
Misi lelasani gagal total, Gurkha tidak tertarik oleh kemolekan tubuh wanita itu. Pinggul nya yang besar, hangat dan menggoda, membuat setiap pejantan pasti tergoda.
Gurkha tidak begitu terpengaruh, walaupun bibirnya saja yang tampak menyemangati, sementara hasratnya tidak. Dia memang sedang mencari celah untuk pergi dari situ. Tapi tidak ada kesempatan untuk pamit. Naga Hitam sengaja tidak memberi peluang untuk meninggalkan tempat ini. Padahal Gurkha sudah bosan di sini.
Bagi Lelasani, hubungannya dengan Gurkha seperti melempar kail yang di ikat tali, kalau mengena ikan didapat, kalau tidak kena, tali tarik kembali. Tidak rugi sama sekali.
Sementara Gurkha lebih condong bermain cinta dengan orang yang dia cintai, yang jelas-jelas akan menjadi istrinya, daripada dia disuruh tidur dengan sembarang betina, walaupun cantik dan sexy. Banyak alasan yang sudah dia keluarkan untuk menolak rayuan Lelasani, salah satunya keberadaan Arima yang lagi bunting.
Bagi Gurkha, wanita bukan alat pemuas saja, tapi untuk mendapat kesenangan dan keturunan. Dia tidak akan pernah berpaling dari Devi, wanita itu adalah sorganya yang bisa memperngaruhi masa depannya.
Lelasani berjalan bak ular bergerak di lantai marner, meliuk dengan ekor di goyang genit. Terlihat sangat menggoda dan basah. Bau badan Lela seperti daun mint, segar.
Walaupun dia bisa bertransformasi menjadi manusia, tapi Gurkha tidak melakukannya. Dia akan berubah kalau dia bercinta sama Devi. Lain dengan Lelasani yang cepat merubah wujudnya menjadi manusia.
Mulai dari sepasang kaki jenjang, kulit hitam mulus, pinggang ramping, dada sintal menggoda, serta wajah yang manis dan rambut keriting. Nilai keseluruhan cukup tujuh saja. Karena sopan santun tidak punya, maklum sifat binatangnya masih dominan.
"Hallo sayank...," sapa perempuan bertubuh molek dengan suaranya yang terdengar basah dan manja itu kembali mendekati Gurkha. Tangan hitamnya mengelus punggung Gurkha yang kuat bersisik merah.
"Maaf Lela, tidurlah, malam semakin larut...." ucap Gurkha menatap gadis itu. Lelasani menolak disuruh tidur tangannya malah berselancar bebas ketubuh Gurkha yang berotot.
"Pangeran bisa memulainya kapan pun kau menginginkan, semua ini milikmu, aku pasrah saja." Lelasani berkata sambil memeluk tubuh Gurkha dan sebelum seorang Gurkha terbakar, Lelasani yang justru sudah membara, seperti bara api yang tersulut.
Lelasani langsung memberikan kecupan berantai di bibir Gurkha, sebagai tanda bahwa ia siap dimiliki oleh Naga Api. Lela segera memulai permainan dengan merebahkan dirinya di lantai kotor yang berdebu.
"Aku sudah siap...." rintih Lelasani menatap Gurkha dengan nafas yang mulai terengah-engah. Bagi Gurkha tubuh molek Lelasani tidak bisa membuat hasratnya terpacu. Lela meraba seluruh tubuh Gurkha, tapi ia tidak mendapatkan rangsangan balik.
"Siapa nama istrimu sayank?" tanya Lelasani menyimpan cemburu.
"Arima, putri tunggal dari Naga Emas yang punya racun di pangkal lidahnya."
"Aku ingin berkenalan dengannya."
"Datanglah, Arima akan berteman denganmu."
Sementara itu, para Naga Hitam yang menunggu Ratunya menjadi kesal karena Gurkha tidak membalas cinta Ratunya. Padahal Ratunya sangat sempurna dan menggairahkan.
__ADS_1
"Aku mau membunuh istrinya supaya Gurkha mau kawin dengan Ratu kita." kata Mogu kesal.
"Seret Arima supaya tidak ada keturunan istimewa dari Gurkha ke betina lain." titah Bandit marah.
"Malam ini dua orang warrior harus berangkat. Betina itu lagi bunting,0 lamban jalannya, gampang dijebak, dia tidak mungkin terbang."
"Siaapp, ketua....."
Dengan sembunyi-sembunyi Mogu dan Mogi berangkat menuju Bukit Tunder. Kedua Naga itu melayang rendah melawan angin malam yang sangat dingin. Tekat yang bulat untuk membunuh putri Arima, demi Ratunya membuat kedua warrior itu tidak merasa takut di perjalanan.
Setelah dekat dengan wilayah habitat Naga Api, kedua Naga itu berhenti mereka kaget, dan tidak menyangka kalau di Bukit Tunder penjagaannya sangat ketat, terlihat ada seekor Naga membawa Tahuri berkeliling.
