DRAGON PRINCE SCANDAL

DRAGON PRINCE SCANDAL
KE HUTAN BUNIAN


__ADS_3

Devi merasa merinding di lingkungan pemukiman ini. Orang-orang yang tidak dikenal menyambutnya dengan raut wajah mesum. Harusnya dia tidak mau datang kesini ketika Pak Radit mengundangnya.Tanpa berpikir panjang dia menerima undangan Pak Radit, padahal Pak Romi tidak setuju kalau Devi pergi ke pabrik kayu yang baru dibangun.


Banyak alasan Devi mau datang kesini, pertama dia takut dicari Polisi ditanya tentang kejadian di pantai. Walaupun sampai sekarang belum ada Polisi yang mencarinya. Mungkin Polisi tidak bertindak karena sering kejadian yang serupa. Apalagi Naga kembali aktif menculik para gadis.


Kedua, karena dia kesal dengan Gurkha yang selalu menghilang. Dan Devi ingin membuat Gurkha bingung mencarinya.


Pak Radit berumur sekitar empat puluh tahun dan disini sebagai bos, atau kepala mandor yang sangat disegani dan ditakuti. Karena tegas dan sangat berwibawa. Orangnya tinggi tegap dan ganteng, kumisnya tipis, dan jambangnya samar. Keseluruhan Pak Radit, tidak terlalu mengecewakan, malah terkesan keren dan kebetulan Devi lebih senang lelaki yang sudah dewasa. Ada dua orang mandor yang juga ikut nimbrung disana, tapi mandor itu hanya sesekali bicara dan selebihnya diam saja, mereka membawahi sekitar seratus pekerja, yang meliputi penebang kayu dan sebagaian bekerja di pabrik.


Devi adalah Pimpinan sementara Direktur Perusahan Surya Subrata yang diberi kuasa penuh untuk mengambil keputusan dalam bentuk apapun. Seiring dengan berjalanan waktu Perusahan Surya Subrata semakin sukses dan kini merambah ke bisnis kayu gelondongan yang pengerjaannya di lakukan di tengah hutan Kalimantan.


"Maaf bos, disini seratus persen pekerjanya laki-laki, ada yang masih bujangan dan ada yang sudah punya istri. Seharusnya bos membawa pengawal misalnya bodyguard atau Polisi. Saya tidak menyangka bos datang sendiri. Bos bisa bayangkan orang-orang ini empat puluh hari baru boleh pulang, dan jumlah mereka ratusan lebih." kata Pak Adit ketika Devi mengeluh tentang tingkah karyawannya yang membuat hatinya kecut.


"Aku tidak menyangka dan tidak berpikir sejauh itu." sahut Devi sangat menyesal tidak menuruti omongan Pak Romi.


Sebenarnya dia nekat kesini karena kesal sama Gurkha yang tiba-tiba menghilang dari sisinya. Pria itu kurang ajar sekali, selalu membuat dirinya nelangsa. Semenjak dia jatuh cinta sama Gurkha hidupnya merana, tiap saat menangis. Setelah Gurkha menggasaknya langsung hilang, selalu begitu.


"Apa dia pikir aku barang murahan." gerutu Devi kesal.


"Apa bos?"


"Owh...tidak apa-apa, aku cuma ingin cepat pulang."


"Bos tahu sendiri, jalan kesini sangat sulit, memakan waktu seharian penuh, belum menyeberang naik boat dan jalan kesini berbahaya. Jadi saya sarankan supaya pulangnya menunggu penjemputan."


"Jadi aku harus menginap disini?" tanya Devi ketar ketir.

__ADS_1


"Sudah saya siapkan kamar untuk bos, ada dibelakang, saya akan mengantar anda kesana. Tolong bos jangan berkeliaran di luar kalau tidak ada saya."


"Trimakasih Pak Radit, tolong antar aku kesana."


Raut wajah dahaga akan belalaian terpancar dari wajah-wajah buruh kayu yang Devi lewati, dia berjalan menunduk,vtidak berani menatap wajah mereka. Devi diantar menuju belakang Kantor, dia cukup terkejut dengan sebuah rumah mungil dan halaman besar yang terhampar. Ada beberapa pohon buah di antaranya. p Terkesan sebagai kebun pribadi yang sengaja baru ditanam. Melihat pohon mangga dan jambu air yang berbuah air liur Devi menjadi mau menetes.


"Silahkan masuk bos, rumah ini memang sengaja di bangun kalau ada tamu dari luar yang berkunjung kesini." kata Pak Radit tiba-tiba memeluk Devi dari belakang, rasa rindu yang membuncah membuat Pak Radit nekat. Devi kagetl tidak menyangka, hampir dia berteriak, tapi cepat dia tutup mulutnya dengan tangannya.


"Tenanglah, aku tidak akan berbuat lebih, ak,u hanya ingin memelukmu sesaat. Aku rindu padamu, jangan berteriak nanti semua buruh datang memperkosamu."


