
Pukul.17.00 wib. Devi berdiri dan meregangkan otot-ototnya. Seharian ia mengerjakan berkas-berkas yang menumpuk itu. Walaupun belum tuntas tapi ia merasa lega sudah bisa menyelesaikan sebagaian tugasnya.
Waktu terus berputar, Gurkha belum juga kembali dengan Pak Romi dan koleganya. Perasaan Devi sedikit khawatir, ada rasa takut menyelimuti hatinya, bagaimanapun juga Gurkha adalah pria pertama yang menjajal ke gadisannya, pria yang pernah membagi Ranjang dengannya. Tidak bisa dipungkiri lagi, bahwasanya Gurkha selalu berada di hatinya. Senang atau tidak, bayangan pria itu mengganggu hidupnya.
Terkadang ia kesal terhadap sifat Gurkha yang edonis, tapi gimana lagi laki-laki bajingan itu selalu saja bisa membuatnya merindu. Tapi ia coba enyahkan pikiran suka itu, jangan sampai ada cinta dihatinya.
Devi mengambil tas Hermes nya, ia harus cepat pulang ke Apartemen, karena sebentar lagi gelap. Tidak mungkin ia menunggu Gurkha disini, bisa-bisa Gurkha curiga padanya. Ia keluar dari ruangan, ternyata ada Pak Asep scurity kantor yang setia menunggunya.
"Selamat sore Nona, saya menunggu Nona dari tadi. Karyawan sudah pulang semua, saya khawatir kalau Nona sendirian di Kantor."
"Trimakasih Pak Asep, saya baru saja mau pulang. Bos juga belum kembali sampai sekarang."
"Mungkin saja bos keluar daerah, Nona pulang saja dulu, tugas saya mengamankan kantor, saya tidak ingin kalau terjadi hal yang tidak di inginkan." jelas Pak Asep sopan.
"Trimakasih ya Pak, saya duluan." kata Devi melangkah keluar.
"Ya Nona, hati-hati di jalan." ucap Pak Asep lalu mengunci pintu.
Malam telah merambah, mendung tebal memayungi bumi, angin dingin datang mencekam menembus ke tulang sumsum, membuat Devi cepat masuk ke mobilnya. Ia memacu mobilnya sedikit lebih cepat. Suara Justin Bieber dengan lagu Ghost menghibur hatinya yang sedang galau. Ntah apa yang membuatnya perasaannya hampa.
__ADS_1
Sampai di Apartemen Devi turun dari mobil dengan tergesa-gesa, tiba- tiba badannya terasa merinding, bulu kuduknya meremang tanpa sebab, ia lama berdiri, meyakinkan dirinya, bahwa tidak ada apapun. Belum pernah ia merasa takut semenjak tinggal di Apartemen ini. Tapi malam ini ia merasa ngeri, ia ingat hantu, seandainya ada hantu ia bisa mati berdiri, tanpa bisa berteriak.
Devi cepet-cepet membuka pintu utama dan masuk, kemudian ia menguncinya dengan rapat, ruangan gelap gulita. Devi menaruh tas nya di atas meja dan meraba tembok untuk menyalakan lampu. Tadi pagi ia lupa membawa remote lampu.
Ketika tangannya hampir menyentuh stop kontak, ia mendengar suara seperti dengusan Naga. Tangannya seketika berhenti bergerak dan jatuh terkulai, Devi sangat takut, ia trauma terhadap Naga. Ketakutannya yang menggila membuat badan Devi gemetar hebat, kakinya beku tidak bisa melangkah sejengkalpun. ia meyakinkan dirinya apakah benar ada Naga di ruangan ini atau hanya ilusi nya belaka.
Devi memberanikan dirinya melihat di dalam kegelapan. Dia kemudian memicingkan matanya berusaha melihat sekeliling ruangan. Matanya nanar ketika melihat gundukan hitam besar di samping pohon hias. Kilatan merah dari kedua mata Naga, meyakinkan Devi, bahwa ini nyata, dan Naga ada di ruangan ini.
"Taap...taap...taap..." Naga itu mulai berjalan dan mendekat, suara tapak
kaki nya terdengar berat. Dada Devi berdegup kencang dan tubuhnya oleng menimpa Naga. Devi pingsan saking takutnya. Naga itu menyeret tubuh wanita itu dan membawanya ke kamar.
