
Setelah membersihkan diri, dia ingin beristirahat, badannya masih terasa lelah karena digasak Naga. Devi lalu mematikan data selulernya, ia tidak ingin diganggu, tujuannya malam ini adalah tidur nyenyak.
Baru saja ia mau mematikan lampu kamar dan menghidupkan lampu tidur, terdengar suara tapak kaki berat. Devi langsung mengkerut, ia hafal sekali dengan suara itu. Naga!!. Itu suara langkah kaki Naga.
Jantungnya berdebar keras, matanya melirik ke seluruh ruangan mencari senjata untuk memukul Naga itu.
"Tookkk...tookk...tookkk" suara keras ketokan pintu membuat Devi kaget, nafasnya memburu saking takutnya. Devi diam membeku, tanpa mau membukakan pintu.
"Sayank..buka pintunya, aku tahu kamu ada di dalam." Devi terlonjak, itu suara Gurkha. Rasa takutnya berubah menjadi marah. Dia cepat meloncat turun dari tempat tidur dan berkacak pinggang.
"Aku sudah MATI!" pekik Devi kesal.
"Berarti aku salah kamar, ternyata ini kamar mayat." sahut Gurkha sambil tersenyum.
"Pergi kau brengsek, jangan datang lagi. Aku tidak butuh laki-laki buaya sepertimu!!"
Gurkha terdiam marah. Devi selalu mengatakan dirinya buaya, seolah derajatnya terhempas jatuh tidak berharga. Tapi dia harus bersabar menghadapi wanitanya. Ia merasa banyak bersalah karena sering pergi meninggalkan Devi. Sekarangpun ia punya waktu sedikit.
"Aku punya waktu sedikit, sayank. Tolong buka sebentar saja." pinta Gurkha. Devi terdiam, dia juga sangat rindu kepada Gurkha. Kakinya lalu melangkah ke pintu. "Klekk!!"
"Plaakkk.." suara tamparan terdengar nyaring, menggema. Tamparan yang sangat keras, namun Gurkha hanya mengelus pipinya, tidak bergeming, wajahnya bahkan terlihat baik-baik saja, tamparan sekeras itu seakan hanyalah sebuah angin.
Bukannya Gurkha yang kesakitan, malah tangan Devi yang sakit. Devi
mendesis, merasa sakit di telapak tangannya, rasanya perih dan panas. Pergelangan tangannya juga sakit, menampar wajah Gurkha rasanya seperti menampar tembok, keras.
"Sayank, apa yang kamu lakukan? kenapa kamu menampar suamimu?" tanya Gurkha menatap Devi dengan kerinduan yang mendalam. Dia harus banyak belajar menjadi manusia. Kalau di habitatnya betina dilarang menampar jantannya.
__ADS_1
"Aku benci padamu!! itu baru sebuah tamparan besok aku akan menusuk dan membacokmu sampai bonyok." ancam Devi sambil meringis sakit.
"Apa sakit?" tanya Gurkha sambil memegang telapak tangan Devi yang memerah, ia menatap Devi penuh dengan kerinduan.
"Jangan ulangi lagi, tidak boleh kau memukul semaumu, jika masalahnya berat kita bicarakan dulu. Tolong jangan buat dirimu sendiri sakit."
Devi mengerjapkan matanya, dia benar-benar bingung, pria ini tidak marah jika dia pukul, tidak seperti laki-laki pada umumnya. Apakah Gurkha sesabar ini, atau dia sengaja pura-pura bersikap baik supaya hatinya luluh.
Devi menepis tangan Gurkha dan menarik tangannya kencang hingga terlepas dari genggaman pria itu.
Gurkha menoleh, menatap wanita itu dengan penuh kekhawatiran.
"Kenapa sayank, kau merasa sakit di telapak tanganmu? katakan padaku, aku akan mengobatimu." ucap pria itu cemas, dia mendekati wanitanya hingga kini mereka berhadapan satu sama lain. Hampir tidak ada jarak diantara mereka. Ia bisa merasakan desiran nafas dari Devi dan Gurkha ingin melabuhkan bibirnya tapi dia tahan sekuatnya.
"Ada apa sayank, kenapa kau diam saja? kau marah padaku, aku minta maaf jika membuatmu semarah ini."
Devi mendongak kesal dan menatap mata Gurkha yang juga menatapnya. Ia tahu Gurkha banyak berbohong tentang pergi berperang, dan Gurkha tidak mau mengatakan jika dirinya sudah menikah dengan Arima. Dasar penipu.
Untuk sesaat Gurkha kehilangan kata-katanya, ekspresi wajah pria itu juga berubah sedih. Dia tidak tahu darimana harus bercerita.
