DRAGON PRINCE SCANDAL

DRAGON PRINCE SCANDAL
BILA HATI TERSAKITI


__ADS_3

Sinar matahari yang menyinari Bumi membias masuk dari kisi-kisi jendela, membuat Ningsih mencoba berganti posisi dengan menghadap ke arah yang berlawanan dari sumber cahaya matahari itu. Tapi, percuma saja, karena dia tetap merasakan ke hangatan sinar matahari yang menerpa punggungnya.


Ningsih menoleh ke jendela yang menjadi sumber dari masuknya sinar matahari dan mendapati bahwa semua gorden di jendela itu tidak tertutup. Dia baru ingat, tadi malam dia sengaja tidak menutup gorden karena menunggu suaminya yang tidak kunjung pulang. Jika Mas Burhan datang, dia bisa langsung melihat mobil Mas Burhan tanpa perlu membuka gorden.


Dia berusaha duduk dari ranjang, dan tetap tidak mendapati Mas Burhan di sampingnya. Kepala Ningsih mulai pening, efek begadang semalaman. Dia kini ingin menangis dan berteriak setelah memberikan umpatan, caci maki, sumpah serapah terhadap suaminya yang telah membuatnya menjadi menyedihkan pagi ini. Dia tahu, biarpun mengamuk sekeras apapun juga, suaminya itu tidak akan tahu, suaminya tetap tidak pulang dan merasa bahagia di luar sana.


Baru pertama kali Mas Burhan tidak pulang dari kerja tepat waktu. Belum pernah terjadi, tadinya dia curiga kalau Mas Burhan kecelakaan. Tapi ketika dia membuka ponselnya, dan menyadari Mas Burhan membaca chat nya, namun dia tidak membalas, Ningsih langsung jatuh terduduk. Sesuatu yang tidak dia ingini telah terjadi. Tidak biasanya Mas Burhan mengecewakan dirinya.


Perlahan air matanya merembes jatuh. Dia tidak bisa mengontrol diri dan perasaannya sendiri untuk tidak merasa sakit hati, dia sangat sedih.


Dia turun dari pembaringan menuju kamar mandi, anaknya pasti sudah ke sekolah. Mereka sudah SMA dan sudah bisa mengurus diri sendiri.


Sejurus kemudian, Ningsih pergi ke dapur dan menghampiri bibi yang sedang memasak.


"Nyonya, sarapan dulu. anak-anak sudah berangkat ke sekolah, mereka tidak mau mengganggu nyonya." kata bibi sopan. Bibi seolah sudah tahu bahwa tuannya tidak pulang tadi malam.


"Ya bi, trimakasih. Aku menunggu Mas Burhan."


"Ada kalanya suami berbuat di luar nalar, karena suatu hal yang luar biasa, yang menghendaki suami terlena. Selama ini Tuan baik-baik saja, tapi godaan dan cobaan akan selalu datang, jika imam lemah." kata bibi seolah berfilsafat. Ningsih duduk di meja makan, pikirannya melayang jauh.


"Jangan menyiksa diri sendiri atas kesalahan yang di lakukan Tuan. Jaga kesehatan dan tetap makan. Kalau Nyonya sakit, Tuan akan semakin menjadi." kata bibi menaruh semangkok bubur ayam di depan Ningsih.

__ADS_1


Pukul. 17.00, bagian Nusa Dewata, sudah puluhan kali dia membuka ponselnya, tidak ada tanda-tanda Mas Burhan akan membalas chat atau meneleponnya.


Perih itulah perasaannya saat ini, dia mencoba menenangkan diri. Sering dia berpikir bahwa di dalam sebuah pernikahan, cepat atau lambat, ini pasti terjadi. Kedudukan suaminya semakin tinggi dan kantongnya semakin tebal, tentu suaminya akan mencari daun muda, dirinya sudah semakin menua dan tidak cantik lagi.


Ketika dia hendak merebahkan diri ke ranjang, suara derit daun pintu terdengar jelas. Ningsih mendongak, wajah Mas Burhan terlihat lusuh.


Assalamualaikum," ujar lelaki yang berdiri kaku di ambang pintu.


"Wa'alaikumussalam. Kamu dari mana, Mas? aku sangat cemas." Ningsih menghampiri lelaki yang dia tunggu dari kemarin.


"Belum tidur?" sapa Mas Burhan suaranya terdengar bergetar. Ningsih tersenyum kecut, bukankah baru pukul enam sore, tidak mungkin dia tidur. Mas Burhan menghindar dari pertanyaannya.


