
Semua orang yang berada di Restaurant D'Sixs kaget mendengar teriakan, mereka berlarian keluar. Sungguh kejadian yang membuat mereka emosi melihat dua orang wanita diseret oleh dua ekor manusia Naga. Wanita yang duluan di seret sudah hilang dibawa ntah kemana. Dan wanita kedua terliat mengamuk dan berontak ketika diseret oleh seekor manusia Naga, tidak ada yang berani membantu. Mereka kembali masuk ke dalam Restaurant dan menutup pintu Restaurant.
"Gurkha...Gurkha.....hiks" teriak Devi ketika Arga menyeretnya dengan membabi buta. Devi memberontak serta menggigit tangan Arga. Saat itu Devi merasa Arga sudah berubah menjadi Manusia Naga. Mungkin karena khasiat susu yang setiap hari dia minum membuat dirinya mampu melawan Arga, walaupun dia babak belur di seret Arga.
Malam ini Gurkha berada di air terjun di Bukit Sambala, ia menghibur diri berusaha melenyapkan rindunya kepada Devi, kekasih hatinya yang berada jauh di Pulau Nusa Dewata. Habis mandi dia duduk di sebuah batu besar, sambil mengenang Devi. Saat itu dia seolah mendengar suara Devi memanggilnya, suara itu jauh ribuan mil dari tempatnya sekarang.
Jantung Gurka terguncang hebat saat mendengar suara kekasihnya yang memanggilnya terus menerus. Gurkha menyimpulkan wanitanya kena bencana. Tanpa mengindahkan peraturan yang melarangnya pergi, Gurkha tetap pergi, mengingkari janji dan peraturan yang dibuat oleh Kakek dan Ayahnya. Sebelum Arima melahirkan Gurkha tidak boleh pergi, masa bodoh, dia tetap mau pergi dan dia tidak pernah tidur dengan Arima, tidak pernah menyentuhnya, wanita itu selalu memfitnahnya.
Dia berlari dengan sangat cepat dan beharap jika perasaan sesak dan sakit yang ia rasakan saat ini bisa sedikit lega. Tapi sekencang apapun dia berlari, dadanya masih terasa sesak, air matanya bergulir jatuh. Dia mencengkram pakaian dan menarik bajunya sampai robek. Tangannya memukul dadanya sampai sakit, tapi hatinya tetap ngilu.
Gurkha berlari sangat jauh sampai dia sendiri tidak tahu berada dimana, saat dia menemukan jurang, Gurkha memekik keras sebelum melompat melewati jurang itu. Dia tidak peduli bahaya apa yang ada di bawah jurang itu, atau di hutan malam ini. Otaknya tidak mampur berpikir, dia hanya ingin angin malam bertiup kencang dan mendorong tubuhnya semakin cepat sampai menemui wanitanya.
Dia tidak bisa berhenti khawatir, untuk melegakan perasaan sesak di dadanya, ia lebih memilih fokus melayang rendah, dan tidak mau dilihat oleh bangsa Naga jika terbang di langit. Lebih baik dia luka fisik dari pada harus merasakan sakit hati ini. Rasanya seperti dia berada diatas bara api dan sekarat.
Ingin sekali lidahnya menyemburkan api untuk membunuh orang yang berani melukai wanitanya, kepalanya penuh dengan amarah dan keinginan untuk membunuh siapa saja yang menyentuh jantung hatinya, apalagi ingin mencelakainya, Devi miliknya, tidak ada yang boleh menyentuhnya. Tidak ada yang boleh melihatnya selain dirinya.
Gurkha turun, setelah mencium bau wanitanya, bau amber yang melekat. Gurkha berjalan memastikan tempat Devi di siksa. Matanya fokus mencari wanitanya yang disiksa di sekitar sini, bau darah manusia tercium. Setelah dekat Gurkha terkejut ketika melihat siapa yang menyeret Devi. Dia adalah tangan kanan Caligula, Arga Maheza namanya. Manusia Naga yang mempunyai racun berbisa di pangkal lidahnya.
"Lepaskan atau kau hancur!!" teriak Gurkha menahan marah.
"Kamu pikir aku akan menyerahkan padamu begitu saja, walaupun kau menangis darah."
__ADS_1
"Jangan salahkan aku, kalau hari ini jiwamu tidak ada yang menolong." kata Gurkha meluncur ke arah Arga, tangan Gurkha menarik punggung Arga sampai terjengkang.
"Lepaskan istriku atau Arima akan aku bunuh!!" pekik Gurkha mencekik leher Arga. Tapi Arga tidak mau melepaskan Devi, kukunya sudah menjepit wanita itu, lagi sedikit saja dia bisa menggigit Devi, membunuh Devi dengan racun di mulutnya.
