DRAGON PRINCE SCANDAL

DRAGON PRINCE SCANDAL
ANCAMAN LELA


__ADS_3

Habis membersihkan diri Devi ingin langsung tidur. Dia tidak peduli kepada Gurkha yang berada di luar kamar. Tadi mereka bertengkar gara-gara perselingkuhan Gurkha dengan Arima. Walaupun Gurkha bersumpah tidak pernah meniduri wanita lain, tetap saja Devi tidak percaya. Dia benci kepada pria yang munafik. Arima bisa dinikahin sedangkan dia hanya digasak saja setiap ketemu. Siapa yang tidak marah.


"Sayank, buka pintu dong, aku mau mandi." teriak Gurkha dari balik pintu.


"Mandi di luar, aku tidak izinkan kamu masuk, aku benci padamu... dasar buaya darat!!"


Wajah Gurkha langsung merah padam, saat Devi menghinanya. Dia cepat pergi ke kamar sebelah untuk mandi dan beristirahat. Tidak akan dia menyalahkan sikap Devi yang cemburu dan terus marah-marah, itu berhak Devi lakukan. Gurkha sangat mencintai wanitanya, dia tidak ingin bersitegang dengan Devi, karena akan membuat dirinya sakit hati.


Saat ini dia belum mampu berterus terang dan menjelaskan siapa dirinya yang sebenarnya. Banyak hal yang membuat hubungannya terganggu. Seperti tuntutan Devi yang ingin di nikahinya juga tidak bisa dilakukan dan menjadi pemikiran tersendiri. Kalau sekarang dia menikahi Devi, tentu Kakek ketua akan menyuruh dia kembali ke habitatnya bersama Devi, dan mengurung Devi di Goa sampai melahirkan, jika Devi sudah melahirkan, Devi akan dibakar sama seperti ibunya. Gurkha tidak tahu memilih jalan yang mana.


Selesai mandi Gurkha langsung merebahkan badannya di ranjang rasanya nyaman sekali setelah sekian lama hidup di habitatnya. Saat matanya memandang langit-langit kamar, bau rumput kering tercium menyengat menusuk hidungnya. Gurkha langsung meloncat bangun. Dia lari keluar kamar menuju pintu gerbang dan mendapati Lela sudah berdiri disana.


"Kenapa kamu kesini? jangan bikin ulah, aku tidak ingin calon istriku salah persepsi dan dia ngambek." kata Gurkha menggeram. Wanita hitam manis itu tersenyum genit melihat kedatangan Gurkha.


"Aku merindukanmu, musim kawin belum berakhir, aku minta kau mau kawin denganku untuk membuat keturunan yang sakti." tembak Lela tanpa basa basi.


"Tidak Lela, aku mencintai Devi, tidak ada keinginanku untuk mencari yang lain. Tolong mengertilah." tolak Gurkha, berharap Lela cepat pergi dari situ.


"Aku tidak mau mengerti atau berusaha mundur, tujuan hidupku adalah ingin kawin denganmu."


"Apa kau mau dibakar setelah melahirkan?" Gurkha menakuti Lela.


"Bunuh Kakek beres sudah!!" kata Lela sambil membuka kancing atas kemejanya. Dadanya yang montok menyembul keluar.


"Lela jaga mulutmu, itu tugas Kakek dari leluhur. Jika kau sampai berani membunuh kakek, aku tidak akan segan-segan membunuhmu." bentak Gurkha sangat marah. Dia tidak tertarik sama sekali dengan Lela, apalagi mau menidurinya.

__ADS_1


"Gurkha jangan marah sayang, aku cuma bercanda. Aku akan mengikuti alurmu, yang penting kita kawin." ucap Lela memeluk tubuh Gurkha dengan hasrat yang berkobar.


Terdengar suara sayup-sayup di luar membuat Devi keluar dari kamar. Kakinya melangkah ke pintu gerbang dan dia hampìr berteriak kaget kala melihat Lela memeluk Gurkha.


"Apa yang kalian lakukan? beraninya kau kesini dasar wanita murahan." teriak Devi, tangannya melayang mau menampar wajah Lela, Gurkha cepat memegang tangan Devi, sebab Gurkha tahu Devi akan kesakitan, karena wajah Lela sangat keras.


"Berhenti sayank." Gurkha cepat memeluk Devi yang meronta-ronta.


"Jadi kau membelanya? aku baru tahu ternyata dibelakangku kau main api, menusuk jantungku........" Devi sangat kesal. Seperti biasanya Gurkha diam sambil mencium pipi Devi. Dia memberikan rasa nyaman supaya Devi tidak berontak.


"Tidak begitu sayank, aku tidak ingin tanganmu terluka, aku mencintaimu."


Devi melepaskan dirinya dari Gurkha mata beningnya menyapu sekitar, sebelum akhirnya dia melipat kedua tangan didepan dada. Kemudian memutar kedua bola matanya.


"Devi, kita sama-sama wanita, aku akan bersaing untuk mendapatkan Gurkha. Jika Gurkha tidak mau kawin denganku semua rahasianya aku akan beberkan ke public." ancam Lela.


