DRAGON PRINCE SCANDAL

DRAGON PRINCE SCANDAL
PRIA ASING


__ADS_3

Jam makan siang sudah selesai, seperti biasanya makanan pagi, siang, dan malam, sudah diatur sama seseorang, pak kurir dari Gofood membawanya ke Kantor. Ntah siapa mengirimnya, tersangka utama adalah Gurkha, tapi belakangan ini, ada perubahan menu, biasanya penuh buah langka, sekarang ada juice, dan roti daging, susu tidak pernah telat.


"Tookk...tookkk...tookk..."


"Masuk...." perintah Devi dengan suara sedikit tinggi.


"Boss, ada Tuan Arga Maheza diluar. Dia ingin bertemu Tuan Gurkha, apa saya persilahkan masuk?" kata Julianty karyawan baru bawahan Pak Romi. Orangnya mungil dan cantik, baru seminggu bekerja dia sudah mengeluarkan tabiat aslinya yang terkesan murahan dan kepo.


"Suruh masuk saja." Devi menatap Juli kemudian mengangguk. Juli paham, kemudian mempersilahkan Tuan Arga Maheza untuk masuk dalam ruangan.


Seorang pria tinggi tegap, tampan, rahangnya kokoh, bibir penuh dan sexy, alisnya tebal rapi, rambutnya sedikit berantakan tapi tetap tidak mengurangi ketampanannya. Umur sekitar tiga puluh tahun, matanya menatap Devi dengan wajah kaku.


"Selamat siang bos, ada Tuan Gurkha saya ada penting dengan beliau." sapa pria itu berdiri.


"Selamat datang Tuan. Mari duduk." Devi berdiri, mempersilahkan pria itu duduk di sofa tamu.


"Trimakasih, saya buru-buru." pria itu tetap berdiri dengan wajah dingin.


"Tuan Gurkha tidak ada, beliau pulang kampung. Mungkin sampai tahun depan dan semua urusan kantor aku yang mengambil alih." ucap Devi merasa kurang senang atas sikap pria itu.


Beberapa menit kemudian Julianty datang dengan nampan berisi dua botol air mineral, dan beberapa kudapan manis sebagai cemilan pengisi ruang pembicaraan kami.


Sudah sering di ingatkan kepada OB dan Juli serta karyawan lain bahwa jangan ada yang menyuguhkan apa-apa lagi, karena sudah lengkap ada di atas meja khusus, buat suguhan untuk tamu.


Devi kemudian memberi isyarat pada Juli untuk meninggalkan ruangan, dia tampak kecewa dan keluar, tidak lupa matanya melirik ke Arga.

__ADS_1


"Jadi kamu sekarang penggantinya, boleh juga." kata pria itu menatap Devi lalu duduk di sofa.


Devi mengangguk. Pria itu berkata to the point, dia ingin bekerja sama di dalam pengelolaan perkayuan. Dan jujur saja dia bisa memudahkan Devi untuk mencapai sebuah kesepakatan tanpa harus berbelit-belit. Devi memuji dalam hati, dia benar-benar rekan bisnis yang berpikiran time is money.


"Saya akan mempertimbangkan, proposal yang Tuan ajukan."


"Panggil saya Arga dan kamu Devi bukhan?!" ucapnya menatap Devi dengan tajam dan acuh.


"Begitulah....." sahut Devi merasa risih ketika Arga terus mencuri pandang serta tersenyum miring.


Dan dalam situasi ini Devi merasa canggung dan bingung. Pembicaraan soal bisnis dengannya sudah usai beberapa waktu lalu. Ia hampir tak bisa memikirkan topik yang sesuai sebagai pengisi waktu.


"Apa kamu tegang karena aku? atau ada hal lain?" tiba- tiba suara Arga bergema, membuat Devi menoleh. Apa raut wajahnya bisa semudah itu diterka? Padahal biasanya ia dengan kuatnya memasang wajah stoic dan orang-orang akan berpikir terlebih dahulu untuk menebak apa yang ia rasakan dan pikirkan. Tapi kenapa pria ini ceroboh sekali berbicara, apa dia telah mengintai dan mempelajari dirinya sepanjang waktu?.


"Saat ini perasaan kita hampir sama, jadi jangan terlalu menjudge." saut Devi sarkas. Ntah kenapa ia merasa pria yang duduk di seberang nya ini membuat dirinya prontal.


"Aku dengar dulu kau mati-matian menolak cinta Gurkha, akhirnya dia menyandramu dan setiap saat menggaulimu, setelah itu kau lari dan merubah penampilanmu." suara pria itu datar dan matanya seolah menelanjangi semua rahasia dapur Devi yang berusaha ia tutup rapat karena itu berupa aib, kini Arga dengan wajah kaku membongkar aib itu dihadapannya.