"Ini perintah Caligula, mati disini atau disana sama saja, aku akan tetap membunuh wanita ini dengan racunku." selesai bicara begitu, Arga berusaha melepaskan tangan Gurkha yang mencekik lehernya.
"Matilah kau Arga!!" pekik Gurkha menancapkan kukunya, darah menyembur dari leher Arga, Gurkha cepat mengambil wanitanya dan menendang Arga sampai terjatuh.
Gurkha cepat menyambar tubuh Devi yang masih pingsan, ia bersembunyi di balik batu karang, ia yakin warrior akan datang jika tahu Arga sudah meninggal. Sebenarnya ia ingin membunuh warrior yang lain dengan kedua tangannya sendiri karena mereka telah berani menyentuh wanitanya, namun ia ingat, jika saat ini Devi sedang terluka. Akhirnya Gurkha pergi menjauh sebelum pasukan warrior datang.
Gurkha menjepit Devi dan melayang rendah menuju Villa, ia tidak berani mengambil resiko memasuki hutan, Gurkha melayang dengan sangat pelan agar Devi tidak tambah sakit karena guncangannya.
Sepanjang jalan yang ada dipikiran Gurkha, adalah supaya cepat sampai di tempat. Tubuhnya terasa dingin dan gemetar membayangkan jika ia kehilangan Devi. Devi adalah alasan untuk hidup, Jika Devi meninggal untuk apa ia hidup?
Gurkha mengambil alkohol dan kapas untuk menyadarkan Devi, dia menatap wajah gadis itu, rasanya jantungnya berhenti berdetak saat melihat Devi yang memejamkan matanya dengan wajah yang sangat pucat dan lemas.
"Sadarlah sayank, kekasih ku, aku yang bersalah padamu, semua penderitaanmu karena diriku yang tidak becus merawatmu." suara Gurkha lirih sambil menempelkan kapas yang sudah berisi alkohol di hidung Devi. Tapi Devi tidak bereaksi.
"Sayank, buka matamu sebentar saja Jangan membuat aku nervous, sadar sayank..."
Gurkha sangat panik saat melihat wanitanya tidak bergerak sama sekali. Ia akhirnya cepat mengambil keputusan untuk membawa Devi ke Rumah Sakit. Dia mengangkat Devi dan berlari kencang turun ke bawah, dia tidak peduli kakinya yang terluka atau putus menginjak beling atau duri, asalkan Ia cepat sampai di Rumah Sakit. Bersyukur suasana gelap gulita dan sepi, jadi tidak ada yang mencurigainya. Yang penting Devi hidup walaupun nanti Devi membencinya setelah ini, ia pun tidak peduli.
__ADS_1
Untung dia ingat ada Klinik yang terdekat, tidak begitu lama ia sudah sampai di tempat tujuan.
"Kita sudah sampai sayank!" ucap Gurkha senang.
Klinik ini dan ruangannya membuat Gurkha sangat takut, belum pernah ia ke rumah sakit. Ia bahkan tidak dapat merasakan detak jantungnya sendiri dan bayangan Devi di bawa ke dalam ruangan IGD membuat Gurkha ingin melindunginya.
"Devi, sayank!" panggil Gurkha sekali lagi, sayangnya Devi tidak mampu menjawab. Ia seperti tengah tertidur pulas, di atas brankar.
"Lukanya tidak begitu parah, tapi sepertinya dia diterkam binatang buas atau semacamnya. Setelah sadar dia akan disuntik rabies." kata seorang dokter memeriksa Devi.
"Tolonglah, supaya dia sadar, aku ketakutan melihat dia menutup matanya." jawab Gurkha menahan takut dan sedih.
"Tolong urus administrasinya di depan, sekalian bersihkan tangan anda di wastafel sebelah." ucap seorang suster memandang Gurkha.
"Langit dan Bumi, tolonglah kekasih hatiku, aku begitu mencintainya. Jangan cabut nyawanya." pinta Gurkha memandang langit.
Setelah tiga puluh menit menunggu dalam gundah gulana, kebingungan, seorang suster akhirnya keluar dari ruang IGD dan memberikan kabar gembira kepada Gurkha.
"Istri anda sudah sadar, setelah melunasi biayanya, anda boleh membawa istri pulang."
"Trima kasih suster." ucap Gurkha, air matanya meloncat keluar. Ia tidak malu menangis di depan dokter dan para suster.
__ADS_1
Kemudian, Gurkha menunggu Devi keluar dari ruang IGD dan Gurkha tidak bisa menyembunyikan ephoria nya seolah gerombolan kupu-kupu terbang di wajahnya.
****