
Kemarahan Devi memuncak melihat suaminya dalam keadaan teraniaya.
"Apa yang kalian lakukan kepada suamiku, dasar brengsek!!" pekik Devi dengan suara keras. Dia maju menghadap orang-orang itu. Matanya terbuka lebar, tubuhnya langsung gemetaran melihat semua orang memegang senjata api, mengarahkannya pada Reva dan dirinya.
"Perempuan busuk, kami datang untuk mencabut nyawamu." jawab salah satu laki-laki itu, sambil mengacungkan pistol.
"Apakah kau Tuhan? bacotmu membuat aku geli. Kalau memang tanganmu gatal ingin membunuhku, cepat bunuh aku, apalagi kau tunggu. Apa kau takut menembak seorang perempuan?" teriak Devi prustasi, dia yakin orang-orang ini pasti akan menyiksanya. Lebih baik dia mati dari pada disiksa terlebih dahulu.
"Gede juga nyalimu, aku pasti akan membunuhmu, tapi sebelumnya kau layani dulu kami, hahaha....." cemoh orang itu. Devi berharap Bungalow ini ada CCTV nya, dan bisa merekam apa yang terjadi. Kalau Devi berteriak juga tidak mempan karena ruangan berisi peredam suara.
Mendapat ancaman Devi langsung membisu, tidak bisa bersuara apa pun, suaranya tercekat. Tangannya mencengkeram gaun pengantinnya. Tubuhnya bergetar hebat.
Reva didorong ke tengah ruangan dan terjatuh. Pria itu tidak berkata apa pun, hanya menatap tajam kepada para penyanderanya. Tidak ada satu pun yang diavkenal.
"Lepaskan istriku, kalian berurusan hanya denganku." kata Reva serak ketika berandal itu mencoba memegang Devi.
"Aku akan mengambil jiwa kalian!!" kata laki-laki yang baru muncul. Suaranya terdengar nyaring. Seorang pria kasar, berwajah keras berada tepat di depan Reva.
Devi kaget melihat pria itu, kakinya reflek mundur selangkah. Pria ini adalah teman bisnis suaminya yang katanya sudah meninggal. Gatot itulah namanya.
"Apakah kau kaget melihatku Reva, ternyata aku masih hidup. Roh ku bangkit dari kubur hanya untuk mencabut nyawamu." ketus suara Gatot, matanya tajam menatap Reva yang dulu menyiksanya.
"Tembaklah aku, kalau itu tujuanmu, lepaskan Devi, dia tidak tahu apa- apa." suara Reva terdengar putus asa, seolah dia tahu jiwanya tidak akan terselamatkan.
Gatot berdiri santai di depan Reva dengan seringai penuh kekuasaan. Wajahnya sangar dan kasar. Sudut bibirnya terangkat menyunggingkan cemohan yang membuat Reva ingin memukulnya, tapi dia tidak berdaya.
"Tidak ada seorang pun yang akan datang untuk menolongmu Reva, kau dulu telah membunuh calon istriku, ini balasannya sekarang, sebelum kau ke Neraka, aku akan membunuh orang yang kau cintai terlebih dahulu seperti kau telah lakukan padaku." gumam Gatot di antara makian dan sumpah serapah Reva. Sebuah pistol yang sudah isi peredam suara berada di tangan kanan Gatot.
"Gatot bajingan kau!!" teriak Reva.
__ADS_1
Pistol di bidikan ke kening Reva yang telentang di bawah dengan tangan terikat.
"Deebbbssss... "
Badan Devi tersentak keras mundur bersandar di tembok dan, tubuhnya gemetaran tidak terkendali. Cairan merah tua terciprat ke wajah dan gaun pengantinnya. Mata Devi nanar tanpa bisa berkedip, nafasnya sesak suaranya terasa mencekik di tenggorokan.
Wajah Reva pucat menjadi seputih kapas dalam sekejap. Tubuh Reva terkulai seolah tidak berarti apa pun. Netra coklatnya terbuka lebar menatap sendu, ada air mata yang mengalir di sudut mata pria itu.
"Reva....." Devi menubruk tubuh suaminya, dan menangis histris. Dia mengguncang-guncang tubuh itu dengan keras. Cairan merah tua menggenang di lantai, meresap ke gaun pengantinnya.
"Bos.. kami akan mengambil nyawa istrinya. Silahkan Bos beristirahat." Seorang berandal mengangkat pistolnya dan mengarahkan kepada Devi. Namun, Gatot menepis tangan pengawal itu dan menyuruh mereka mundur semuanya.
"Keluar kalian semua." bentak Gatot.
Dia lalu berjalan mendatangi sang pengantin wanita yang sedang menangis histeris.
