
Devi jadi tidak enak hati dengan Arima yang jelas-jelas memusuhinya ada rasa takut ketika melihat sorot mata Arima yang tajam seolah ingin membunuhnya.
"Kenapa di Kantor kamu mengatakan aku calon istrimu. Harusnya kamu bertanya padaku, kita tidak ada hubungan apapun. Kamu menutup aksesku untuk mencari pasangan."
"Aku berharap kamu mau menikah denganku. Kita sudah sering tidur bersama, jadi apa salahnya kita menikah, aku bangga sebagai calon suamimu."
"Tidakk, aku tidak akan mau menikah denganmu, banyak hal yang harus aku selesaikan, aku mau bertemu orang tuaku, aku harus membunuh Gatot dan orang-orang yang ikut membunuh suamiku."
"Jadi kamu istriku yang kabur?" tanya Gurkha pura-pura kaget. Devi terdiam, dia terlanjur keceplosan.
"Aku memilih kabur karena aku ingin bebas untuk menyelesaikan urusan dengan orang tuaku. Aku tidak mau terikat denganmu, karena aku tidak tahu siapa kamu sesungguhnya. Aku menganggap kamu adalah pria yang menganggap aku bonekamu saja." ucap Devi dengan suara meninggi, ia tidak mungkin mengelabui Gurkha, cepat atau lambat Gurkha akan tahu siapa dirinya.
"Pengalaman tidur seranjang pertama kali, hanya denganmu, aku harap sampai terakhir bersamamu. Tidak ada pikiran untuk mencari gadis lain."
"Aku tidak percaya." tungkas Devi.
"Aku bicara sejujurnya, setelah kamu tahu siapa aku dan keluargaku, baru kamu akan percaya." sorot matanya tenang dengan ekspresi wajah yang datar.
"Begini Gurkha, aku akui tempo hari menjadi budakmu, tapi saat ini dan seterusnya aku tidak mau lagi. Najis." kata Devi duduk di sofa ruang tamu.
"Oke, tidak apa-apa aku memberikan kebebasan kepadamu." ucap Gurkha duduk di samping Devi.
Tiba-tiba saja tangan kekar Gurkha sudah melingkar ke leher Devi dan sekali rengkuh tubuh Devi berada di pelukannya. Dasar buaya darat, lelaki brengsek, tindakan Gurkha membuat logikanya menjadi buyar. Gurkha seakan menghipnotisnya.
Dia sangat kasar, tapi dia punya feromon yang berlebihan membuat Devi tak bisa berpaling dari wajah tampannya. Dia lelaki mesum, yang membuat nagih.
Saat bibir pria itu berlabuh di bibirnya dia tidak menolak, walaupun dalam hati mengumpat, tetapi dia juga ingin mencumbu mulut kasar Gurkha, untuk menghilangkan rasa pahit yang lama tidak tersentuh.
Ketika Gurkha melepas ciumannya, Devi baru menyadari mengapa dia mau ikut berkiprah menunjukan hasratnya. Sungguh memalukan!
Astaga, makhluk apapun yang lewat,
__ADS_1
tolong beri aku pintu ke mana saja. Biar aku langsung kabur dari sini, dan lenyap. Ambil alih ketidakwarasanku, aku ingin akal sehatku bekerja dengan tenang. Kurasa aku sudah tak waras. Seandainya tsunami datang, aku rela badanku digilung. Daripada aku berada di situasi yang memalukan begini. Sumpah!! Aku malu berpelukan dengan Gurkha. Otakku tidak sesuai dengan bicaraku barusan. Umpat Devi dalam hati. Dia tidak berdaya ketika tubuhnya telah berada di pangkuan Gurkha.
"Gurkha jangan mengacak-acak, aku sudah katakan, bahwa tidak ada hubungan apapun antara kita." kata Devi menepis tangan Gurkha yang bergerak lebih berani, dia pura-pura sangar padahal libidonya hampir naik kepuncak. Duhh...otak, tidak bisa diajak kerja sama.
"Ayoolah jangan melawan hasratmu sayank, kita sudah seperti suami istri." bisik Gurkha.
"Aku tidak mau!!" Devi cepat turun dari pangkuan Gurkha, karena malu melihat Arima datang kembali dan berdiri di depan mereka. Mata gadis bersisik itu memerah.
"Ini buah-buahan untuk Tuan, saran saya makan buah dulu, setelah itu Tuan istirahat karena besok mau pergi berperang, jangan mengambil kegiatan lain." ketus suara Arima, ekor matanya melirik tajam kepada Devi.
"Siapa menyuruh kamu datang kesini, taruh buah diatas meja, pergi kamu kebelakang." hardik Gurkha.
Terdengar pekikan halus dari mulut Arima ketika mendengar kalimat menghina dari lelaki adonis itu. Sial!! Arima seperti tidak terima, lebih tepatnya cemburu.
