
Hari ini Ela sudah masuk sekolah, kemarin dia sakit.
Tampang gadis itu masih saja cemberut, membuatku mengerutkan jidat, apa dia masih sakit? Biasanya Ela sudah menyapaku pagi ini.
"Bagaimana keadaanmu?" tanyaku sembari menempelkan telapak tangan di jidatnya, kemudian Ela menggeleng, menghadap ke arahku.
"Huwaaa, Dor-Dor, Shiro mati!"
"Hah?" Aku terkejut. Kemarin aku bertemu Shiro dan keadaanya baik-baik saja. Bagaimana mungkin? "Seriusan Shiro meninggal?"
Ela mengangguk lemah. "Padahal Ela mau nunjukin Shiro ke Dor-Dor, tapi dia mati karena Kuro."
Jidatku mengerut. Berpikir. Jadi sekarang ini Ela sedang membicarakan apa? Setelah berpikir beberapa detik, aku baru ingat Ela pernah berkata kalau dirinya punya kucing bernama Shiro.
Aku mengelus pundak Ela, berusaha menenangkannya. "Kenapa dia bisa sampai mati?"
"Hiks ...." Ela tambah menangis, sepertinya diriku salah bertanya. "Shiro mati karena anjingnya Shiro. Si Kuro menggigit lehernya Shiro."
Aku menggaruk sisi jidat. Berpikir sejenak. Ela bicaranya terlalu cepat dan aku perlu mahami kata-katanya itu. Aku mengeja kalimat Ela perlahan-lahan ... mentapnya yang mengusap kedua pipinya dengan punggung tangannya.
"Jadi, kucingmu mati karena Kuro? Dan Kuro itu anjingnya Shiro?"
Ela mengangguk.
"Padahal Ela sudah kasih tahu sama Kak Shiro agar si Kuronya diikat meski dia di dalam kandang, tapi Kak Shiro nggak dengerin Ela. Huwaaa ... jadinya, Shiro mati, kan?" Ela melipat tangan di atas meja lalu membenamkan wajahnya di sana. Menangis terisak.
Nama kucing Ela sama dengan nama kakaknya? Aku tersenyum samar, tidak mungkin kan, Kakaknya Ela adalah Shiro yang aku kenal?
"Dek!"
Semua mata tertuju ke arah pintu masuk--menatap laki-laki tampan itu menuju ke arah Ela.
"Ini, bukumu ketinggalan," kata Shiro sembari memukul kepala Ela yang jidatnya masih menempel di atas meja.
Ha, Seriusan?
"Hai, Rin."
Aku hanya membalas mengangguk pelan saat Shiro menyapaku. Mendongak menatapnya.
__ADS_1
Aku masih tidak percaya. Shiro yang dimaksud Ela adalah dia? Seriusan mereka kakak-adik? Secara, di sekolah mereka tidak terlihat seperti itu.
Tapi, kalau diperhatikan lama, mereka agak mirip juga, sih.
"Tapi katanya nggak mau nangis lagi?" ucap Shiro sembari mengusap-usap kepala Ela. "Nanti sepulang sekolah kakak temenin Ela ke toko hewan deh, sama Dorin juga."
Aku terkejut sembari menunjuk diri. Kenapa namaku juga dibawa-bawa? Kemiripan mereka adalah ketika memutuskan sesuatu tanpa persetujuan dariku.
Shiro memberikan gerakan memohon, aku pun terpaksa mengangguk.
Kepala Ela berdiri. "Benarkah Dor-Dor?" Wajahnya langsung berubah ceria.
Aku mengangguk lagi.
...***...
"Apa Nora baik-baik saja?" tanya Ela melihat ke arah tempat duduk gadis itu. Mungkin Ela juga merasakan sikap Nora yang lebih pendiam dari sebelumnya. Padahal Ela masih bersedih, namun sikap kepedualiannya itu membuatku salut padanya.
Semenjak kejadian itu, Nora tidak pernah membahasnya. Aku pun tidak banyak berkomentar, menunggu dirinya yang berbicara duluan. Dan, Ela juga tidak tahu sebenarnya yang terjadi, bahwasanya aku mengetahui Nora dan Friska itu kakak-adik, meski tidak sedarah. Pasti dia bakalan heboh kalau sampai mengetahuinya, mungkin Nora mepertimbangkan itu juga.
