
Mogi tersenyum miring ketika dia menyadari bahwa yang mereka ajak bercinta adalah istri Gurkha Gamayo yaitu putri Arima si Naga Emas yang punya racun di pangkal lidahnya. Mogu yang tidak mengerti tingkah Mogi yang aneh malah mendekati Arima.
"Mogu mundur..." pekik Mogi sambil mengibaskan sayapnya.
Arima langsung mengelak ketika Mogi mau menerkamnya. Ia tidak habis pikir kenapa Mogi berubah secara drastis.
"Ada apa ini Mogi, kau bicarakan jika ada yang membuat dirimu marah." Arima heran atas kemarahan Mogi.
Mogi tidak menyahut, dia terus menyerang Arima sambil sesekali menyemburkan asap hitam. Arima lari ke belakang dan memakai tameng tubuh Mogu yang juga heran atas tindakan Mogi.
"Arima, hadapi aku Kematiamu sudah dekat!!" teriak Mogi. Merasa tidak akan menang Arima menggigit leher Mogu, tanpa Mogu bisa melawan.
"Arima beraninya kau membunuh Mogu, aku berjanji akan mengambil jantungmu." teriak Mogi menambah volume serangannya.
Merasa jiwanya terancam Arima memekik nyaring. Suaranya kering terdengar membelah hutan sampai ke telinga Gurkha.
Gurkha yang sedang beristirahat di Kastil tempat Naga Hitam, meloncat bangun. Dia memiringkan badannya mempertajam pendengarannya, dan berharap salah dengar, setelah yakin itu suara Arima yang minta tolong Gurkha berdirì. Tanpa menunggu Bandit, dia pamit melesat, melayang menuju Bukit Tunder.
Walaupun dia tidak mencintai Arima, sepanjang wanita itu ada di tempat nya, dia wajib melindunginya. Gurkha melayang rendah menyusuri hutan dan lembah, angin malam menusuk tubuhnya sampai ke ujung sisik yang terdalam. Bau anyir darah terhendus tajam membuat adrenalin Gurkha melambung naik, dia memastikan Arima dalam bahaya.
Gurkha memekik hebat, membuat tebing-tebing bergoyang, air sungai bergolak, bangsa Naga Api serentak bangun dari tidur lelapnya, serta merta mereka merayap mencari arah suara yang di lontarkan Pangerannya dan mata mereka terbelalak melihat Arima sudah robek dadanya serta jantungnya hilang. Ada dua mayat lagi, satu Goreon dan satu lagi Naga hitam.
"Bagaimana kalian menjaga Arima!!" bentak Gurkha kepada Goreon. Matanya segelap malam, sisiknya berubah merah membara.
__ADS_1
"Maaf pangeran, jika Naga hitam yang membuat ulah mari kita gempur mereka." ucap Goreon takut-takut.
"Lima Goreon ikut aku, habisi mereka ini mutlak kesalahanku yang tidak pernah menunggui Arima." geram Gurkha, ada rasa duka, banyak sisi baik dari Arima, dia sangat rajin mencari buah dan susu dalam waktu yang panjang, walaupun Gurkha tidak pernah mengacuhkannya.
"Sudah semakin gelap mari kita pergi, kalian menghalau kalau ada yang mencoba lari." kata Gurkha mulai mengepakkan sayapnya.
"Siaapp..pangeran." sahut mereka berbarengan.
Mereka kemudian melayang rendah meluncur ke Bukit Gaskhar. Amarah Gurkha mengaduk jiwa, hatinya sakit, dia tidak menyangka Naga Hitam sangat licik.
Tidak begitu lama Naga Api turun ke area Naga Hitam. Mereka akhirnya berhenti lebih kurang sekitar satu kilometer dari tempat Naga Hitam. Gurkha lalu memekik lantang, dia menggeram hebat, dalam hitungan detik puluhan Naga Hitam melayang mendekat.
"Bandit!! apa artinya semua ini? kau sungguh licik. Aku kecewa padamu." teriak Gurkha dengan suara tinggi. Sisiknya memerah, tanda kemarahan nya sudah mencapai seratus derajat.
"Kami tidak melakukan apapun, apa yang membuat kau marah?" tanya Bandit dengan suara datar. Ekspresi wajahnya tetap tenang.
"Kami bersih, jangan sembarangan menuduh." Bandit tidak mengaku.
"Goreon One, tunjukan buktinya!!" teriak Gurkha. Suara pekikan dari Goreon One berkumandang, sebuah benda di lempar kedepan jatuh di depan Bandit. Lemparan jitu.
"Ini bu...bu..kan ..warriorku...." bantah Bandit dengan wajah pucat.
"Menurutku kau sudah mau mengaku sebelum aku mengatakan siapa Naga iini. Aku merasa kita memang tidak berjodoh menjadi patner, aku harapkan kau bersiap melawan aku."