"Bangunlah!!" bentak Gatot menarik lengan perempuan itu agar berdiri dan berucap sesuatu, akan tetapi wanita itu tetap tidak bersuara apa pun. Hanya sorot mata kebencian terlontar dari mata indah Devi.
"Suamimu telah mengambil sesuatu dariku, dia membunuh tunanganku dan juga membunuhku, sayang aku masih terselamatkan. Sebagai ganti, aku akan mengambil semua miliknya termasuk dirimu." sudut bibir Gatot menyeringai, dia tersenyum lebar dan mengecup bibir gadis itu. Devi menjerit dan menolak dada lelaki itu.
"Kau perempuan tangguh dan berani, aku senang perempuan sepertimu sambut aku sebagai suamimu, aku akan menggantikannya."
"Enyahlah kau pembunuh, aku akan menjeratmu di meja hijau, kau akan menjadi santapan tikus di balik jeruji besi."
"Hahaha...kau semakin manis bila kau marah. Kau cocok menjadi istri Gatot, seorang Pangeran dari tanah seberang."
"Kau gila, banyak mengkhayal, ingat!! mulai detik ini kau musuhku, aku akan merobek jantungmu serta menguliti tubuhmu." bentak Devi gusar. Dia sangat marah dan dendam apapun alasannya, Devi tidak mau tahu. Dia harus bisa membunuh Gatot.
Gatot tidak menjawab, tangannya merobek pakaian pengantin Devi dan membuangnya ke lantai. Dia menarik lengan Devi, dan mendorongnya ke kamar mandi.
__ADS_1
Kemudian dia keluar dan menyuruh pengawalnya untuk membersihkan kamar itu.
"Bersihkan semua ruangan, jangan ada bekas darah, singkirkan tubuh Reva untuk santapan buaya. Pastikan tidak ada rekaman CCTV." perintah Gatot berkacak pinggang.
"Baik Bos, apakah Bos menginginkan wanita itu?"
"Jangan banyak bacot, dia akan menjadi wanitaku. Hanya dia yang bisa menggetarkan gairahku, tolong siapkan kamar untuk kami berdua." perintah Gatot.
"Baik Bos..." sahut mereka menurut. Biasanya bos langsung membunuh musuhnya, belum pernah bos nya tergiur oleh seorang wanita. Mereka sampai punya asumsi bahwa Gatot adalah seorang laki-laki tidak normal.
Gatot pergi ke kamar mandi, dia ingin wanita itu melayaninya, seperti istri sejati. Dia mendobrak pintu kamar mandi yang di kunci dari dalam dengan mudah, Devi kaget dan reflek menutup bagian tubuhnya dengan tangan. Gatot menelan salivanya, air shower membasahi tubuh Devi dari atas ke bawah. Pria itu perlahan maju mendekati Devi....
Saat yang sangat genting itu, lampu kamar mandi tiba-tiba padam, dan sebuah bayangan besar menyambar tubuh Devi dan membawanya lari. Devi berteriak kaget dan pingsan..
Gurkha melayang tinggi di udara, kakinya menjepit tubuh nudis Devi. Dia tidak tahu harus di bawa kemana gadis itu.
Akhirnya Gurkha memutuskan untuk membawa Devi ke Apartemennya, tapi dia harus berubah dulu, jangan sampai dia di tembak oleh penduduk.
Gurkha terus melayang di atas, dan akhirnya menukik turun dengan cepat. Dia sekarang sudah berada di balkon, dengan pelan menjatuhkan Devi di lantai. Gurkha lari ke kamar mandi membersihkan diri dan merubah diri menjadi Gurkha yang tampan, serta mempesona.
Seolah dia di kejar waktu, Gurkha lari menemui Devi yang masih pingsan. Tangannya meraih tubuh itu dan menggendongnya ke kamar. Gurkha membersihkan tubuh itu dengan tissue basah aroma lavender.
Tubuh Devi yang molek membuat nafas Gurkha memburu, tapi dia tidak mau gegabah. Dia akan menunggu saat yang indah itu, jika Devi menghendakinya.
Gurkha menutup tubuh Devi dengan selimut, kemudian dia turun menuju ke dapur. Dia bersyukur kedua bibi pembantu sudah tidur.
Apartemennya menang sering gelap, paling ada lampu di beberapa titik yang menyala, karena Gurkha sendiri senang suasana gelap. Matanya awas, bisa memandang puluhan kilo meter, dia juga bisa menembus awan dan melihat buruan dari jarak yang sangat tinggi.
Dia membawa makanan dan sebotol besar air mineral, Gurkha tidak tahu pasti makanan yang harus di sajikan kepada wanita itu. Tangannya membuka pintu perlahan, dia melihat Devi masih tidak sadar. Hatinya sedih, dia yakin pengalaman ini bisa membuat wanita itu gila.
__ADS_1
*****