Dengan kasar Devi melepaskan pelukan dari sosok pria itu, Pak Radit terkejut karena tiba-tiba tangan Devi melayang.


"Plaakkk...plaakkk...."


"Lancang kau!!" bentak Devi dengan suara ditahan.


"Aku bisa memecatmu." geram Devi dengan mata melotot.


"Aku bisa membuat kau jatuh cinta, tidak ada yang akan membantumu disini. Kau sudah biasa tidur dengan Gurkha, apa salahnya dengan aku. Dia tidak menikahimu, tapi aku bisa mrmbuat kau menjadi permaisuri."


"Tutup mulut iblismu."


"Itu kenyataan, pikirkanlah!. Aku tidak melecehkanmu, cuma melepas rindu sesaat. Kalau cinta bisa di buang aku yang pertama membuang daripada menyiksa bathin. Hasrat untuk menyatu denganmu terlalu besar. Sudah dari kemarin-kemarin aku mencoba untuk mengenyahkan keinginanku untuk mengundang kau kesini, tapi aku gagal mencegah asmaraku yang sudah terlanjur jatuh terhadapmu.


Devi diam tidak berani terlalu prontal dia takut menjadi obyek pelecehan, wajahnya yang cantik kini memerah karena kesal dan takut.

__ADS_1


Mereka akhirnya duduk berhadapan, Pak Radit menyajikan teh hijau dan s beberapa roti manis. Rasanya Devi sudah terbiasa dengan sajian macam ini jika berada di rumahnya dari kecil. Semenjak bersama Gurkha semua berubah, buah dan susu adalah menu utama. Devi jadi memikirkan pria itu yang selalu meninggalkannya sehabis melakukan aktivitas panas. Dasar maniak, manusia iblis. Kadang ia merasa menyesal jatuh cinta kepada Gurkha, buat apa kemewahan ini kalau menjadi istri kedua, dia tidak mau cintanya terbagi.


“Kunjunganmu membuat atmosfir yang berbeda sayank...." ucap Pak Radit sambil menyeruput teh hijau miliknya. Sedangkan Devi diam mematung.


“Aku merasa sedikit lelah dengan perjalanan yang jauh dan rumit, aku orang yang setia dengan pasangan. Sebelum Gurkha memutuskan hubungan kami, aku akan selalu menunggunya, sampai kapanpun."


“Begitu ya, ya sudah kau beristirahat saja, aku akan menjagamu. Jika ada yang mengganggumu panggil aku."


"Tidak akan ada orang yang mau menggangguku, asalkan kau tidak memberikan jalan masuk. Jangan membuat aku membencimu, ingat, aku hanya milik Gurkha!!"


"Dalam percintaan selalu ada badai, dari dua orang yang punya sifat berbeda. Bos Gurkha sangat tampan dan kaya raya, dalam sehari sepuluh gadis perawan bisa dia dapatkan. Tolong kau berpikir realistis, jangan mengharap sesuatu yang jauh dari jangkauan."


Dia menatap Pak Radit tajam, wanita cantik itu sedikit banyak sudah tahu siapa Pak Radit sebenarnya, dibaca dari biodatanya. Perceraian pria itu dengan istrinya yang mencari lelaki lain, adalah sisi gelap mahligai rumah tangga Pak Radit. Semua ini dipicu karena dia berada di hutan berbulan bulan. Devi bersyukur Pak Radit masih menahan diri untuk tidak menggasaknya.


"Maafkan bila aku ikut campur dalam urusanmu, karena aku peduli dan sayang padamu. Sebetulnya aku tak ingin membicarakannya padamu dan menyimpan perasaanku sendiri. Tapi pada akhirnya aku mempunyai keberanian untuk mencurahkan isi hatiku. Jika kau menolak aku bisa maklum, karena aku jauh dari semua yang kau dapatkan dari Gurkha." ucap Pak Radit menatapku.


Devi menggeleng dan menjawab tidak apa-apa. Dan meyakinkan pria itu, jika Gurkha tidak seburuk yang ada dipikiran Pak Radit. Devi tidak ingin Pak Radit mengetahui isi hatinya dan apa yang ia rasakan saat ini. Devi tidak mau menjatuhkan nama baik Gurkha.


"Baiklah, jika kau tak nyaman berada di pelukan Gurkha, tolong pindah ke pelukanku." senyum Pak Radit.


"Aku baik-baik saja. Tidak ada hal fatal yang terjadi antara aku dan Gurkha." ucap Devi datar. Setidaknya itu yang bisa dikatakan kepada Pak Radit.


Devi akhirnya masuk kamar setelah Pak Radit keluar. Hari sudah beranjak malam, tapi di hutan terlihat gelap gulita, padahal baru pukul enam sore Setelah membersihkan diri, Devi rebahan dan mencoba membuka ponselnya, tapi tidak ada sinyal. Tiba-tiba ada suara ketokan di pintu. Devi turun dari tempat tidur dan menyeret kakinya untuk membuka pintu.


"Kleekk....."

__ADS_1


*****


__ADS_2