Dorin Tanea

Dorin Tanea
Episode 40


__ADS_3

"Syukurlah lo ngak kenapa-napa," bisik Vino di telingaku. Itu membuat jantungku berdetak sangat cepat. Darahku mendesir menjalar ke seluruh tubuh.


"Vin, aku susah bernapas," gumamku dan setelah itu Vino melepaskan tangan kekarnya dari tubuhku.


Vino mundur selangkah setelah itu berdehem pelan. "Kemana saja lo?" tanya Vino lagi, tapi kali ini dengan nada dingin. "Lo lihat ini sudah jam berapa?"


Aku tahu, sekarang hampir jam setengah tujuh malam.


"Aku nemenin Ela ke toko hewan," jawabku seakan dituduh macam-macam oleh pacar sendiri. Lagi pula, apa urusan Vino kalau aku pulang terlambat?


"Apa sebelumnya ada yang mencelakai lo?" Vino menatap curiga kemudian memperhatikan singkat bagian tubuhku yang, "lalu, kenapa ponsel lo tidak bisa dihubungi?" tanyanya lagi menatap mataku. Seakan dia tahu kalau aku mendapat masalah.


"Oh ... itu, batraiku habis," bohongku. Bagaimana mungkin aku menjeleskan masalah tadi padanya? Lagi pula itu urusanku. Aku tidak mau dirinya terseret dalam masalah.


Aku mengerutkan alis.


"Jangan salah paham!" seru Vino cepat, mungkin dia bisa membaca raut wajahku yang tampak heran. "Mama lo cuma nitip pesan."


"Pesan?" Aku mengalihkan pandangan sekilas ke arah rumah, agak gelap, sih. Apa Mama sama Mbok Nini tidak di rumah? Pikirku.


Kalau Papa hari ini keluar kota bersama Pak Nono, soalnya Papa tidak bisa mengendarai mobil terlalu jauh apalagi saat malam hari.


"Mama lo pergi ke kampung Mbok Nini. Ada keluarganya yang meninggal, jadi tante nitipin lo ke gue. Kalau terjadi kenapa-napa sama lo, gue yang disalahkan nantinya. Paham, kan?"


Mbok Nini sudah seperti keluarga sendiri bagi kami. Ya, tentu saja Mama dengan senang hati menemani Mbok Nini ke kampungnya, terlebih si mbok juga sudah berumur. Takut terjadi apa-apa di jalan.


Aku tersadar kemudian. Nitipin? "Emang aku barang?" gumamku yang mungkin bisa didengar Vino.


"Kalau gitu, lo masuklah!" kata Vino seraya memberikan kunci rumah yang dititipkan Mama padanya.

__ADS_1


Aku membalas mengangguk--memgambil kunci--kemudian membuka pintu pagar. Sebelum Vino kembali ke rumahnya ...


"Vin," panggilku pelan dan itu membuatnya membalikkan badan menatap ke arahku. Aku membuka mulut lalu menutupnya kembali.


Vino menatapku. "Apa yang ingin lo sampaikan?"


Aku menggeleng pelan.


"Kalau gitu gue masuk dulu," ujar Vino.


"Vin!" panggilku cepat sebelum dirinya menutup pagar rumahnya.


"Apa lo takut ke rumah sendirian?" tebak cowok itu seakan bisa membaca pikiranku.


Aku bersingut. Seharusnya kamu sadar diri. Setidaknya menawarkan diri untuk mengantarku hingga ke dalam rumah. Kamu sendiri bisa lihat, kan? Rumahku benar-benar gelap!


"Hm?" Jidatku mengernyit.


"Gue nunggu lo untuk bilang ... to-long."


Aku menghela napas. Kata-kata itu memang jarang kugunakan dua tahun belakangan ini karena, aku berprinsip bisa melakukan semuanya sendiri. Tidak membutuhkan orang lain, meski aku tahu manusia tidak bisa hidup dan berdiri sendiri di dunia ini.


Sombong?


Tidak. Karena prinsip itulah mengantarkanku pada kemandirian. Bisa berdiri sampai sekarang ini.


Aku menatap Vino yang masih memandangku, mungkin menungguku untuk mengatakan kata itu, 'tolong'. Entah apa yang ada di pikirannya saat ini.


Aku menghela napas kembali. "Yasudah, kalau gitu aku masuk dulu." Aku mengepal kuat tali ransel yang tersampir di bahu, kemudian melangkah masuk menuju rumah.

__ADS_1


Menyebalkan! pekikku dalam hati karena tidak ada tanda-tanda Vino mengikuti langkahku dari belakang. Kenapa jadi cowok nggak peka, sih?


Aku masih saja menggerutu hingga sudah sampai di depan pintu masuk rumah. Gelap. Tidak ada sedikit pun cahaya di dalam sana. Pikiranku sudah melayang kemana-mana, menurutku ... daripada bertemu makhluk kasat mata, aku lebih baik bertemu maling karena maling bisa ditendang.


Aku memutar kunci pintu. Dengan dada yang berdebar aku membuka pintu perlahan. Jujur, aku memang tidak suka berada di tempat yang gelap karena memiliki pengalaman yang buruk. Kalau dalam keadaan seperti ini, aku teringat Meka karena, cowok tengil itu suka sekali mengerjaiku, apalagi meninggalkanku di tempat yang gelap saat pulang dari acara malam yang diadakan di kampung sebelah.


Kamu bisa bayangkan bagaimana jalanan tanpa penerangan? Seperti orang buta. Tidak ada lampu jalan di sana. Kami hanya mengandalkan sebatang obor atau lampu petromax.


Waktu itu aku ditinggali Meka, dia berlari duluan saat melewati kuburan yang agak jauh dari sisi jalanan. Namanya kuburan, tentunya aku takut. Aku melihat sekelebat bayangan di sana, aku menangis sambil berlari, tapi karena tubuhku yang besar, langkah kakiku terasa berat. Meka keluar dari persembunyian dan terpingkal-pingkal saat melihatku terjatuh. Kalau diingat lagi, rasanya aku ingin mengupat lagi.


Pintu sudah terbuka lebar. Tubuhku spontan memutar balik. Segera berlari ke tempat Vino Virgo. "Akh!" Jidatku terbentur pada dada bidang seseorang, aku pun mendongak. "Vino," panggilku. Entah, mungkin suaraku terdengar bergetar olehnya.


Aku mengerjap, helaan napas Vino menyapu wajahku. "Gue lapar," katanya.


"Ha?"


"Lo tahu sendiri, kan, nyopap gue belum pulang? Dan karena lo juga gue pulang terlambat."


Aku mengangguk kemudian menyuruhnya masuk duluan agar dia menghidupkan kontak lampunya.


"Kenapa lo tersenyum?" protes Vino.


Aku menggeleng seraya mengikuti langkahnya dari belakang. "Terima kasih sudah nemenin aku."


Vino menaikkan satu alisnya. "Jangan salah paham, gue hanya lapar, dan lo harus tanggung jawab."


"Iya, iya." Aku masih saja tersenyum. "Duduklah, aku akan menghangatkan makanannya duluan."


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2