Devi sempat terkejut, dan memutar otaknya untuk menjawab pelecehan yang keluar dari mulut sexy Arga. Saat ini ia berusaha tenang dengan wajah memerah untuk menyesuaikan obrolan konyol dengan Arga. Siapa pecundang ini, apa Gurkha begitu pongah menceritakan kepada pria ini tentang pelecehan sexual yang dia lakukan setiap saat? kurang ajar!!.


"Aku meragukan kedatanganmu dan tujuan berbisnis mu. Belum pernah ada teman bisnis ku apalagi yang belum masuk hitunganku membahas siapa aku dan apa yang aku lakukan. Aku berharap kau mengerti bicaraku." kata Devi tandas dengan sinis.


"Mohon maafkan ketidak sopananku, aku harap kau tidak marah karena bicaraku sudah ngelantur, semoga tidak mempengaruhi kerjasama yang akan terjalin kedepannya." enteng sekali manusia ini bicara, bibirnya malah tersenyum bulan sabit.


"Tidak masalah, aku rasa memang harus mulai membiasakan diri mengusir orang-orang terdekat Gurkha yang kurang attitude." jawab Devi kesal.

__ADS_1


"Apakah yang aku katakan ada yang salah, atau kau terluka dan tidak mau menerima kenyataan?"


Devi terhenyak, hatinya pilu apapun yang dikatakan Arga itu memang benar, tapi kenapa ia merasa terpukul dan murahan, bukankah apa yang terjadi bukan kehendaknya. Semua itu takdir atau nasib buruk yang ia alami.


Mata Devi terasa panas dan berkabut ia berdiri menuju mini kulkas serta membukanya, tangannya menyentuh sebotol Vodca yang beberapa hari terakhir ini sering ia keluarkan dan membasahi tenggorokannya.


Yach, Devi sering mengunci pintu dan minum sendiri. Dulu ia sangat benci alkohol, bahkan Gurkha biasa minum susu bukan alkohol. Untuk menghilangkan kegelisahan hatinya ia sengaja mencoba, sedikit Vodca. Lalu Devi meletakannya botol itu diatas meja dihadapan Arga. Devi mengambil dua gelas bertangkai dan menyerahkannya kepada Arga.


Devi melihat bagaimana pria itu bereaksi. Namun tidak ada yang lebih konyol selain tingkah Arga yang meletakan Vodca itu ketempatnya semula serta mengeluarkan susu dan menuangkannya.


"Minumlah, jangan menyiksa dirimu, aku tidak akan mengulangi lagi kalau perkataanku membuat kamu terluka."


"Tidak masalah, aku biasa terluka dan dilecehkan oleh orang yang tidak mengerti arti hidup. Dia egois dan sukses membuat aku setiap saat menangis. Ntah dia sadar atau cuma iseng saja, tapi aku merasa semua ini adalah keseriusan yang aku harus pikirkan kedepannya."


"Aku tahu kamu marah, aku benci padamu. Kau hanya pintar dengan pekerjaanmu, tapi kau tidak tegas pada dirimu dan pada cintamu. Aku pikir kau sangat bodoh hingga tega menolak cinta Gurkha, membiarkan begitu saja dia pergi dan menikah dengan orang lain." degg!! wanita itu terlonjak kaget, benarkah ini?


Sediplomatis apapun Arga berujar, tetap saja membuat perubahan besar pada wanita dihadapannya. Tentu saja dalam lubuk hati terdalamnya dia merasa tak enak pada Devi, tapi ini harus dia ungkapkan. Tidak mudah berbicara ke pokok masalah tapi dia pikir Devi tidak akan terluka.


"Maaf, apa aku salah dengar? atau kau mencoba menghancurkan kepercayaanku kepada kesetiaan Gurkha?" tanya Devi gemetar, dia merasa separuh jiwanya melayang.


"Apa kamu berpikir ada keuntungan yang aku dapat dari ceritaku? aku berkata apa adanya dan tidak ingin menghasut siapapun." ujar Arga acuh dia hanya ingin Devi tahu aktivitas Gurkha sekarang.


"Dimana dia sekarang, kenapa kau bisa tahu. Seberapa hubunganmu dengan Gurkha?"


"Kau mengintrogasiku seperti Polisi dan aku tidak akan terjebak. Gurkha adalah teman baikku, aku tidak boleh menyalah gunakan kepercayaannya. Tenangkan dirimu, jika kau sakit hati lebih baik kau menikah dengan seorang manusia baik-baik."

__ADS_1


"Bicaramu tidak bermutu Arga, aku tidak mempercayai ocehanmu. Semua Omong kosong, kau pikir Gurkha bukan manusia, jangan mengajariku." saut Devi kesal. Jauh di lubuk hatinya dia ingin tahu yang sebenarnya tentang omongan Arga.


*****


__ADS_2