Maklumlah, Naga Api adalah bangsa Naga yang paling dihormati dan paling berkuasa. Ketua Naga Api yaitu Aing Dambala adalah seekor Naga yang bertugas sebagai jagal atau exsecutor calon ibu yang habis melahirkan. Dia akan membakar tubuh wanita itu dengan lidah apinya.
"Kita berhenti disini dulu, penjagaan sangat ketat." bisik Mogu
"Kita akan masuk lewat sungai yang berada disebelah kanan, yang penting jaga nafas jangan memekik." bisik Mogu.
"Siaapp...sekarang kita turun saja." mereka berdua merayap turun dan terbang rendah diatas sungai. Sekitar sepuluh kilometer jauhnya, mereka akhirnya menemukan goa dan mencium bau betina yang birahi.
Mogu melongok ke goa dan melihat seekor Naga lagi berguling-guling menahan birahi.
Mereka nenelan liurnya melihat perempuan itu memiliki bokong menawan, hingga mereka mendekat.
"Hai, betina...aku Mogi lagi mencari teman diajak kawin." Arima kaget dan bangun, dia mendekati kedua Naga itu sambil siaga.
"Siapa kalian, kenapa bisa masuk wilayah kami?" tanya Arima waspada
"Kami mencium baumu dan kami terpanggil kesini. Tidak usah basa basi, cepatlah mendekat." kata Mogi ikut mendekat.
Arima perlahan mendekati kedua Naga itu. Mogu menyentuh bokong Arima dengan gairah yang membara, bagian tersebut membuatnya gila.
"Sentuhan yang menghanyutkan, aku menyukai kalian." puji Arima sambil merelakan bibirnya disedot oleh Mogu.
"Ini baru pemanasan," sahut Mogi dengan mata nakalnya yang genit. Dia cepat menerkam buruannya dan berkelana dalam gelapnya goa. Bau lumpur yang basah membuat Mogu dan Mogi tambah bergairah.
__ADS_1
"Weekk...."desah Arima menyeruak saat Mogu menjelajahi seluruh bagian tubuh Arima yang bersisik. Dia mabuk dengan perlakuan kedua Naga itu.
Arima tidak peduli dengan perutnya yang lagi bunting, ini adalah sesi yang dia sering idam-idamkan. Mogu dan Mogi sanggup membuat Arima klepek-klepek tidak keruan. Ini yang terbaik sepanjang perjalanan asmaranya.
Namun sayang kegiatan Arima dan dua ekor Naga Hitam diketahui oleh seekor Naga Api yang sedang ronda.
"Kalian luar biasa, sungguh berani kesini dan berbuat mesum disini." bentak Goreon marah. Serta merta mereka meloncat bangun dan sangat kaget karena kegiatan panasnya bisa diendus oleh salah satu Goreon.
Arima pura-pura baik dan mendekati Goreon serta menggigitnya dengan keras tanpa aba-aba.
"Kroyok dia!!" pekik Arima lancang, dia tiba-tiba menyerang dengan ganas membuat Goreon belum siap. Racun dari mulut Arima tersebar membuat Goreon oleng.
Mogu dan Mogi serentak memukul Goreon dan menyemburkan bisa hitamnya. Goreon jatuh tersungkur dan menjadi bulan-bulanan mereka bertiga. Setelah Goreon mati mereka menyeret tubuhnya dan melempar keluar. Tubuh Goreon tersangkut di pinggir sungai.
Arima tidak sabar kembali melayani Mogu sembari mendorong tubuh Mogi, agar dia fokus dengan Mogu.
Saat itu, kedua matanya terbelalak kaget dan mulutnya menganga. Ini pertama kalinya Arima bertemu dengan permainan yang luar biasa.
Arima pun melancarkan aksinya dengan terburu-buru karena Mogi terus menggerutu. Permainan pertama ini, mampu membuat Arima menjerit dan terus merintih panjang tanpa henti.
Keinginan Mogi tidak sejalan dengan hasratnya. Ketika dirinya dan Arima saling menatap, Mogi malah bergidik kehilangan keinginannya.
Mogi tampak terkejut karena melihat lidah Arima keluar dan berwarna hitam. Mogi melemah tanpa alasan. Ia pun langsung terdiam dan duduk sembari memperhatikan ekspresi wajah wanita itu yang sudah mulai mendekatinya. Mogi menutup mata sesaat, wajahnya tampak kesal.
"Kenapa? Ada yang salah?" tanya Arima memeluk Mogi.
"Maaf, saya memang selalu seperti ini, dan hilang gairah. Tolong lepas tanganmu dan duduk saja."
"Kenapa?" Arima tampak heran dan tidak mengerti, sebab permainan di awal tampak begitu sempurna.
"Siapa kamu, apakah kamu istri Gurkha? tapi tidak mungkin karena istri Gurkha tidak mungkin hidup sendiri di lumpur."
"Hemm...kau siapa? datang kesini dengan tujuan apa?" tanya Arima mundur selangkah.
"Itu tidak penting. Apakah kau istri Gurkha?" tanya Mogi lagi. Mogu yang baru datang dari membersihkan diri di sungai merasa heran melihat mereka bersitegang.
__ADS_1
*****