
Seperti biasa, kalau otak gue lagi suntuk atau bad mood, gue pergi ke bascamp bertemu anak-anak. Berada di rumah membuat gue semakin stres apalagi bertemu anak babu sialan itu. Kepala gue mau pecah hanya melihat wajahnya.
"Gue pikir lo nggak datang." Suara Devin menyambut gue di anak tangga bawah. Tempat ini berlantai dua, biasanya gue nongkrong di atas sambil menyaksikan anak-anak lain bermain skateboard pada cekungan yang diameternya tidak terlalu besar. Lumayanlah membuat mereka asyik.
Sesampainya di atas, gue duduk pada bangku panjang dengan kaki menjuntai ke bawah, menghadap ke arah anak-anak yang sedang bermain skateboard. Awalnya agak ngeri juga duduk di ketinggian ini, namun lama-kelamaan jadi terbiasa."Thanks," ujar gue menerima minuman kaleng dari Devin.
Devin mengambil kembali minuman itu dari tangan gue. "Biar gue buka," katanya.
Gue menenggak minuman tersebut. Rasanya tenggorokan gue yang kering terasa segar.
Kepala gue perlahan menengok ke samping. Memperhatikan wajah Devin dari sisi samping. Hidungnya yang mancung, bulu mata yang tidak terlalu panjang, dan wajahnya bersih tanpa bintik hitam ... bisa dibilang rasa itu masih ada, meski sedikit.
Kenangan singkat bersama Devin pun terlintas di benak gue.
"Fris?"
Gue pun langsung memalingkan wajah ke depan saat Devin menolehkan kepalanya ke arah gue.
Gue melipat bibir, menahan sesuatu yang berkaca-kaca di mata.
"Lo nangis?" Suara Devin yang lembut membuat dinding batu yang gue bangun untuknya perlahan terkikis. Padahal gue sudah pernah berjanji pada diri sendiri untuk tidak lagi menerima kebaikan Devin. Entah mengapa kebaikan itu membuat gue sakit. Kebaikan yang diriberikan membuatku gue semakin berharap adanya sedikit harapan untuk gue, tapi gue sadar, Devin bukanlah Fandy yang tahan dengan satu orang wanita. Dan gue benci dirinya yang seperti itu.
"Lo masih mengharapkan si brengsek itu?"
__ADS_1
"Dia tidak brengsek!" celetuk gue tidak suka Fandy dikatain.
"Lalu apa? Dia ninggalin lo karena Miss Ball itu!"
Gue hanya bisa bergumam dalam hati, gue tahu gue bukan gadis yang baik, juga emosian, tapi Devin masih saja setia di sisi gue. Tidak sekali-dua kali gue memarahinya, gue pun pernah bilang dia bodoh, tapi tetap saja dia masih peduli.
"Dev, gue nggak mau bahas masalah itu lagi. Gue ke sini mau nenangin otak. Paham kan, lo?" Suara gue meninggi. Semenjak gue ngebuang perasaan terhadap Devin, gue memang selalu meninggikan nada padanya. Entah mengapa dia masih betah berada di sisi gue sampai saat ini.
Gue mengembuskan napas sembari menatap ke bawah, kembali memerhatikan anak-anak yang sedang asyik dengan skateboard-nya. Tatapan gue ke bawah, namun pikiran gue melayang mengingat Fandy, tepatnya dua tahun lalu, saat pertama kali bertemu dengan cowok yang umurnya satu tahun di bawah gue. Jujur, saat itu gue langsung suka karena dia ngingatin gue sama ...
"Gue peduli, Fris, lo sahabat gue. Kalau lo nggak ngelarang gue. Sudah habis itu bocah!"
Gue langsung menoleh dengan mata membesar. "Dev, gue peringatkan sekali lagi sama lo, ya. Jangan pernah menyentuh atau melukai Fandy sedikit pun! Kalo tidak, jangan anggap gue sahabat lo lagi."
Gue tidak menahannya dan tidak berkata apa pun.
Ya, lo memang sahabat gue dari kecil, sekaligus cowok yang gue suka dulunya. Tapi setelah bertemu Fandy, perasaan gue sama lo perlahan terkikis.
Sejujurnya, saat pertama kali bertemu Fandy, gue menemukan sosok Devin pada diri cowok itu. Dia membuat gue nyaman, memperlakukan gue dengan baik. Meski rumor yang mengatakan Fandy playboy, tapi kenyataan yang gue tahu, dia tipe cowok yang setia dengan pasangannya.
"Arrrgh! Gue enggak bisa ninggalin lo sendirian di sini. Kalau lo sampai jatuh, gue yang bakalan dibunuh sama bokap lo!" ujar Devin tanpa menoleh, kembali mendaratkan bokongnya di bangku, namun dia memberi jarak lumayan lebar antara gue dan dirinya.
Gue tersenyum tipis. Meski dilihat dari samping, kerutan di wajahnya masih bisa terlihat.
__ADS_1
"Apa ini?"
Gue menoleh ke belakang karena sudah lama tidak mendengar suara orang itu. "Gafa?"
"Tumben lo ke sini?" sambung Devin ikut membalikkan badan.
"Kenapa ini ada di sini?" tanya Gafa mengangkat dan menggerakkan kertas yang ada di tangannya. Wajahnya sudah terlihat masam ketika sampai di sini. Melihat reaksi gue yang bingung, Gafa pun membalikkan lembaran kertas tersebut ke arah gue. Di sana terpampang wajah cewek yang gue benci.
"Kenapa, apa lo mengenalnya?" tanya gue penasaran. Gue tidak heran lagi kalau Gafa tidak mengetahui apa pun gosip yang beredar di sekolah. Cowok satu ini orangnya memang tidak peka dan tidak pernah peduli dengan lingkungan sekitar.
Gafa mendengkus. "Kenapa lo malah balik tanya? Jadi, lo kenal kagak cewek gendut ini?"
"Lo bisa nggak bicara sedikit lembut ke cewek?" sambar Devin, namun perkataan Devin dihiraukan. Gafa malah kembali menatap gue, menunggu jawaban. Gue juga penasaran kenapa Gafa menanyakan si cewek oplas itu.
"Tentu gue kenal. Dia yang membuat gue putus sama Fandy."
"Jadi cewek gendut ini bersekolah di tempat kita?"
Devin mengangguk. "Ya, dia anak kelas sepuluh dan sekarang dia bukan cewek gendut seperti yang ada di kertas itu lagi."
"Lo ke mana saja sih, Gaf!" Gue pun menceritakan semua kejadian yang terjadi pada Gafa serta menunjukkan foto cewek oplas itu padanya.
Bersambung ....
__ADS_1