"Aku ingin bicara dengan kalian sehabis istirahat nanti." Tiba-tiba saja Nora datang menghampiri meja kami.
Saat bel berbunyi dan semua anak-anak sudah pada ke luar dari kelas. Nora menghampiri meja kami lalu menceritakan masalah yang dihadapi. Kenapa Friska sangat membenci dirinya.
Nora bercerita, kalau ibunya bekerja sebagai pembantu di rumah Friska, sekitar lima tahun lamanya. Karena stasus Ibu Nora yang janda dan sang pemilik rumah yang sudah menduda selama tiga tahun, rasa ketertarikan itu muncul begitu saja. Akhirnya mereka menikah meski mendapat penolakan dari Friska sebelumnya.
Friska melampiaskan kemarahannya sama Nora. Memperlakukannya dengan kasar. Padahal dulunya mereka cukup berteman baik, meski Nora adalah adalah anak pembantunya.
Orang tua mereka akhirnya menikah, satu tahun yang lalu, dan selama satu tahun itulah perlakuan buruk dia dapatkan dari Friska. Nora pun diancam supaya tidak melaporkan apa pun pada Papa maupun kepada ibunya.
"Itu tidak bisa dibiarkan!" komentar Ela dengan wajah cemberut, bahkan terlihat mau menangis.
Nora menggeleng. "Aku ingin menceritakan ini karena kita sahabat. Aku tidak mau kalian salah paham, jadi ... Kak Friska melakukan itu semua karena beralasan."
"Alasan untuk melampiaskan amarahnya sama kamu?" tanyaku sembari melipat tangan di depan dada. "Jadi, kamu membiarkannya begitu saja?"
"Ini salahku." Nora menunduk.
Aku mengerutkan jidat. "Bagaimana itu menjadi salahmu?"
__ADS_1
"Andaikan waktu itu aku melarang ibu agar tidak menikah dengan Om Frans ...." Nora menggigit bibir, "ini semua nggak bakalan terjadi. Aku yang menyuruh ibu untuk mencari kebahagiaanya sendiri, hiks ...." Nora menangis sembari menitikkan air mata.
"Apa yang terjadi?"
Aku penasaran. Kepala Nora semakin merunduk merapat dada, sesekali tangannya mengusap hidungnya yang basah.
"Ibu lebih mempercayai Kak Friska daripada aku. Ibu--" Nora menggeleng, dia tidak mampu melanjutkan kata-katanya. Kurasa kata-kata itu tertahan di balik tenggorokannya. Kata-kata yang menyakitkan untuk dikatakan?
...***...
"Hah."
Aku menghela napas mendapati sosok yang menyebalkan di depanku. Membuang wajah sebentar--kembali menatapnya.
Cowok itu memberikan kode pada kedua temannya.
"Apa yang kalian lakukan?" tanyaku pada dua orang yang sudah berada di kedua sisiku--mengunci pergerakanku, kemudian menyeretku secara paksa--membawaku dekat gudang belakang sekolah.
"Berikan!"
"Apa maksudmu?" ketusku menatap Devin dengan tatapan tajam. Beraninya sama cewek. Ya, kurasa dia memang banci!
Devin mendekat, namun tubuhku tidak bisa mundur karena kedua teman cowok sialannya ini memegang lenganku.
"Sialan! Jauhkan tanganmu dariku!" Aku meronta saat tangan Devin mulai menyentuh saku rokku.
Aku bisa saja menendang wajahnya. Tapi hari ini karena terburu-buru, aku lupa memakai celana shot. Dan, aku tidak bisa bertindak gegabah untuk saat ini. Apalagi lawanku tiga orang. Cowok-cowok dengan tubuh jangkung.
Devin mendapatkan ponselku.
"Password-nya," katanya mengutak-atik ponselku. Dia pun mengangkat wajah. "Hum, bagaimana kalau gue hancurkan saja benda ini?" Dia menggoyangkan ponselku ke arah temannya.
"Apa kalian ini suruhan Friska?" tanyaku dengan nada biasa. Kalau bukan dia, siapa lagi? Karena aku memiliki bukti tindak kejahatan Mak Lampir itu.
Bersambung ....
...***...
Terima kasih aku ucapkan pada pembaca sekalian yang sudah memberikan dukungan berupa vote, komen, dan like.
__ADS_1
Yang kemarin memberikan aku tip, terima kasih banyak. Aku jadi terharu 😁😁