
Perjalanan Gurkha ke Villa Sambala tidak lepas dari perhatian Naga emas putri tunggal Caligula yang bernama Arima, dia sangat interest terhadap Gurkha. Dari tadi malam dia sudah memasuki kawasan Bukit Sembala, mencari tempat sembunyi di antara cekungan batu cadas dan meringkuk dibawah dinginnya udara malam.
Setelah Matahari menyinari puncak Bukit, Arima keluar menyusuri jalan setapak yang berpasir merah, dia terus berjalan menuju Villa Sembala.
Bertepatan dengan perjalanan Arima, Gurkha berpamitan dengan Devi, yang baru habis mandi. Bau Amber dari tubuh Devi menyapu hidung Gurkha, membuat lelaki itu kembali memeluk wanitanya.
"Sayank, aku sebenarnya tidak ingin meninggalkanmu, tapi aku harus bekerja. Papa memarahiku kalau terus menerus libur." ucap Gurkha polos, sambil menciumi leher Devi.
"Iss..aku sudah mandi, sana kerja. Jangan bikin ulah, masih pagi lho." ucap Devi melepaskan pelukannya.
"Yank, Pak Samin akan membawa dua orang pembantu, untuk tinggal disini melayanimu. Kamu terima ya, jika kamu tidak setuju, katakan kepada Pak Samin."
"Owh...yaya."
"Yank, apa kamu tidak bisa bicara mesra sedikitpun kepadaku, kita sudah menyatu. Aku sangat cinta padamu, sayank."
"Jangan mengharap banyak dariku, kalau kau tidak terima pulangkan aku, semua resiko aku tanggung."
"Hemm...oke lah, aku memang harus mengalah padamu." ucap Gurkha sambil mengecup bibir Devi.
"Aku pergi, jaga dirimu baik-baik, ini ponsel baru untukmu. Di kontakmu hanya boleh ada namaku, untuk sementara kita menutup diri disini, setelah keadaan aman, kamu boleh keluar dengan penampilan baru, nama baru dan wajah baru. Tunggu perkembangan selanjutnya."
"Ya...aku mengerti, pergilah!!" jawab Devi mengambil ponsel yang ber- merk apel 'kroak' itu dengan senang.
Gurkha keluar dari kamar setelah memberi gigitan drakula di leher Devi atau kiss mark, dia menuju ke mobil nya, dengan rasa tidak karuan. Disisi lain dia harus bekerja untuk hidup, sedangkan saat ini dan seterusnya Gurkha merasa sudah cukup kaya.
Dia lebih senang di rumah bersama Devi, meninggalkan Devi bukan ide bagus baginya, tapi mengajak Devi ke Kantor malah akan membuat masalah baru. Bisa-bisa Devi di tangkap polisi.
Gurkha hanya bisa merasa aman, dan tidak perlu kucing-kucingan lagi dengan Goreon, atau tiga pengawal waktu di habitatnya, serta orang- orang yang mencurigainya, jika dia merubah dirinya, misalnya dengan operasi wajah atau tinggal jauh dari lingkungan orang-orang itu. Supaya mereka tidak bisa menemukannya lagi, minimal Gurkha lebih merasa aman kalau tinggal disini.
Pagi ini Gurkha keluar dari Villanya dan memacu mobilnya sedikit lebih kencang, tepat di kilometer pertama Gurkha menepi. Dia seolah mencium bau bangsanya. Bau amis Naga, tapi dia mengabaikannya karena harus cepat sampai di Kantor.
__ADS_1
Arima yang melihat Gurkha sudah pergi sangat bersemangat untuk sampai di Villa Sambala. Sebelum sampai disana, dia transformasi secara harfiah, dari Naga menjadi seorang gadis manis. Setelah itu dia melanjutkan perjalanannya.
Pada saat yang sama Pak Samin juga membawa dua orang wanita pergi ke Villa Sambala. Mereka berjalan kaki, karena rumah Pak samin tidak begitu jauh dari Villa Sambala.
Melihat ada orang berjalan kaki jauh di depannya, pikiran Arima mulai rusak, dia ingin tahu mau kemana mereka bertiga. Dengan setengah berlari Arima mendekati mereka bertiga.
"Halo Pak dan mbak, mau kemana?"
Arima cepat bergabung. Mereka menoleh dan tersenyum kepada Arima.
"Kami mau ke Villa Sambala, Tuan Gurkha membutuhkan dua orang pembantu rumah tangga." Pak Samin menjawab sambil menghentikan langkahnya.