Devi menatap Arima dengan pikiran berselancar, dia menjadi curiga, apa Gurkha pernah meniduri Arima? mereka cuma berdua berada disini. Dalam dinginnya malam apapun bisa terjadi. pikir Devi menggelitik perasaannya.
"Kenapa kau marah Arima, apa Tuan Gurkha pernah menidurimu?" tanya Devi karena tidak tahan melihat sikap permusuhan dari Arima. Sampai Arima mengatakan, pernah, Devi sudah berpikir akan pergi.
"Oh yaa... tanyakan kepadanya kenapa dia memperbudakku, aku tidak merebutnya, tapi dia datang padaku." jawab Devi dingin.
"Arima ke belakang, jangan kau berani memunculkan dirimu disini, atau menyentuh istriku. Kau sudah tahu akibatnya!!" bentak Gurkha dengan parau, matanya mulai merah.
Wajah Arima berubah pias. Mungkin dia tidak menyangka sikap sok nya malah membuat geram sang pujaan hati. Gurkha berdiri, tapi devi menarik tangan Gurkha, ia takut Gurkha akan memukul Arima. Dengan tak tahu sopan santun Arima berlalu begitu saja setelah membuat suasana tak nyaman ini.
Arima cepat melangkah pergi, tanpa menoleh. Dia benci kepada Devi, wanita dari bangsa manusia yang sok manja.
"Tenanglah Gurkha, kenapa kamu marah. Apa yang dia katakan itu semua benar menurut pemikirannya. Apa kamu takut mengatakan bahwa kamu pernah menidurinya?!" ucap Devi sarkas tak kalah dingin.
"Pikiran yang aneh, aku tidak pernah mau dengannya, apalagi menidurinya aku hanya mencintaimu, dan ingin punya keturunan dari wanita ningrat."
lama Gurkha terdiam akhirnya ia sanggup menjawab kalimat kurang ajar yang keluar dari mulut Devi.
__ADS_1
"Aku tidak peduli kepada kalian berdua, aku benci dengan situasi ini, seolah-olah aku sebagai pecundang disini." ucap Devi kesal.
Gurkha berusaha tenang dan menyembunyikan rasa sakit hatinya.
Devi salut melihat Gurkha yang masih mencoba menyunggingkan senyum canggungnya.
"Aku tidak tahu jalan pikiranmu, yang jelas aku menginginkanmu, melebihi siapapun. Aku sangat mencintaimu."
"Aku tidak mau dengan manusia sepertimu, brengsek dan tidak beradab." ketus suara Devi. Dia lelah dengan situasi ini.
"Terserah apa maumu, yang penting malam ini kamu disini." ucap Gurka dengan memohon.
Devi tidak menjawab, dia hanya menoleh tak berniat melihat wajah Gurkha yang bajingan. Namun bukan hanya itu saja, ia juga tidak ingin melihat Gurkha menangis. ia segera memalingkan wajahnya, Ia sudah pernah mengalami sakit lebih dari ini dan ia tak akan menangis lagi.
Gurkha akhirnya berdiri, sekali sentak tubuh Devi sudah berada di gendongannya, tanpa peduli atas penolakan Devi, Gurkha membawa Devi ke kamar.
"Aku tidak mau digasak, kau kejam."
"Tidak ada yang akan memaksamu, aku hanya ingin berdua sebelum aku berangkat ke medan perang." suara Gurkha getir. Mereka berbaring sambil menatap langit-langit kamar.
Dengan senyum terpaksa Gurkha mendekati wanitanya. Devi menatap tak suka dan membalikan tubuhnya menghadap tembok.
"Apa kau tidak sedih kalau aku pergi, atau memang kau tidak senang padaku? aku merasa kau akan bahagia setelah aku pergi. Jagalah dirimu baik-baik." Gurkha sengaja berbisik ditelinga Devi dan menjilati cuping telinga wanitanya, serta mengirimkan gelenyar aneh ke sekujur tubuh Devi.
Devi memejamkan matanya dan menggigit bibir bawahnya menahan erangan yang nyaris keluar dari mulut laknatnya. Astaga...tak akan kubiarkan kau mengkhianatiku mulut!!! desis Devi mengalihkan pikirannya dari sengatan gairah yang coba di sulut lelaki brengsek yang sayangnya sangat menarik gairah primitifnya itu.
Devi membalikkan badannya dan menolak dada Gurkha, jangankan terpental, bergeserpun tidak bisa. Gurkha terlalu kokoh. Gurkha malah menarik pinggang Devi.
Sekarang Devi mati-matian harus menahan gairahnya yang harus datang di saat yang tidak tepat dan dengan orang yang sudah dia caci maki sebelumnya. Semoga saja, dia tidak terperdaya dengan pesonanya. Pesona seorang Gurkha yang tampan dan sexy.
*****
__ADS_1