
Kedua Naga itu melesat ke langit, mereka menuju hutan. Gurkha turun di hutan Sambala, tempat ini biasa di pakai untuk pertarungan para Naga.
Sebuah bukit yang sangat subur yang berada di tengah- tengah laut, jauh dari jangkauan orang, belum pernah terjamah oleh tangan nanusia.
"Aku harapkan kau tidak licik Naga emas, kita hanya berdua disini." Gurkha berdiri di atas batu sambil mengepakan sayapnya dari air hujan. Beruntunglah hujan sudah reda, tapi angin dingin masih menusuk tulang.
"Kau takut Naga Api? kita mungkin baru kali ini bertemu, tapi namamu telah bergaung sampai ke ujung Dunia, jika kau terbang langit pun, seperti ikut bergetar. Kami selalu ingin bertemu denganmu, dan mengkhayal bisa sepertimu. Aku rasa semua perkumpulan Naga di jagat ini ingin berjumpa denganmu."
"Aku sengaja bersembunyi dari pandangan bangsa Naga, karena hidupku sudah aku gadaikan kepada manusia. Jadi, jangan ikut campur dengan rencana hidupku kedepannya baik buruk, semua itu adalah tanggung jawabku."
"Hahaha...kau mulai berbicara sopan seperti manusia, berkata dengan baik dan tertata. Aku datang kesini bukan untuk mencari permusuhan, melainkan mengajakmu kerja sama di dalam memperbanyak Trah Naga. Aku banyak punya warrior dan aturan di bangsaku sangat berbeda dengan aturan bangsa Naga lain." ucap Naga emas berubah tingkah laku. Dia mulai slow motion, dan berbicara halus, tidak menggebu.
"Delapan puluh persen DNA manusia ada di badanku, aku hidup sebagai manusia, bukan sebagai Naga. Jadi, mengertilah bahwa derajat kita atau level kita berbeda jauh, lingkungan kita juga berbeda." jelas Gurkha sedikit menyombongkan dirinya.
"Hemm...karena kita sudah berbeda, aku menginginkan tubuhmu untuk aku kawinkan ke putriku. Dia anak Dewi Gerhana, yang sama saktinya dengan kamu. Penglihatannya juga sangat jauh, sampai satu kilometer." ucap Naga emas membanggakan putri tunggalnya.
"Benarkah ada orang yang sepertiku, punya dua demensi hidup? Tapi aku tidak tertarik pada ajakanmu, aku sudah punya wanita cantik yang siap meneruskan keturunan Trah baru dari Naga Api. Aku akan membuat bangsa baru yang tidak tergempur oleh bangsa Naga manapun. Aku punya misi, Tujuanku memenuhi Bumi dan berkloning."
"Aku mengerti maksudmu, Gurkha, impianmu sesuai dengan impian putriku. Aku minta tolong denganmu, kau lihatlah putriku sebelum kau menolak ajakanku. Jika tidak sesuai dengan seleramu, aku rela kau pergi mengurus masa depanmu."
Gurkha berpikir sejenak, dia ragu untuk pergi meninggalkan Pulau Nusa Dewata, tapi keinginannya untuk mengetahui kehebatan putri Caligula membuat dia setuju dan sepakat mengikuti Naga emas itu.
"Aku menyetujui keinginanmu, tapi bila kau menipuku, aku tidak segan- segan menghancurkanmu." gertak Gurkha kesal.
"Ikutlah denganku, kita akan ke Gunung Tidar menemui putriku."
Langit tidak begitu cerah, tapi hujan sudah usai. Gurkha dan Caligula, kembali menukik tinggi menuju ke awan, mereka melayang di udara, berlomba untuk mencapai Bukit Tidar.
__ADS_1
Kawasan Bukit Tidar sangat menarik, pepohonan sangat rimbun dan tinggi sekali, ada jalan di punggung bukit yang sempit, dengan sisi kiri kanan jurang lembah. Ditambah dengan pemandangan eksotis, suasana alam yang tidak panas dan tidak terlalu dingin. Banyak tanaman buah, yang lebih menakjubkan adalah barisan Naga emas sedang melintas, mereka berbaris menunggu kedatangan Caligula.
Gurkha berdiri di atas batu karang yang menonjol, dia menunggu reaksi gerombolan Naga emas.
Naga emas Caligulsa muncul dari sisi kiri membawa putrinya yang cantik, dibandingkan dengan Devi gadis ini kalah banyak, tapi dari sorot matanya gadis ini berilmu tinggi.
"Kenalkan ini putriku, namanya Arima dia satu-satunya putri Bukit Tidar yang terselamatkan karena tubuhnya sudah sempurna." Caligula datang menyerahkan putrinya.
Ini lebih rumit dari yang aku pikirkan tidak terbayang kalau putri dari Caligula adalah seorang gadis manis tapi masih bersisik. bathin Gurkha.
