
"Yakin lo?" tanya Vino meyakinkanku lagi. Kalau lampu hidup tidak masalah bagiku seorang diri berada di rumah, kalau seorang diri di rumah dan lampunya mati itu beda lagi ceritanya.
Aku mengangguk berdiri di depan pintu. Mengibaskan tangan menyuruhnya pergi. "Serius, aku ngak apa-apa. Pergilah!"
"Lo masuklah duluan." Vino masih saja berdiri di tempatnya.
"Tidak sopan menutup pintu sebelum tamu pergi," kataku membuat Vino menghela napas.
"Baiklah, tapi jangan lupa kunci pintunya."
Aku mengangguk tersenyum, memperhatikan hingga punggungnya sudah menghilang di balik pagar. Perhatian kecilnya inilah membuat hatiku meleleh.
Setelah mengunci pintu, aku berlari kecil menaiki anak tangga, kemudian masuk ke kamar. Agak gelap, untung Vino sudah berada di kamar dan menghidupkan lampu kamarnya.
Aku mendekat ke arah jendela yang tertutup, mungkin sebelum pergi si Mbok yang menutupnya.
Tack!
Sontak bahuku terangkat karena terkejut karena jendelaku dilempari sesuatu. Sial! Itu tepat di depan wajahku. Tidak! Aku tidak bermaksud mengintip ke luar hanya saja ...
Aku pun membuka jendela. Di seberang sana Vino sudah berdiri dengan senyuman tipis di wajahnya. Itu mengingatkanku pada masa lalu. Waktu itu kami saling melempari kerikil, bola-bola kertas, bahkan apa pun itu, termasuk kulit pisang yang isinya habis kumakan.
"Kalau lo takut sendirian, lo bisa buka jendelanya," sorak Vino.
"Hah?"
Aku mengernyit saat Vino membalik menjauhi jendela kamarnya--kemudian tiba-tiba dia kembali dan melempar sesuatu. Spontan tubuhku menghindar--menatap kertas berbentuk bola yang baru melesat ke dalam kamarku.
"Lo bisa dengerin konser gratis hari ini. Cuma hari ini." Aku membaca tulisan dari kertas yang dilempar Vino tadi.
Aku pun mengambil buku dan merobeknya, kemudian menuliskan sesuatu, Aku tidak yakin kamu bisa bernyanyi, takutnya malah membangunkan orang sekompleks. Setelah menulis kata-kata ini, aku melemparnya ke bagian atas kepala Vino. Bulatan kertas itu masuk ke kamarnya.
__ADS_1
Lo tidak percaya suara gue merdu? balasan baru dari Vino.
Aku menggeleng seraya tersenyum. Aku berbohong, sebelumnya aku pernah beberapa kali mendengar Vino bernyanyi.
Vino membalik, kemudian kembali dengan gitar di tangannya. Dia pun menarik kursi yang sudah dia setel agak tinggi-- duduk dengan posisi menghadap ke arahku.
Vino memetik gitarnya. "Lo mau dengerin lagu apa?" tanya Vino sembari mengangkat kepalanya.
"Terserah."
"Terserah?" Vino tampak berpikir, tak berapa lama dia memetik gitarnya--membuatku mengerutkan jidat. Itu terdengar seperti nada yang kukenali.
"Ding ... dong, kudatang padamu--"
"Vino!" teriakku, cowok itu pun langsung menghentikan permainannya--kemudian tertawa. "Itu tidak lucu," sambungku sembari mengembungkan pipi.
"Tapi katanya terserah."
Vino masih saja tertawa. Aku terpesona sesaat. Melihat dirinya tertawa renyah seperti itu membuat jantungku berdetak tak karuan. Sangat langka melihat dia tertawa seperti ini, aku ingin merekam moment ini.
Bodoh! Kepalaku menggeleng. Apa yang kupikirkan?
"Baiklah, gue akan mengganti lagunya, tapi dengan satu syarat!" Vino mengacungkan telunjuknya.
Aku melipat tangan di depan dada dengan mata menyipit, pertanda protes. "Tapi aku tidak memintamu untuk bernyanyi."
"Tapi gue sudah terlanjur melakukannya," ucap Vino santai. Dia kembali ke sifat aslinya, yaitu menyebalkan.
Petikan gitar terdengar lagi.
"Baiklah kalau lo nggak mau ...." Tampak Vino mengambil napas dalam-dalam--mengeluarkannya melalui mulut--lalu bernyanyi, "Ding dong kudatang padamu bukalah pintu, tak mungkin sembunyi dariku ...."
__ADS_1
Aku menutup telinga. Lirik dan nadanya membuatku semakin merinding. Apalagi didengarkan pada malam hari. "Vino Virgo, hentikan!" teriakku.
"Sampai lo katakan Oke," balas Vino dengan bernadakan lagu Ding Dong.
"Oke, baiklah!"
Vino menghentikan permainannya dengan senyuman merekah seperti habis memenangkan sesuatu.
"Jika itu bisa aku sanggupi," sambungku cepat.
"Tenang saja. Ini sangat mudah lo lakukan. Jadi, gue cuma minta sebelum lo pulang ke rumah, lo kudu ngelapor dulu ke gue."
"Haaah ...?"
Aku mengernyitkan dahi. Kenapa aku harus melapor? Dia bukan Papa, Abang, maupun pacarku. Apa Vino punya suatu rencana tersembunyi?
Vino berdehem. "Gue tahu apa yang lo pikirkan sekarang. Jadi, jawabannya Ya atau Tidak? Atau gue bakalan nyanyi lagu Ding Dong dalam empat bahasa?"
Sialan, Vino mulai mengancam lagi.
"Cuma itu?" tanyaku.
Vino mengangguk lalu berkata. "Bukan lewat sms tapi menghadap langsung ke gue."
"Serius kamu, Vin?"
"Kenapa? Apa ada masalah?"
*Bodoh! Ya, jelaslah ada. Masa cuma pulang ke rumah harus mencari dan melapor ke kamu dulu. Apa kata anak-anak jika sampai mereka tahu?
Apa ini berhubungan dengan kejadian tadi? Oh, aku tahu ... kamu melakukan ini karena kesal, kan, denganku? Jadi kamu membalasku dengan cara ini*.
__ADS_1
Bersambung ....