
Pagi ini Gurkha Gamayo sudah rapi dengan jas hitamnya. Tidak ada orang yang akan menyangka dari mana asalnya pria ini, atau apakah orang ini, manusia? Dia kelihatan sangat sempurna berwujud manusia. Outfit nya yang berharga sembilan digit, membuat penampilannya fashionable.
Pak Surya menyuruh dia kundangan, ke rumah Pak Ridwan Galib, teman bisnisnya. Gurkha datang sendiri.
Kata Pak Surya, putri tunggal Pak Sudrajat akan menikah dengan seorang ningrat, yang sudah cukup umur. mereka dijodohkan karena Pak Sudrajat punya hutang kepada Pak Ridwan Galib, ayah dari Reva Galib.
Mobil Gurkha memasuki Rumah Pak Ridwan. Rumah ini bagus dan sangat mewah, ada unsur modernnya.
Baru masuk Gurkha sudah di sambut oleh dua orang gadis cantik sebagai pagar ayu, mereka berdiri menyapa sopan, sambil mempersilahkan untuk mengambil snack ringan dengan bermacam jenis minuman.
"Selamat datang Gurkha, senang bertemu dengan mu." sapa Tuan Sudrajat ramah, dia adalah ayah dari Devi Laxsmi Dewi, (ini yang Gurkha belum ketahui).
"Baik Om, salam dari Papa, dia tidak bisa datang, karena asam uratnya kambuh." kilah Gurkha. Padahal Pak Surya sedang tidur di Apartement nya, di pijitin bibi Asti.
"Semoga Papa mu lekas sembuh." ucap Pak Sudrajat mengantar Gurkha ke tempat duduk.
Tamu berdatangan, Gurkha duduk tidak jauh dari undangan yang lain Dia merasa gadis disini bersikap aneh terhadap dirinya. Mereka terlihat salah tingkah ketika Gurkha memandang mereka.
Beberapa tamu duduk di sampingnya bergosip tentang Pak Sudrajat yang dulu sukses dan tiba-tiba bangkrut, sekarang putrinya akan dinikahkan dengan anaknya Pak Ridwan, Reva Galib, laki-laki yang menolong bisnis Pak Sudrajat. Kebanyakan para tamu berbicara tentang prestasi yang di ukir Reva Galib selama dia masuk ke dunia bisnis. Bisa dibilang Ridwan dan anaknya adalah bisnisman yang handal.
Mereka berbicara masalah bisnis dan kesuksesan masing-masing. Selalu merasa "paling" mengatakan tentang kesuksesan dari kerjakeras mereka. Sementara para istri sibuk saling memamerkan harta benda yang mereka kenakan. Mulai dari emas, berlian, tas serta pakaian branded yang memiliki harga fantastis
Rumah megah milik orangtua Reva Galib, terasa sudah penuh dengan tamu, disitu juga berkumpul teman bisnis Pak Ridwan, Gurkha sendiri salah satunya. Laki-laki tampan itu menjadi perhatian para tamu. Terutama tamu wanitanya, mereka bergetar hatinya melihat Gurkha yang macho.
Gurkha sekarang duduk bersama Pak Darius embing dan Pak Ahmad Dani kolega Pak Surya, tampaknya dua orang ini seperti teman seperjuangan Pak Surya.
__ADS_1
"Kesuksesan kita kali ini tidak akan sempurna sebelum bisa menjegal Pak Ridwan untuk mendapatkan proyek pembuatan jalan Tol." kata Pak Darius setengah berbisik.
"Saya juga berpikir begitu, kita harus memperlihatkan kerja yang bagus, atau menurunkan sedikit harga. Kita sulit menyaingi Pak Ridwan sebagai rekanan baru, mereka pasti masih ragu tentang kinerja kita, kecuali kita mencari jalan belakang dengan mendekatkan diri kepada para bos yang berwenang, supaya lolos, lagipula di dalam kerja sama ini kita sama-sama diuntungkan. Baik secara posisi di kantor maupun finansial."
"Bisnis itu sangat kejam, saling membunuh." gumam Gurkha.
"Saya tidak perduli dan tidak ingin tahu soal itu. Bagi saya, bisnis itu tidak mengenal rasa iba dan empaty sebelum di bunuh kita duluan membunuh."
"Ya, itulah etika bisnis sesungguhnya selalu kejam dan curang." ucap Pak Darius bersemangat.
Pukul 10.30 WIB, Perbincangan tiga orang beda usia itu terhenti. Mereka menatap pasangan yang baru keluar dan berdiri di depan para undangan. Tuan Reva Galib dan Devi Laxsmi Dewi, putri semata wayang dari Pak Sudrajat. Pasangan ini terlihat sangat serasi, cetar membahana.
