saja cemberut kalau gue dekat-dekat dengan gadis lain. Bilang gue playboy-lah. Sial! Seakan julukan itu sudah melekat di darah daging, gue juga tidak tahu siapa yang membuat gosip seperti itu.


Bersambung ....


...***...

__ADS_1


Teman-teman, terima kasih sudah membaca Dorin Tanea. Jangan lupa ninggalin jejak, ya, like, koment, dan vote juga. 😀


Terima kasih.


__ADS_2