Dorin Tanea

Dorin Tanea
Episode 50


__ADS_3

    Setiap melangkah melewati orang-orang ... terasa hening sekejap. Aku memperlambat langkah, tak begitu jauh dari mereka, sekelompok gadis yang kutemui di lorong, maupun duduk di taman depan kelas kembali berbisik. Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan, namun perasaanku mengatakan, mereka sedang membicarakanku.


    Tidak peduli, aku pun melangkah gontai menaiki tangga, menuju kelasku yang berada di lantai dua.


    “Eh ....” Baru saja sampai di tempat, Ela langsung menarik lenganku, lalu berbisik. “Ela denger, Kak Fris putus, ya, sama Kak Fandy?”


    Aku menghela napas lalu mengangkat bahu, yang berarti aku tidak peduli. Hah! Aku tahu itu, masalah ini tentu saja bakalan muncul ke udara.


    Ela mengerutkan kening sembari mengembungkan pipi. “Jadi, Dor-Dor nggak tahu?” Kemudian dia berdiri dari bangkunya sembari berkacak pinggang—menatap sekitar. “Kan, apa yang Ela bilang!” teriaknya dengan suara lantang, “Dor-Dor enggak mungkin merebut Kak Fandy dari Kak Fris. Jadi, kalian semua jangan gosipin Dor-Dor yang tidak-tidak!”


    Aku menarik tangan Ela untuk kembali duduk.


    “Duduk dan diamlah!”


    “Tapi, Dor-Dor ....” Ela memanyunkan bibirnya saetelah aku meletakkan telunjuk di depan bibir. Tak lama setelah itu Bu Guru masuk dan menempati kursinya, pelajaran pun dimulai.


***


    “Apa terjadi sesuatu?” Fandy menoleh ke arahku setelah melirik ke Vino. “Kenapa gue merasa ada aura yang beda gitu, ya? Apa kalian berdua ada masalah?” Pertanyaan itu ditujukan untukku dan juga Vino.


    Aku hanya menatap datar. Kalau mau ingin membahas aura, aura yang kental di kantin ini adalah dirimu, Fan. Apa kamu tidak merasa orang-orang menatap ke arah sini? Hei, kamu itu baru saja putus dengan Friska dan target kebencian mereka itu adalah aku!


    Oih, kenapa kalian bertiga malah duduk di sini? Lagi pula aku malas bertemu cowok itu, Vino Virgo.


    Tak kunjung mendapat jawaban dariku, Fandy malah menggangu Ela. “Kak Fandy, kenapa punya Ela diambil?” Gadis itu pun memukul-mukul tangan cowok yang duduk di seberangnya. Dia memang senang mengganggu Ela.


    “Bagi dikit! Dasar pelit.”


    “Weee, biarain!” Ela menjauhkan piringnya dari jangkauan Fandy. Padahal meja ini sudah sempit, eh, mereka berdua malah bercanda.


    Deg! Pandangan kamibertemu, entah berapa lama cowok yang duduk tepat di depanku ini memandangku. Sedari tadi aku memilih mengabaikannnya, malah lebih asyik memperhatikan tingkah Fandy dan Ela, sedangkan Nora yang duduk di samping kiriku hanya diam seperti biasanya, jadi posisinya itu aku berada di tengah, diapit oleh gadis pendiam dan juga cerewet.


    “Rin,” panggil Shiro mengalihkan pandangku ke arahnya.


    “Hum?”


    “Lo oke?”


    Aku sempat mencerna ucapan Shiro—mengangguk kemudian. Dari ketiga cowok itu, kurasa Shiro-lah yang paling ter-update masalah yang ada di sekolah ini.

__ADS_1


    “Oh, iya ... Ela denger, Kak Fandy putus, ya, sama Kak Fris. Apa itu benar, Kak?”


    “Begitulah,” jawab Fandy santai sembari mengunyah makanannya.


    Ela manggut-manggut sembari menyuap makanannya. “Oh, baguslah. Ela juga enggak suka sama dia. Dia suka jahatin Dor-Dor dan Nora,” katanya dengan mulut penuh.


    Fandy mengelap bibirnya yang berantakan. “Seharusnya Dedek laporin ke Kakak.” Tangan satunya menjitak lembut kepala Ela yang mendapat protes dari gadis tersebut.


    “Kak Fandy ini, sudah berapa kali Ela bilang, jangan panggil Ela dedek saat di sekolah!” Ela mencondongkan tubuhnya ke depan lalu memukul-mukul lengan Fandy.


    Melihat tingkah Ela yang lucu membuat Fandy tertawa.