Devi tersenyum bahagia, sebentar lagi mereka akan bersanding, dia tidak peduli cemohan orang tentang perjodohan ini. Yang penting orang tuanya terhindar dari penjara, semua perlu pengorbanan, kapan lagi dia berbakti kepada orang tuanya?
Gurkha terhenyak ketika matanya memandang gadis yang menjadi tunangan anaknya Pak Ridwan, , merasa matanya mulai memerah, dia cepat memakai kaca mata hitamnya supaya orang-orang tidak takut melihat keanehannya. Wajah Devi menari-nari di pelupuk matanya.
Seketika, kepala Gurkha berdenyut ia menatap wajah gadis itu. Dia yakin gadis itu adalah jodohnya orang yang dia cari selama ini. Naluri Naganya bergejolak, dia ingin mencuri gadis impiannya itu, namun dia tidak bisa berkutik, karena dia saat ini adalah Gurkha Gamayo, Presiden Direktur Perusahan Surya Beratha.
Acara pernikahan ini mulai berjalan, Devi sangat serius menjalani acara ini. Gurkha mulai gelisah, ada rasa marah ketika Reva mencium bibir gadis itu, darahnya seolah terpacu dengan cepat.
"Aku mau ke toilet dulu." kata Gurkha kepada kedua teman Papanya.
"Silahkan, kami menunggumu." sahut Pak Darius. Gurkha lalu berjalan ke belakang, menuju Toilet. Dia tidak mau membalas pandangan orang, yang kagum melihat wajahnya yang tampan.
Bingung mencari toiletn di bawah, karena penuh, Gurkha di arahkan ke lantai dua.
__ADS_1
"Silahkan Tuan, disini kamarnya kosong, tidak di pakai. Tuan bisa beristirahat tanpa ada yang tahu." seorang pelayan mengantarkan Gurkha mencari toilet.
"Oke, trimakadih bibi."
Gurkha masuk ke kamar, menutup pintu pelan, dia menuju kamar mandi bercermin di depan wastafel. Dia membuka kaca matanya dan melihat matanya yang merah seperti buah Saga. Semuanya tampak sempurna di tubuhnya, hanya sinar matanya yang menyala, membuktikan bahwa dia adalah seekor Naga. Untunglah sinar merah di matanya berangsur hilang. Gurkha menjadi lega. Dia membasuh wajahnya, berharap semuanya kembali seperti semula.
Dia keluar dari kamar mandi dan duduk di sofa tunggal yang berada di kamar itu. Ruangan sedikit berdebu, dia mengibas-ngibaskan pakaian yang dia kenakan. Setelah tenang dia mau keluar, tapi pintu tiba-tiba terbuka. Devi muncul di depannya, mereka sama-sama kaget. Gurkha cepat-cepat memakai kaca matanya.
"Maaf, aku kira tidak ada orang disini. Kenapa kamu disini, ini tempat para wanita." suara Devi meluncur begitu saja, dan dia buru-buru ke kamar mandi.
Gurkha tidak mengerti harus bicara apa, dia menunggu Devi keluar dari toilet. Dadanya bergemuruh, tanpa bisa di hentikan. Dia ingin sekali lagi memastikan, apa benar gadis tadi adalah gadis yang dia tolong waktu itu. Gadis ini cantik dan wangi.
"Maaf Nona, apa aku salah masuk?" tanya Gurkha ketika Devi keluar dari toilet. Gurkha menatap gadis itu dengan seksama.
Devi memandang lelaki tampan yang berada di depannya, tidak mungkin laki-laki ini buta. Stiker Woman yang berada di pintu masuk sudah jelas menunjukan perbedaan jenis, dasar lelaki blangsakkan. bathin Devi.
"Apa kamu tidak bisa melihat Stiker ini, atau memang kamu sengaja bertingkah menyebalkan?" gerutu Devi.
Gurkha tidak menjawab, dia lebih memlih pergi dari sana. Dia turun lewat tangga, dia yakin, gadis ini adalah orang yang dia cari.
Pertemuan ini di luar dugaannya, menguras adrenalinnya, membuat nafsu binatangnya terpacu. Otaknya sulit berpikir, tidak bisa membedakan mana yang boleh dan mana yang tidak boleh.
Gurkha berjalan menjauh, dia menuju taman belakang, di saat yang sangat berbahaya itu seorang wanita datang mendekatinya. Dia adalah Mansri adik Reva Galib. Orangnya cantik dan centil.
⁸*****
__ADS_1