"Kamu ingin aku pergi? Tapi aku baru saja bertemu denganmu. Aku sangat merindukan dirimu, satu hari terasa seperti seabad tanpamu, tolong mengertilah, aku kesini mencuri-curi supaya tidak ketahuan oleh ketua."
"Tidak usah merayuku, simpan kata- katamu untuk istrimu yang murahan itu. Aku tidak mempan kau rayu."
"Aku tidak punya waktu banyak, jika kau terus menolakku aku mau pergi."
"Jadi kau lebih mementingkan istrimu daripada aku, pergilah!!" ucap Devi membuat Gurkha mengernyit dalam. Gurkha lalu menggelengkan kepalanya keras.
__ADS_1
"Aku tidak suka bicaramu, aku tidak mau pergi sebelum kita tidur berdua, aku ingin punya keturunan darimu."
"Kau anggap apa diriku, seenaknya saja ngomong. Aku tidak mau kau permainkan diriku!!" Devi menghela nafasnya, dia geram sekali sama Gurkha yang menganggapnya barang murahan.
"Kalau begitu apa alasannya kau mengusirku. Kenapa kau ingin aku pergi?" tanya Gurkha memelas.
Raut wajah Gurkha terlihat sedih, dia seperti bocah yang takut ditinggal. Melihat wajah dan suara Gurkha yang seperti akan menangis, Devi menjadi luluh dan tidak tega. Namun dia benar-benar kesal sama Gurkha.
Devi tidak menjawab pertanyaan Gurkha. Dia menghela nafas panjang dan membuangnya kasar, kemudian dia berkata.
"Kau juga tidak mau berterus terang padaku tentang pernikahanmu, aku tahu kau tidak akan mau menjawab, dan memberi penjelasan, siapa yang kau nikahin. Apakah kau malu punya istri murahan dan malu mengatakan alasan yang sebenarnya padaku. Aku tahu kau merahasiakan sesuatu dariku. Oleh karena itu, aku ingin kau pergi dari hidupku. Aku tidak ingin terikat denganmu."
Devi berjalan melewati pria itu yang diam mematung, begitu Devi melewatinya, Gurkha dengan cepat menangkap tangan Devi, menahan wanita itu dan memeluknya dari belakang.
"Kalau aku mengatakannya padamu, apa kamu akan mempercayai ku?" tanya Gurkha, Devi menatap mata Gurkha, ia ingin melihat kejujuran di mata pria itu.
"Itu tergantung. Tapi jika kau bohong padaku, kamu tahu apa yang akan ku lakukan selanjutnya." kata Devi sambil melepaskan pelukan Gurkha.
Pria itu hanya diam tidak melakukan apa-apa. Bukan tidak bisa, tapi dia tidak berani berkata jujur siapa dirinya. Dia takut Devi semakin tidak menyukainya dan menjauhinya jika dia berterus terang.
Dengan setengah hati Devi mendorong Gurkha supaya keluar dan dia menutup pintu itu dengan suara keras. Pintu sudah tertutup rapat, namun Gurkha masih berdiri di depannya, menatap pintu itu dengan nanar. Dia masih tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Hanya karena dia tidak bisa berterus terang Devi memutuskan hubungan. sangat teragis tidak masuk akal. Apakah manusia cepat mengambil tindakan tanpa dipikir? apa tidak ada maaf untuknya?
Dia masih tidak percaya jika Devi tidak mengusirnya, dia tidak percaya jika Devi sangat mudah memutuskan hubungan mereka, meskipun hubungan mereka tidak benar-benar putus. Tapi Gurkha merasa sangat sedih dan kecewa berat, karena Devi terlalu cepat mengambil keputusan. Devi terlalu mudah bicara dan sangat mudah melepaskannya. Tidak seperti dirinya yang akan mati jika tanpa wanita itu. Tadi Devi terlihat bersikap biasa saja seperti tidak pernah terjadi sesuatu, seolah Devi sudah siap melepaskannya.
Gurkha akhirnya berlari ke dalam hutan, dia bertransformasi menjadi Naga, melayang dengan sangat cepat menuju hutan. Ia beharap jika rasa sakit yang menusuk hatinya bisa terobati. Tapi sekencang apapun dia melayang, dadanya tetap sakit, jiwanya seketika hampa. Air mata Naganya merembes jatuh ke bumi.
Gurkha terus melayang di awan, suara tangisnya mengambang dalam kegelapan malam, suara itu semakin jauh... sangat jauh sampai Gurkha sendiri tidak tahu dia ada dimana.
__ADS_1
Gurkha menjatuhkan dirinya di sebuah hutan, ia tidak peduli apa yang ada di hutan ini. Dia putus asa dan jiwanya nelangsa. Dia hanya ingin tenang dan melegakan rasa sesak yang ada di dadanya. Jika dia harus mati lebih baik dia mati karena berperang daripada harus merasakan sakit hati ini.
*****