
Mereka semua kagum melihat Gurkha si Naga emas. Sedangkan Arima hanya menonton dari jarak jauh. Hawa panas dari bias semburan api, membuat tubuh Arima di banjiri oleh keringat, dan rambutnya yang di kuncir terasa lepek. Arima mengipas wajahnya dengan tangannya sendiri berharap dapat mengurangi rasa panas dari dalam tubuhnya.
Caligula bangkit dari duduknya, dia menyadari Gurkha tidak tertarik sama sekali dengan putrinya, serta merta dia menghampiri Gurkha, lalu bertanya dengan nada was-was.
"Kamu mau kemana, Naga Api?" tanya Caligula berdiri dan langsung menghentikan Gurkha. Saat Gurkha menyadari bahwa, Caligula ingin menahannya, Gurkha cepat-cepat hendak pergi dari Bukit Tidar.
"Aku mau pergi, mohon maaf, sampai jumpa." teriak Gurkha melesat pergi, dia baru menyadari bahwa waktunya terbuang sia-sia.
Rasa rindu kepada Devi menyusup keseleruh jiwanya. Gurkha melayang tinggi, melesat seperti anak panah, dia tidak peduli dengan cuaca yang tidak bersahabat. Wajah wanitanya terbayang terus.
Putri Arima bertransformasi secara harafiah, menjadi Naga emas. Dia ikut melesat setelah berpamitan dengan ayahnya dan seluruh warrior. Arima yakin akan bisa menundukan Gurkha, Naga Api yang termasyur namanya ke seluruh negeri. Harapan untuk menjadi milik Gurkha sangat tebal, dia tidak akan mengalah dengan seorang wanita biasa dari turunan ningrat. Dia pun melesat bak meteor, mengikuti bayangan Gurkha yang berjarak sangat jauh darinya.
Sementara itu, di Apartemen Gurkha, Devi sangat takut di tinggal sendiri oleh Gurkha, seharian dia menahan lapar, hanya bisa minum air mineral yang tersedia di atas meja. Kini hari sudah menjelang malam, Gurkha belum juga pulang, persediaan air sudah habis.
Perlahan Devi keluar dari kamar
berjalan menuju ke dapur, pembantu tidak ada, karena belum pulang dari kampung. Jadi dia harus masak makanannya sendiri. Dia membuka kulkas, berusaha mencari sesuatu di kulkas, tapi dia tidak menemukan sesuatu yang bisa dimasak. Dia yakin tidak mungkin ada mie instan atau makanan ringan yang lain.
Devi mengambil gelas, mengisinya dengan es batu, lalu menuangkan susu cair, yang berada di kulkas. Alisnya berdenyit, karena aroma susu yang aneh, dan rasanya juga aneh, seperti amis lumpur. Tapi Devi tetap menyesapnya sampai habis, sambil menutup hidungnya. Dia kembali berjalan ke arah Freezer, mengambil es batu untuk kedua kalinya, mengisi susu lagi sekali.
Buah yang ada di kulkas di keluarin satu persatu, dia duduk di kursi meja makan sambil mengupas apel dan buah lainnya. Setahunya Gurkha tidak makan daging, mungkin dia vegetarian atau apa namanya, Devi juga tidak pernah bertanya, karena hubungannya dengan Gurkha di mulai karena kemarahan, rasa benci dan dendam.
__ADS_1
Setelah menghabiskan sepiring buah Naga dan dua gelas susu, Devi lalu berdiri menuju kamar di lantai dua. Baru saja naik tangga, Langkah kaki nya terhenti saat dia mendengar suara aneh di luar, reflek dia menoleh ke samping tangga. Karena gelap dia tidak melihat apapun. Kebetulan suasana sangat sunyi dan Devi bisa mendengar suara aneh itu dengan jelas.
Devi lari ke atas menuju kamar, dan menutup pintu. Rasa ingin tahunya sangat besar, perlahan dia menuju jendela, dan mengintip keluar dari sana. Matanya menjelajah, namun dia tidak melihat apapun di luar sana selain gelap dan pepohonan.
Dia mempertajam pendengarannya dari mana suara itu berasal? seperti suara dengusan hewan, itu bukanlah suara ranting pohon atau daun, tidak juga suara orang, itu murni seperti suara dengkuran hewan. Tapi hewan apa?
