Dorin Tanea

Dorin Tanea
Episode 39


__ADS_3

"Password-nya?"


Kalau aku tidak memberitahukan password-nya pada cowok itu, dia mengancam akan menghancurkan ponselku. Devin terlihat sungguh-sungguh.


"Apa kalian ini suruhan Friska?" tanyaku dengan nada biasa. Kalau bukan dia, siapa lagi? Karena aku memiliki bukti tindak kejahatan Mak Lampir itu.


"Aku tidak akan bertanya untuk kedua kalinya," serunya dengan wajah serius. Dengan tipikalnya yang seperti itu, aku percaya saja dia akan melakukannya. Dan, aku belum menyelesaikan semua tontonan yang sudah kudownload!


"555555."


Devin menatapku, menaikkan satu alis, seakan tidak percaya, namun kuyakin jemarinya memencet angka tersebut.


"Lepas!" ucapku pada orang yang berada di kedua sisiku--masih menahan kedua lenganku. "Bukankah kalian sudah menemukan yang kalian cari?" tanyaku melihat ekspresi Devin yang mungkin saja sudah menemukan rekaman itu dan menghapusnya.


Devin tiba-tiba menggerakkan kepalanya sedikit dan memberikan kode pada kedua temannya--menyeretku menuju gudang yang pintunya sudah terbuka.


"Jika kalian tidak mau melepaskan, aku akan berteriak sekuatnya!" ancamku dan dua orang yang menyeretku menghentikan langkah.


Devin pun yang memimpin di depan berhenti kemudian membalikkan badan. Dia tersenyum iblis. "Lo pikir masih ada orang yang datang ke sini, ha?" Jam segini orang-orang sudah pada pulang."


Sial! Percuma saja aku bicara dengan para berandalan itu.


"Bawa dia masuk!" perintah Devin kemudian.


Aku memejamkan mata sejenak, menghirup napas pendek, lalu membuangnya. Baiklah. Aku tidak perlu menutup diri lagi. Tidak perlu menahan diri lagi, tanganku sudah terkepal kuat.


"Jika itu yang kalian inginkan," ujarku sembari menahan tubuh lalu menginjak--menendang salah satu kaki cowok yang berada di sisi kananku. Dia pun mengerang kesakitan. Kunciannya pun terlepas pada lenganku, dengan gerakan cepat aku beralih melepaskan diri dari lelaki satunya.


Devin mengupat pada kedua temannya setelah mulutnya terbuka beberapa saat yang lalu, mungkin itu bisa dibilang ekspresi keterkejutan.


"Bodoh, berdiri!" serunya melihat kedua orang temannya itu sudah berhasil kujatuhkan dengan cepat.


Melihat Devin yang menyerang ke arahku, aku langsung memberikan tendangan di perutnya. Badannya merunduk dengan tangan memegangi perut, dia terbatuk. Kurasa itu cukup memberi peringatan untuknya.


"Jangan pernah membangunkan singa yang tidur," gumamku seraya mengambil ponselku yang terjatuh di dekat kaki Devin. "Aisssh! Kalau saja ponselku rusak, aku tidak akan memaafkanmu." Kulihat handphone-ku mati setelah jatuh ke tanah. Bagian sudut ponselku sedikit lecet.


Aku segera pergi dari tempat ini, Shiro dan Ela mungkin sudah lama menungguku di gerbang.


Tadinya, aku berencana mengambil buku pelajaranku di loker, tapi tiba-tiba saja ketiga berandalan itu menghadangku, lalu menyeretku ke gudang belakang.


"Kenapa Dor-Dor lama sekali?" tanya Ela yang kemudian disambut Shiro ...

__ADS_1


"Gue mau nyusul lo ke dalam, Rin. Tidak terjadi sesuatu, kan?"


Aku menggeleng. Lagi pula aku sudah membereskannya. Ah, tapi untuk selanjutnya ... aku tidak tahu bagaimana dengan nasibku.


Bodoh! Bagaimana mungkin aku bisa berurusan dengan anak kelas dua belas?


...***...


Kami bertiga akhirnya sampai juga di toko hewan yang dijanjikan Shiro. Ela sibuk melihat-lihat kucing berbagai ras. Wajah gadis itu tiba-tiba berubah sedih, padahal baru beberapa detik yang lalu dia sangat gembira.


"Ada apa?" tanya Shiro yang tadinya berdiri di tempatku yang kini sudah berada di tempat adiknya.


"Dia mirip Shiro." Tunjuk Ela pada anak kucing putih.


Shiro berdehem sembari mengilangkan kedua tangannya di depan wajah. "Sama sekali tidak. Gue lebih tampan dan manis dari kucing itu!" protesnya kemudian dia pun tertawa karena melihat sang adik mengerutkan wajah. "Dedek mau itu?" katanya lagi dengan nada lembut.