__ADS_1
"Pangeran Gurkha yang terhormat, dia tidak ada hubungannya denganku semua yang dia lakukan merupakan inisiatifnya sendiri." Bandit mulai ketar ketir, dia tahu kekuatan Gurkha.
"Bersiaplah Goreon kalian boleh menyerang Naga-Naga licik ini!!" pekik Gurkha lantang. Kelima Goreon maju ke depan, mereka bertarung secara sportif. saling belit dan Goreon terlihat unggul karena bisa terbang tinggi. Tapi Naga Hitam menang banyak. Mereka hampir tujuh puluh ekor. Para Goreon mulai ke payahan dan mempergunakan lidah api bertempur, begitu pun Naga Hitam mulai menyemburkan asap hitamnya.
"Gurkha lalu maju ke depan, mulai mengibaskan sayapnya, ribuan sisik terlepas menancap tajam di mata para Naga Hitam. Dia merasa Goreon ada yang terkena racun. Gurkha pun mengambil keputusan dan melejit naik ke atas. Sang Pangeran mulai memekik nyaring dan ke tiga Goreon melesat melayang ke angkasa. Saat itulah lidah api keluar dari mulut Gurkha dan menghanguskan semuanya.
Bau daging terbakar sangat kental. tercium di hidung Gurkha dan ketiga Goreon. Mayat berserakan. Pohon hangus terbakar sampai satu hektar. Hutan hancur. Di tengah perang itu, hanya ada empat ekor Naga yang masih berdiri tegak, selebihnya Naga hitam sudah mati. Sisiknya banyak yang hilang dan ada juga menghitam kena imbas dari semburan bisa Naga Hitam. Dua ekor Goreon ikut menjadi abu. Semua terpanggang, hangus.
Gurkha berdiri dengan dada masih bergemuruh, dari dulu tingkah Naga Hitam sudah membuat dirinya kesal. Menurut Bandit ada Naga Hitam yang sudah sempurna dan sekarang berada di Pulau Nusa Dewata, dia harus kembali menjadi manusia dan mencari Naga Hitam di Pulau Nusa Dewata, jangan sampai mereka berevolusi dan memenuhi dunia.
"Goreon ikuti aku!!" perintah Gurkha dengan wajah dingin dan hampa. Matanya masih berapi-api dan nafas nya masih bergemuruh. Dia lalu melangkah mundur, lalu mengajak ke tiga Goreon meluncur ke bawah mengikuti sungai.
Air sungai yang tercemar oleh darah, abu dari pohon yang terbakar, tanah yang retak dan tumpukan tulang berserakan adalah pemandangan yang sudah biasa bagi Gurkha.
Hasrat membunuhnya yang tinggi dan kebenciannya akan kelicikan dari Naga Hitam membuat perang ini terjadi. Setelah melalui malam yang panjang, berperang melawan Naga Hitam, dan merasa bersalah kepada Arima, Gurkha kini melayang dalam kehampaan. Menyusuri sungai bersama ketiga Goreon yang tersisa.
Malam tergantikan fajar, saat sang Surya mulai terbit. Gurkha mulai turun di tebing dan duduk di batu besar. Dia memberi hormat kepada Kakek ketua dan Ayahnya.
"Minumlah Gurkha, atur nafasmu terlebih dahulu. Aku tidak akan mengambil sikap dan menyalahkan dirimu dengan masalah yang kamu hadapi. Tapi tidak ada asap kalau tidak ada api. Apakah kau punya masalah pribadi dengan Naga Hitam sehingga hal ini terjadi?"
"Maaf Kakek ketua dan Ayah, aku tidak sempat memberitahu kalian apa yang terjadi sesungguhnya. Aku memang sedang menjalin hubungan dengan Bandit, ketua Naga Hitam. Kebaikanku disalah artikan, mereka menginginkan diriku mengawini anak Comod dari wanita ningrat. Setelah aku menolak beginilah jadinya." jelas Gurkha emosi.
"Hati-hatilah dengan kelicikan Naga Hitam, begitupun dengan Naga lain. Kita tidak tahu apakah semua Naga Hitam sudah musnah, bisa saja ada yang masih hidup. Aku minta tolong padamu, untuk kembali ke Bukit Gaskhar, membersihkan wilatah itu. Wilayah itu sudah menjadi milik kita dan kita akan memperluas wilayah yang kita punya." ucap Kakek ketua panjang lebar.
__ADS_1
"Menurut Bandit masih ada sekitar dua puluh lima ekor Naga Hitan yang sudah sempurna, kini mereka berada di Pulau Nusa Dewata. Untuk itu aku harus cepat pergi ke Nusa Dewata." ujar Gurkha dengan berat hati karena disuruh kembali ke hùtan.
*****