    Shiro berdehem. “Laporin? Ngelapor ke kepala batu, emang mempan?” gumam Shiro, membuat Fandy melirik tajam ke arahnya.


    Hah, mereka berdua emang belum akur sepenuhnya. Aku bangkit dan berkata, “Sudah bel, Nora-Ela, ayo kita pergi!”


    “Baik Dor-Dor.”


***


BYUR!


air besar. Ah, ini benar-benar tidak mau keluar lagi ...,” keluhku sembari menyingkirkan rambut yang menutupi wajah.


    Dingin. Sekujur tubuhku basah disiram air es dari atas.


    Aku bangkit setelah itu membuka pintu. “Eh?” Aku mencoba menarik pintu kuat. Tidak bisa. Sial! Apamereka mengunciku dari luar? “Hello, apakah ada orang di luar?” teriakku dengan suara gemetar.


    Aku benar-benar kedinginan, mereka memiliki ide yang sangat gila untuk mengerjai seseorang. Biar kutebak, mungkin saja ini adalah ulahnya geng Friska, karena yang kutahu sudah beberapa hari ini Mak Lampir itu tidak terlihat di sekolah, bisa saja, kan, Friska dalang dibalik ini semua? Karena mengingat dayang-dayangnya yang setia.


    Tidak ada jawaban, di luar hening, karena satu jam lalu pelajaran sudah usai, mungkin saja orang-orang sudah pulang ke rumah, yang masih tinggal kemungkinan anak-anak yang ikut ekskul.


    Aku memeluk tubuh dengan kedua tangan. “Haaa ... ciiih.” Kemudian mengelap hidungku yang mulai berair. Ini buruk, terkurung di toilet sekolah, tidak ada orang di luar, ponselku tertinggal di dalam tas. Benar-benar apes hari ini.


    Terpikir untuk menghancurkan pintu itu, tapi di ruangkan sesempit ini aku tidak bisa menendang dengan bebas. Tidak. aku tidak punya kekuatan untuk meninju pintu tersebut karena tanganku sudah gemetaran.


    Pilihan terakhir—aku mendongak dengan tangan masih memeluk tubuh—menutup kloset duduk dengan kaki. Aku


berniat memanjat ke atas. “Semoga aku bisa melakukannya,” ancang-ancangku sembari melompat-lompat kecil mengusap telapak tangan kemudian meniupnya untuk memberi kehangatan. Aku mundur sedikit ke belakang—berisap-siap melompat dengan pijakan kloset itu.

__ADS_1


    Berhasil. Dengan hati-hati aku turun ke toilet sebelah yang pintunya terbuka lebar.


    “Ah, aku tidak punya baju ganti. Baju olahragaku pun sudah kubawa pulang untuk dicuci,” keluhku sembari meninggalkan toilet.


    Setiapku melangkah, tetesan air dari pakaianku jatuh membasahi koridor sekolah. Seseorang


yang baru saja melewatiku memandang heran dengan penuh tanya. Oh, aku tidak


perlu menjelaskan apa pun, kan?


    “Apa yang harus kulakukan?” gumamku melangkah malas sembari melihat ke bawah. Tidak mungkin


aku kembali ke kelas, ya, meski tidak ada orang lagi kecuali kedua sahabatku. Hanya saja ... aku malas bertemu dengan Ela, dia pasti akan melontarkan berbagai pertanyaan padaku. “Ah, malasnya ....”


    Saat ini kami sedang mengerjakan tugas kelompok yang diberikan guru, maka dari itu kami sedikit


terlambat pulang.


    “Oh!” Aku kembali megangkat kepala. Sebuah ide terlintas di benakku, kenapa aku tidak ke koperasi


sekolah saja? Di sana perlengkapannya lengkap. Ya, meski aku tidak bawa uang


sekarang, kurasa tidak apa-apa utang dulu. “Tapi ... apakah masih buka?”


    “Hei, Miss Ball!”


    Aku mendongak ke atas karena mendengar suara dan ... BOOM! Sesuatu mendarat di wajahku—spontan mataku terperjam—terbatuk kemudian sembari menyingkirkan sisa tepung yang ada di


wajahku. Kuakui, akhir-akhir ini refleksku melambat.


    Kedua tanganku mengepal kuat menahan amarah.


    “Hahaha, lihat wajahnya ....” Di lantai dua tampak geng Friska beserta Devin tertawa terbahak-bahak, kemudian pergi sebelum aku sempat memaki. Sialan, apa semua ini ulahnya Devin?


Kekanakan sekali tingkahnya.


“Dorin?”


    Aku membalik karena mendengar namaku dipanggil secara serempak ... trio serigala?

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2