"Sudah tidur dari kemarin, sampai lupa bahwa baru pukul. 18.00 WIB, maunya tidur lagi." jawab Ningsih mengatur nafasnya, dia tidak mau marah-marah tidak karuan, sebelum membuktikan perselingkuhan Mas Burhan.


Bola mata Ningsih membulat melihat Boxer suaminya yang baru. Belum pernah dia membelikan Boxer warna merah, tapi kini Boxer suaminya.... astaga, apa yang telah Mas Burhan kerjakan dalam semalam. Dan yang lebih memuakkan adalah bekas kiss mark yang terdapat di leher belakang Mas Burhan, gigitan drakula itu ada tiga, tentu Mas Burhan tidak melihat.


Ningsih tertawa getir dalam hati, dia hancur melihat kenyataan ini. Pasti seorang wanita jenius yang telah tidur dengan suaminya. Wanita itu sengaja membuat tanda dan menggumuli suaminya sampai loyo. Wanita murahan itu berharap Ningsih mengamuk lalu minta cerai. Lebih dari tiga puluh tahun usia pernikahan nya, tidak akan terpengaruh dengan perselingkuhan Mas Burhan dalam semalam.


"Mobilku ban nya kempes, jadi, aku membawanya ke bengkel." guman Mas Burhan seolah pada diri sendiri.


"Ya sudah, Mas. Tolong besok cari alasan yang masuk akal supaya kupingku indah mendengar alasanmu." cetar suara Ningsih.

__ADS_1


Mas Burhan menunduk wajahnya terlihat letih, dia sulit berbohong. Tanpa menjawab, Mas Burhan naik ke tempat tidur.


"Apa kamu mau tidur, baru jam enam sore. Jika kamu lelah, tidak masalah kamu tidur duluan. Aku akan makan, aku yakin kamu sudah makan dengan selingkuhanmu." akhirnya keluar juga kata-kata yang rapat dia simpan.


Tapi Ningsih kecele, Mas Burhan sudah mendengkur, ia bersyukur perkataannya tidak di dengar Mas Burhan, karena suara dengkur nya mengalahkan suara Ningsih.


Bak sembilu menyayat hati, begitulah yang Ningsih rasakan saat ini. Atas dasar ke utuhan rumah tangga, dia rela berpura-pura tidak tahu tentang kelakuan suaminya. Bagaimanapun, saat ini Mas Burhan adalah tulang punggung di keluarganya. Dia akan memilih waktu yang tepat untuk membuka aib suaminya, jika sudah waktunya.


Ningsih menelisik lelaki yang tidur pulas di ranjangnya. Wajah suaminya sudah semakin tua, rambutnya sudah mulai memutih. Apa yang dia cari di luar sana? ke puasan bathin atau sekedar iseng.


Derrett. drettt... suara ponsel Mas Burhan terdengar. Ningsih cepat membuka tas kerja suaminya, dan mengambil ponselnya. Dia melihat nomor yang tampak di layar ponsel, dan membiarkan panggilan itu terlewat.


"Yank, aku tunggu kamu satu jam lagi. Aku tahu saat ini pasti kamu lagi tawuran dengan istrimu. Cepat datang ya sayank."


"Maaf, aku tidak menjawab panggilan teleponmu. Aku memberi jatah istriku. Sepertinya aku tidak bisa datang dan meneruskan hubungan kita. Cukup sampai disini, aku cinta istriku." balas Ningsih dengan dada bergetar. Dia membalas chat pacar suaminya dengan kemarahan yang besar.


"Beraninya kamu melawan aku, apa kamu mau di pecat!!" tulis pelakor itu Ningsih yakin pelakor itu sangat marah.


Ningsih iseng meng "klik" foto profil Whatsapp pelakor itu, dia kaget setengah mati, karena wajah itu, putri Tuan Surya. Itu non Rina. Apa yang terjadi, apa maksud semua ini? Suaminya bercinta dengan Nona Rina?


Ningsih cepat menghapus semua tulisan di WA, setelah terlebih dahulu menyimpannya ke ponsel miliknya. Tidak lupa dia juga mengambil foto kiss mark di leher Mas Burhan. Dia langsung memblokir Nomor WA Nona Rina selanjutnya menghapus nomor WA Nona Rina dari ponsel suaminya. Dia tidak peduli dengan ancaman Nona Rina. Bila perlu dia bisa melaporkan perbuatan Nona Rina ke Gurkha atau ke Pak Surya.

__ADS_1


*****


__ADS_2