Air liur sang Naga menetes melihat pemandangan di depannya, dan ke rinduan itu seolah sirna, kala gejolak gairah meronta mengaduk jiwa sang Naga, semua rintangan yang ada terlupakan. Jiwa binatangnya sangat serakah, tanpa mau peduli terhadap empunya badan. Ia mulai meraba setiap inci tubuh korbannya sambil berbisik,
"Maafkan aku sayank, kau membuat diriku menjadi begini, hidup itu penuh sandiwara dan kita ada di dalamnya." bisik sang Naga, tangan besarnya merengkuh pinggang Devi yang Ramping. Terlihat raut wajah penuh hasrat dari sang Naga menikmati keindahan tubuh Devi.
Tanpa membuang waktu sang Naga merubah dirinya secara harfiah. Dia menjelma menjadi pemuda tampan dam perkasa. Dengan liar Gurkha mulai menyentuh wanitanya, dan meninggalkan jejak drakula di setiap inci tubuh sexy itu. Dia sengaja melakukan kiss mark sebagai bahan pengingat supaya Devi meyakini bahwa penyatuan itu nyata adanya.
Devi belum juga sadar dari pingsan, dengan buru-buru ia melepaskan rindunya kepada wanita itu tanpa bisa di tunda, dan semuanya berjalan lancar. Jiwanya semakin serakah dan mendominasi tubuh Devi, Gurkha pun baru mengerti, inilah hidupnya dan ini yang ia butuhkan setiap saat.
__ADS_1
Seiring dengan derasnya curah hujan dan dinginnya malam, hentakan demi hentakan terpacu dalam melodi yang menimbulkan irama rock, panas dan menggelegar. Dinginnya AC tidak bisa mengusir panas, dan tubuh Gurkha basah kuyup karena keringat.
"Jangan lupakan malam ini sampai kapanpun sayank, aku mencintaimu dan akan selalu menghantuimu di setiap mimpimu." lirih suara Gurkha, ia menyusupkan wajahnya ke ceruk leher wanitanya dan mencium wangi amber dari tubuh Devi yang selalu menggoda dan memikat hasrat nya untuk mendaratkan ciuman mesra tanpa penolakan.
Ketika tubuh Devi terguncang hebat dan ranjang besi itu berderit nyaring, kesadaran Devi mulai pulih kembali. Gurkha tidak memberi kesempatan sedetikpun kepada wanitanya untuk berteriak atau berontak. Jujur saja ia belum pernah berciuman dengan siapapun sebelumnya dan ciuman pertamanya adalah bersama Devi.
Gurkha menyudahi eksekusinya atas lahan yang di klaim sebagai miliknya serta berharap akan ada embrio yang hidup untuk mengikat langgengnya percintaannya. Malam ini tidak akan pernah bisa di lupakan sampai kapan pun, walaupun waktu berdetak meninggalkan masa, cerita cinta sang Naga dengan gadis cantik yang berasal dari keluarga ningrat, tidak akan lekang di hajar zaman.
Gurkha cepat menarik dirinya dari Ranjang, melompat turun dari sisi wanitanya. Terdengar umpatan kasar dari mulut manis wanitanya yang marah.
"Apa kau sinting memperkosaku dalam keadaan tidak sadar. Kau gila! Psikopat! Maniak! Buaya Darat!"
Gurkha menahan langkahnya, mata merahnya seakan menyala di dalam ke gelapan, ia merasa terhina dengan racauan dan teriakan wanitanya. Ia sangat marah, selalu saja wanita itu menghinanya, menyebut dirinya buaya Darat. Pamor nya jadi merosot tajam, apa harus ia jelaskan, dirinya Naga bukan Buaya. Level nya tidak sama.
Dengan kesal ia kembali mendekati wanitanya, dan mengunci tangan Devi. Wanita itu mulai panik, ia tidak bisa melawan sedikitpun karena kuatnya kuncian tangan pria iblis itu. Dengan kasar Gurkha menghentakan tubuh wanitanya sehingga nembuat mulut Devi menjerit. Gurkha tidak memberi ampun dan gladiatornya melesat liar, jiwa Naganya meronta membuat Devi terus menjerit tidak karuan. Kata-kata makian yang hina terlontar dari mulut Devi dan saat suaranya hendak mengudara, Gurka lebih dulu menutup mulut Devi.
Gurkha melepas tubuh wanitanya dan cepat menghilang di balik pintu. Dia harus pergi dari sisi Devi, sebelum wanita itu menyadari bahwa yang mengadu panco dengannya adalah bos barunya. Ia berdecih senang saat mengingat kehebatan dirinya yang bisa mengelabui Devi.
Lamat-lamat ia mendengar suara tangis wanitanya yang mengharu biru, ingin Gurkha kembali memeluk wanitanya, tapi ia urungkan. Gurkha yakin Devi pasti sangat sedih atas kejadian ini, ia berharap setelah ini Devi bisa kembali berlindung padanya.
__ADS_1
******