"Trimakasih Caligula, putrimu sungguh cantik dan manis, sayang aku sudah punya istri. Dan tidak punya pikiran mencari gadis lain."
"Apakah kau tidak bisa mengawinkan aku dalam satu musim, karena aku butuh keturunan. Sedangkan disini tidak ada yang punya fisik sempurna sepertimu." sahut Arima lantang, suaranya menggema, serentak Naga lain membuat formasi tempur.
"Apakah kau menolak putri kami?" seekor Gladiator Naga Emas cepat mendekat dengan wajah sangar. Gurkha masih tenang, karena dia tidak bersalah. Apa yang di ucapkan memang benar.
Wajah Arima terlihat sedih, dia sudal lama menunggu saat ini, dimana seorang Naga yang telah sempurna bisa mengawininya, mencintainya seperti manusia.
Arima segera menjatuhkan dirinya ke tanah berumput dan menangis sedih. Semua kelompok Naga emas ikut bersedih dan merasa marah. Kenapa Naga Api menolak putri mereka, bukankah bangsa Naga boleh kawin berpuluh-puluh kali? tapi mengapa Gurkha tidak mau. Bukankah dia juga binatang, yang tidak mengenal belas kasihan. Begitu istimewakah wanita yang mendampingi Gurkha saat ini? pertanyaan itu berputar di pikiran mereka masing-masing.
"Akhh... aku benar-benar sakit, tidak ada orang yang bisa menolakku. Aku akan bunuh diri kalau kau tidak sudi menerimaku saat ini. Jika ada Naga lain yang sempurna aku akan kawin dengannya, tapi tidak ada, di bumi ini hanya kau yang sempurna." Arima berguling dan menangis.
Caligula mendekati putrinya, dia memekik sedih melihat Arima putus asa. Sepanjang hidupnya dia pergi mengembara mencari suami untuk anaknya, karena Naga yang sudah sempurna sangat langka.
"Putriku, kau jangan bersedih Gurkha tidak menolakmu, kamu akan ikut dengannya dan hidup bersamanya." kata Caligula tanpa tedeng aling. Maklumlah mereka Naga jadi tidak ada sopan santun, atau rasa simpati, mereka tidak mau mengerti dan selalu memaksa kehendak.
"Benarkah itu ayah? aku akan ikut dengan Gurkha, aku akan menjadi pelayannya." Arima berdiri. Gurkha memelototi Arima, dia tidak senang pemaksaan.
__ADS_1
"Apa?, tidak, tidak, aku ingin pulang, aku tidak mau membuat hidupku mundur kembali." keluh Gurkha dan segera menjauh dari Arima.
"Tidak ada yang boleh membantah titah putri kami, jika kamu masih punya nyali untuk menentangnya,aku akan membunuhmu." suara Gladiator mengancam.
"Tenang Gladiator, Gurkha pasti akan mengajak Arima pergi, karena Arima adalah jodohnya, Gurkha tahu itu dan telah lama menunggu." Caligula mencoba menenangkan Gladiator.
"Kamu bilang ingin memiliki Trah Naga baru yang bisa menguasai bumi, akulah yang paling cocok mendampingimu, Naga Api dengan Naga emas akan berkolaborasi." kata Arima menatap Gurkha.
Gurkha menggeleng-gelengkan kepalanya enggan menyahut.
"Kamu saja yang berpikir sendiri, aku ingin pulang kembali ke wanitaku."
"Baiklah, tidak ada yang bisa aku lakukan untuk memaksamu, tapi aku akan ikut di belakangmu."
"Maaf, aku mau pergi." kata Gurkha memaksa pergi. Tapi Caligula cepat menghadang menahannya.
Selanjutnya, Caligula memohon kepada Gurkha, untuk menahan diri semalam saja, supaya sudi memberi latihan kepada Arima ilmu Api.
"Aku ingin satu jurus darimu, untuk menghibur putriku, supaya putriku tidak kecewa." kata Caligula sedih.
"Aku akan memperlihatkan, setelah itu aku pamit. Kita tetap berteman, siapa tahu lain kali kita saling membutuhkan."
"Mari Gurkha, aku ingin semburan api mu, sepertinya sangat langka." kata Arima manja.
Gurkha tidak menunggu dua kali, dia terpaksa pergi ke tanah lapang untuk mengikuti Arima, sekitar tujuh puluh Naga emas bergerombol di dekat pohon Mahoni. Hari semakin sore, cuaca masih mendung. Hawa dingin menusuk tulang.
Kaki Gurkha mulai melejit, berputar dan memasang kuda-kuda, lalu udara panas terbentuk, Gurkha membuka mulutnya dan bersamaan dengan itu semburan api dari mulut Gurkha keluar berantai. Sebuah pohon jati belanda terbakar sampai gosong.
__ADS_1
*****