"Jangan-jangan itu suara Naga!!" gumam Devi ngeri sendiri. Tubuhnya langsung mengkerut karena takut. Seandainya Gurkha ada di rumah dia tidak akan setakut ini. Devi menarik
nafas dalam, menghembuskan nya beberapa kali, dia mengumpulkan nyalinya. Dengan sedikit keberanian Devi membuka jendela kamarnya sambil berteriak kencang,
"KYAAA...." kepalanya lalu melongok keluar. Tidak ada apa-apa. Tidak ada yang namanya Naga. bathin Devi. Dia kembali berteriak ngawur, mungkin tetangga menganggapnya gila, masa bodo lah, yang penting dia bisa mengusir takut nya.
Devi menyipitkan matanya, sekilas ia seperti melihat gundukan besar di atas pohon. Matanya sampai melotot mengawasi benda itu. Seolah benda itu balik menatapnya, dengan kesal Devi melempar botol bekas air mineral, sambil berteriak memaki.
"Devi, ada apa!!" teriak Gurkha yang muncul dari balik pintu, dia melihat Devi lalu menoleh kearah Naga.
"Pergi kau!!" Gurkha cepat mengusir Naga dan menghampiri Devi. Dia tidak tahu apa yang terjadi, meskipun dia sudah mengusir Naga, tapi Devi masih di serang rasa takut yang luar biasa. Dia merasa sesak dan sangat kesulitan untuk bernafas.
"Apa yang kamu lakukan! Kenapa kamu membuka jendela?" teriak Gurkha memeluk Devi, dia sangat panik, mendapati Devi yang nafasnya tersengal-sengal. Jika dia terlambat sedikit saja, Naga itu pasti sudah menculik Devi.
"Maafkan aku... Maafkan aku sayank, tolong jangan menangis... semuanya akan baik-baik saja. Aku berjanji tidak akan meninggalkamu lagi." kata Gurkha menenangkan wanitanya.
__ADS_1
Gurkha menggendong Devi dan membawanya ke tempat tidur, dan membaringkan tubuh wanitanya dengan pelan.
"Sekarang aku sudah ada disini, disampingmu sayank, tenangkan dirimu." kata Gurkha sendu, sambil membelai rambut wanitanya. Dia sangat menyesal meninggalkan Devi.
"Hiks..hiks...hiks..." Devi menangis di pelukan Gurkha. Dia betul-betul trauma berat melihat seekor Naga. Tadi dia hampir pingsan melihat Naga di depan nya, di tambah lagi dengan Gurkha yang berteriak panik, membuat kondisi mentalnya semakin buruk.
Melihat Devi seperti ini, Gurkha ingat Arima, gadis manis putri Caligula yang bisa malih rupa menjadi seekor Naga. Tangan Gurkha yang memeluk Devi terasa dingin dan bergetar. Dia yakin Naga tadi adalah Arima yang bertransformasi secara harafiah.
Ada rasa marah kepada Arima yang sengaja datang menakuti Devi. Dia tidak menyangka Arima mengekor.
Setelah beberapa saat, baru lah Devi bisa bernafas dengan normal, dia segera memeluk Gurkha dengan erat, menangis tersedu-sedu di dada pria itu.
"Aku takut Naga, dia mau menculikku kamu tega meninggalkanku." rintih Devi menghapus air matanya.
"Aku minta maaf, Naga itu tidak mungkin bisa melukaimu. Kita akan pindah, aku akan membawamu jauh dari sini. Aku juga tidak bisa lagi tinggal disini. Kamu tenang dulu... Jangan membuat keputusan saat sedang panik seperti ini... kamu akan baik-baik saja!. Kumohon, kamu tidak boleh panik. Kita akan pergi dari sini, disini benar-benar sudah tidak aman." suara Gurkha terdengar bergetar karena dia sudah mendengar lengkingan suara Naga perempuan tidak jauh dari rumahnya.
"Aku sebenarnya ingin pulang ke rumah orang tuaku dan mengatakan kepada mereka bahwa aku masih hidup."
"Apa yang kamu katakan? itu sangat mustahil, keselamatan mu lebih penting. Jika kamu pulang, seluruh keluargamu akan di bunuh oleh Gatot dan kamu juga sebagai saksi kunci. Disamping itu Naga tetap mengincar dirimu."
"Pokoknya aku ingin pindah dulu dari sini, kemanapun tidak masalah asal tidak disini! Apa kamu tahu? Ini kedua kalinya aku melihat Naga yang sangat mengerikan. Disini sudah tidak aman."
__ADS_1
Gurkha memegang kedua bahu Devi, menenangkan wanita itu yang masih panik. Devi terdiam, dia menatap Gurkha, dia baru sadar jika wajah Gurkha juga sudah sangat pucat dan terlihat gelisah.
*****