"Aku akan membunuhmu sampai tuntas!!" teriak Gurkha marah.


"Bunuh aku di depan calon istrimu, supaya dia tahu siapa Gurkha yang sebenarnya. Ada dua puluh lima orang bangsaku di sini dan mereka sudah tahu misiku, jika aku mati sudah dipastikan kau adalah dalang dari terbunuhnya aku." sambung Lela tersenyum puas.


"Katakan apa rahasia Gurkha yang kau pegang, katakan padaku." ucap Devi memandang Lela. Wajah Lela terlihat berminyak di bawah sinar lampu.


"Persilahkan aku duduk di dalam dulu, aku berencana akan tinggal disini." ucap Lela mendekati Gurkha.


"Gurkha aku tidak tahu ada hubungan apa di antara kalian, aku sudah tidak sanggup, silahkan kamu bersama Lela aku memilih pergi." Devi berkata dengan tajam, Gurkha nampak kaget atas respon Devi. Serta merta dia memeluk Devi, kemudian memberi kode pada Lela untuk meninggalkan tempat. Namun Lela tak bergerak. Apa dia bodoh atau tidak tahu malu, Devi menatap mereka berdua. Dan Gurkha menyerah untuk tidak mengusirnya.

__ADS_1


Baiklah Lela silahkan masuk." ucap Gurkha pada akhirnya. Ada nada terpaksa.


"Aku bermaksud bicara baik-baik padamu Lela, supaya istriku tidak salah paham mengenai hubungan kita." kata Gurkha mengusap wajah tampannya seperti dia tidak nyaman dengan suasana ini. Dia tampak gelisah, raut wajahnya kembali seperti semula, dingin dan tegas. Meski Gurkha berusaha tenang tapi dia tidak kuasa menyingkirkan kegelisahannya.


"Kurasa aku sudah pernah bilang padamu Lela, jangan membawa masalah di kampung kita kesini, dan aku mohon berhentilah mengejarku, kau bisa melabuhkan hatimu kepada laki-laki lain." kata Gurkha setelah kami duduk bertiga di teras depan.


Lela menggelengkan kepalanya, dia dari pertama tidak setuju tentang ucapan Gurkha yang memaksa untuk merahasiakan kehidupannya waktu mereka berada di hutan. Tentu saja Lela masih ingat jelas. Waktu perang di hutan Gurkha merasa kasihan melihat Lela, lantas dia memilih untuk mengampuninya, dengan syarat Lela bisa menutup mulutnya tentang habitat mereka.


"Tentu saja aku ingat. Tapi hari ini kau harus membiarkan kemauanku tinggal disini, karena aku di buru oleh Caligula untuk di bunuh."


Gurkha terdiam tidak menyanggah ucapan Lela. Sesekali mengalihkan padangannya pada Devi, perempuan simpanannya. Devi duduk menunduk memasang kedua telinganya dan Menyimak pembicaraan Gurkha dan Lela yang misterius. Dia tidak habis pikir, apa yang menyebabkan Gurkha seperti orang terpojok.


Apa yang harus dia lakukan, Gurkha menghela napas kemudian kembali beralih pada Lela. Dia menautkan kedua alisnya, seolah tidak paham harus berbuat apa, kalau mengajak Lela tinggal disini pasti Devi akan menolak. Kondisi ini membuatnya pusing, seperti buah si malakama.


"Apa otak cerdas milikmu sedang tersendat? bagaimana mungkin orang sekompeten dirimu bisa seceroboh ini hanya karena seorang perempuan antah berantah yang tiba-tiba nongol. Aku sungguh tidak mengerti, dimana ketegasanmu." ujar Devi marah.


"Maafkan aku sayank, semua ini tidak seperti yang kau pikirkan, Lela adalah titipan dari orang tuanya untuk di jaga. Jadi aku menjaganya, itu wajib, karena dia akan dibunuh oleh penjahat." jelas Gurkha berusaha membuat Devi mengerti.


"Aku juga dijodohkan dengan Gurkha, jadi persaingan ini tetap berlanjut." Lela buka suara, dia menatap dengan tatapan tak suka.


Devi balas menatap Lela dengan tajam dan berbalik menatap Gurkha yang seolah kehabisan kata-kata. Apa-apaan orang asing ini, dia seolah ingin terlibat pada urusan Gurkha. Keberadaannya disini pun harus dipertanyakan. Apakah dia ini datang sebagai sekretaris atau pemuas nafsu belaka? Lela tidak bisa mengerti mengapa hatinya mendadak dipenuhi amarah. Padahal sebelumnya dia tidak pernah tahu dan paham terhadap perasaannya kepada Gurkha.


Lela merasa berada diambang kemenangan. Namun anehnya itu tidak membuatnya senang, karena Gurkha tetap saja memilih Devi sebagai tambatan hatinya. Dia sangat kesal dan berencana akan membunuh Devi.


*****

__ADS_1


__ADS_2