"Kebetulan sekali Pak, saya juga membutuhkan seorang juru kunci dan dua orang pembantu rumah tangga untuk di Villa, saya berani menggaji dua kali lipat, apa Bapak dan Mbak, mau saya ajak ke Villa?"
"Benarkah? dimana Villamu?" Pak Samin langsung tertarik, begitupun kedua wanita itu.
"Villa ku berada di bawah, kita jalan melewati jurang dulu, baru bisa menemukan Villa ku."
Suasana Bukit terkesan sepi, paling ada satu dua mobil yang lewat. Disini memang khusus dibangun Villa atau Hotel. Pemandangannya sangat indah, berada di atas Bukit karang, di sebelah selatan terbentang Laut biru yang menghubungkan Pantai selatan dan di sebelah barat terdapat jurang yang dalam dan terjal. Wilayah barat, ada satu, dua Villa, yang pemiliknya kebanyakan orang asing. Masih ada beberapa lokasi yang jarang di jamah manusia, karena banyak terdapat binatang karnivora. Harga Villa disini juga cukup mahal. Kebanyakan yang punya Villa disini adalah Crazy Rich.
"Mari Pak, kita lewat jalan tanjakan." ajak Arima duluan berjalan.
"Maaf Nona, sepertinya jalan ini tidak bisa langsung ke Villa, kalau tidak salah jalan ini tembus ke Goa."
"Sekarang sudah ada jembatan untuk menyebrang Pak, jangan takut." Arima sedikit memaksa, Pak Samin agak ragu, tapi dia mau mengikuti Arima. Dia percaya kepada Arima.
Mereka lalu turun, karena jalannya sempit dan licin, terpaksa mereka beriringan. Sampai di bawah jalan semakin becek dan bersemak.
"Mbak..tidak ada jalan lain, saya takut karena jalan berada di pinggir jurang."
"Pegang saya..." ucap Arima berdiri di tengah-tengah, dan membentangkan tangannya. Kedua wanita itu spontan memegang tangan Arima, dan mulai melipir di pinggir jurang. Tanpa aba- aba Arima meloncat keseberang dan, kedua orang yang berpegangan jatuh ke jurang, Pak Samin pun ikut jatuh karena tidak menyangka, Arima akan melompat tinggi.
__ADS_1
"Brruuggg...."
"Aduuhhhh....."
Suara kaget dan kesakitan terdengar nyaring. Pak Samin juga oleng dan ikut jatuh ke jurang. Tidak mungkin ada yang tahu atau mendengar teriakan mereka, karena tempatnya cukup jauh di bawah dari jalan raya. Jurang disitu sangat dalam dan berbahaya, banyak biawak dan ular.
Bibir Arima tersenyum miring, mata Naganya merah membara. Tiga penghalang sudah dibunuh, dia pun melanjutkan perjalanannya dengan santai dan tanpa beban. Membunuh hal yang biasa baginya. Dia pergi setengah berlari menuju Villa Sambala yang ada di atas Bukit.
Devi menyeret kakinya, keluar dari kamar menuju ruang depan, ketika bell berbunyi. Dia membuka pintu, dan kaget melihat seorang gadis berdiri di depannya.
"Selamat siang Nona, kenalkan saya Arima, pembantu baru yang di pesan Tuan Gurkha." ucap Arima menatap Devi dengan sorot mata tajam. Ingin sekali Arima merobek tubuh wanita yang berdiri dihadapannya ini. Wanita dari bangsa Manusia yang berani membagi ranjang dengan bangsa Naga.
"Owh...aku Devi. Katanya berdua, mana temannya? dan Pak Samin?"
"Pak Samin sakit, tidak bisa datang, dia juga tidak dapat tenaga wanita lain, jarang ada yang mau bekerja di sini, karena jauh dari keramaian."
"Kamu bisa memasak?" tanya Devi.
"Bisa Nona, saya bekas pembantu, jadi semua pekerjaan saya bisa kerjakan."
"Oke, kalau begitu kamu ikut saya." kata Devi mengajak Arima berjalan mengelilingi Villa.
Devi yang belum mengenal isi Villa, berjalan ke seluruh ruangan. Villa tidak begitu luas, cuma ada 5 kamar tidur plus kamar mandi dalam, dapur, ruang makan, ruang tamu, ruang santai, mini bar, kolam renang.
"Kamu tidur disini dekat dengan dapur." kata Devi menyuruh Arima masuk ke sebuah kamar.
"Baik Nona, saya akan mulai memasak hari ini, jika bahan sudah tersedia." kata Devi menuju dapur.
"Kalau kamu perlu sesuatu panggil aku. Semoga kamu betah disini." ucap Devi meninggalkan Arima.
*****
__ADS_1