Ela pun menoleh ke arahku, mungkin dia ingin meminta pendapatku. "Ya, kucing itu lucu."


"Jadi Dor-Dor juga suka?"


Aku mengangguk. Ela pun setuju mengambil kucing itu.


"Tapi dengan satu syarat!" Shiro bersuara sembari mengacungkan telunjuk. "Jangan beri nama Shiro lagi. Gue nggak mau disamakan sama kucing. Masa satu rumah ngatain gue kucing?"


Ela mengerutkan bibir. "Baiklah." Suaranya melemah. "Bagaimana kalau Do--"


"Tidak. Aku tidak mengizinkan namaku dipakai untuk makhluk kecil itu!" Cegatku sembari mengangkat tangan.


Ela mendekat ke arahku. "Bagaimana kalau Dodo?"


Aku menggeleng seraya melipat tangan di depan dada. "Tidak ada kata Do maupun yang lainnya yang berhubungan dengan namaku."


Ela mendesah kecewa. "Hmmm, baiklah. Nanti Ela pikirin lagi nama yang cocok untuknya," ujarnya mengelus kepala kucing itu.


"Apa lo mau pelihara satu, Rin?" tanya Shiro mengangkat anak kucing jenis persia ke arahku. Aku pun menggeleng sebagai jawaban. Takutnya nanti tidak terurus.


Setelah kami ke luar dari toko hewan, Shiro mengajak aku dan Ela ke sebuah kafe yang ada di seberang jalan toko ini. Aku tidak bisa menolak karena Ela terus saja memaksa.


Aku melirik jam tangan yang ada di pergelangan tangan. Sekarang menunjukkan jam lima sore dan aku belum memberi kabar bahwasanya akan telat pulang ke rumah. Ponselku mati gara-gara si Devin sialan itu.


"Tenaglah, Rin. Nanti aku akan mengantarmu pulang," ucap Shiro, mungkin dia lupa kalau sekarang ini kita bersama adiknya.

__ADS_1


Saat berangkat ke toko hewan, aku dan Ela naik taksi, sedangkan Shiro dengan motornya. Dia mengiringi kami dari belakang hingga sampai di tempat tujuan.


"Tidak apa, aku naik taksi aja nanti," jawabku.


"Permisi." Pesanan kami pun datang. Pelayan kafe meletakkan satu mangkuk es krim, masing-masing di depan kami.


Ela tersenyum gembira melihat mangkuknya yang berisikan eskrim rasa stoberi campur cokelat. Shiro pun memesan yang sama, sedangkan aku memilih rasa green tea campur vanila.


"Selera lo udah berubah, ya, Rin?" tanya Shiro dan aku mengangguk sembari menyendok eskrim ke mulut. Dingin. Sekaligus mengagetkan jantungku saat menelannya. "Dulu lo suka cokelat, kan?" sambung Shiro.


"Saat di kampung dulu, aku sering mengkonsumsi green tea. Jadi, mungkin sudah menjadi kebiasaan," aku tersenyum, "lidahku sudah terbiasa dengan rasa ini."


Ela mencoba dengan menyendok punyaku, Mata Ela mengerut ketika es krim itu masuk ke mulutnya. "Week, kagak enak," kometarnya sembari menyendok besar es krim miliknya. Mencoba menyegarkan indera perasanya.


Tak berapa lama ...


"Terima kasih," kataku pada Shiro yang membayar tagihan di kasir. Aku berdiri di sampingnya, karena dirinya menolak aku membayar punyaku sendiri. Katanya, hari ini dia yang mentraktir.


"Gue yang berterima kasih, berkat lo adek gue nggak sedih lagi." Shiro tersenyum lembut. "Kapan-kapan mau ke tempat ini lagi ... hanya kita berdua ...."


...***...


"Rin!" Terdengar seseorang memanggil dari rumah sebelah. Tanganku pun terhenti ketika hendak membuka pagar rumahku.


"Vin?" Aku menoleh pada cowok yang sudah berdiri di sampingku.


"Kemana saja lo?" Suaranya meninggi. Dahinya tampak berkeringat, dia masih mengenakan seragam sekolah. Dadanya naik turun seperti orang yang habis berlari.


"Aku--"


"Lo lihat jam berapa sekarang?" katanya seraya mengangkat pergelangan tangannya. "Kenapa HP lo tidak bisa dihubungi, ha?"


"Aku--"


Dengan cepat Vino meraih lenganku--menarik tubuhku ke arahnya. Mataku melebar seketika. "Syukurlah lo ngak kenapa-napa," bisik Vino di telingaku. Itu membuat jantungku berdetak sangat cepat.


Kenapa kamu membuatku goyah dengan prinsipku, Vin?


Padahal aku sudah berkata pada diri sendiri untuk tidak memikirkan cowok mana pun, termasuk kamu.


Bersambung ...

__ADS_1


...***...


__ADS_2