DRAGON PRINCE SCANDAL

DRAGON PRINCE SCANDAL
KELUARNYA BANGSA NAGA


__ADS_3

Devi mendesak Gurkha supaya menentukan sikap. Dia tidak mau ada duri dalam daging.


"Aku tidak apa-apa kalau kamu memilih Lela, siapapun yang kamu pilih itu menjadi keputusanmu yang sudah kamu pikirkan secara matang." kata Devi tegas, dia sudah capek begini terus, sudah di pakai tapi tidak di nikahin. Siapa yang tidak kesal. Semenjak jatuh cinta sama Gurkha bawaannya tidak pernah tenang, tiap saat pikirannya negatif melulu, rasa cemburu mengaduk jiwa.


"Tenanglah sayank, ini bukan hal yang mudah. Lela adalah anak dari musuhku, jadi aku harus serba hati- hati melangkah. Disini Lela aku pakai umpan untuk menemukan yang lain, jika mereka sudah kumpul, aku akan bertindak." bisik Gurkha membuat Devi heran, dia tidak mengerti masalah ini.


"Apa bicaramu serius?" tanya Devi penasaran. Baru pertama kali dalam hidupnya bertemu dengan seorang pejuang yang "aneh". Mungkin karena dia tidak pernah berperang, jadi merasa aneh ada orang bicara begitu.


"Aku tidak bohong, aku harap kamu mengerti dan bersabar. Aku tidak mungkin menduakan kamu. Habis masalah bangsaku kita akan menikah." ujar Gurkha meyakinkan Devi. Devi mengangguk ragu-ragu. Dia merasa terharu dan emosi.


Nafasnya tersengal, dadanya sedikit sesak, saat menunggu apa yang akan dia katakan selanjutnya kepada Gurkha. Tubuhnya menegang saat merasakan sebuah tangan hangat dan besar menyentuh pundak, dia bisa merasakan sentuhan yang sangat hati-hati dan sangat lembut.


Dia memeluk wanitanya kemudian memajukan wajahnya untuk mengecup kening Devi dengan hangat. Gurkha mencoba membuat Devi tenang.


"Aku mencintaimu sayank." ujar Gurkha seraya tersenyum kearah Devi. Tangannya membelai rambut wanitanya.


Ah.... senyum Gurkha, seakan ingin ******* bibir itu. Bagaimana bisa seseorang memiliki senyum seindah itu? Devi ingin memeluk laki-laki itu, tanpa ingin melepaskannya.


"Cinta tidak perlu diucapkan dengan kata-kata, tapi dengan perbuatan sayank..." sahut Devi akhirnya.


"Tentu saja, aku mengerti." jawabnya pendek. Gurkha lalu berpindah ke belakang meja laptop nya.


"Aku tidak mungkin meninggalkan pekerjaan ini pada mereka setelah meminta Pak Romi beristirahat." ucap Gurkha seraya duduk.


"Tidak apa juga, Pak Romi akan mau mengerjakan, ada Lela dan yang lain untuk membantunya."


Gurkha tidak menjawab apapun, Devi meliriknya kembali. Pria itu malah diam menatapnya. Apa ada yang aneh? Devi tersenyun canggung.


"Apa ada sesuatu di wajahku?" tanya Devi sambil meraba-raba wajahnya.


"Hemm...tentu saja tidak ada. Kamu sangat cantik, tidak ada duanya." katanya dengan mata yang tak lepas menatap Devi. Seketika wajah Devi kembali terasa panas namun kali ini lebih panas dari sebelumnya. Dia langsung mengalihkan wajahnya menghindari tatapan yang intens dari Gurkha. Pria itu seolah ingin memakannya lagi....

__ADS_1


Devi menelan salivanya, membasahi bibirnya yang terasa kering dengan tiba-tiba. Terbayang permainan panas mereka tadi malam. Gurkha selalu perkasa dan romantis.


Gurkha berdiri dan merengkuh tubuh Devi, seolah dia tahu pikiran wanita itu, Gurkhapun mendaratkan ciuman panas kepada Devi. Mereka tampak sangat bahagia.


"Tookkk...tokkk...tokkk"


Suara ketukan pintu yang keras membuat Gurkha melepaskan Devi dari pelukannya. Sosok Lela sudah berada di pintu dengan berkacak pinggang.


"Apa kalian selalu berpelukan sepanjang hari? aku heran kepada kalian, ini sudah sore kapan aku di ajak ke Apartemen?" kata Lela dengan wajah masam.


"Aku akan mengantar kalian." ujar Gurkha cepat.


"Ah, begitu, cepatlah. Cukup aku yang kau antar, temanku bisa datang belakangan."


"Sayank, beresin dulu kita antar Lela ke Apartemen." ucap Gurkha pelan. Devi mengangguk.


Pukul. 16.35 Devi baru sampai di Apartemen, sedangkan Gurkha sudah duluan datang bersama Lela. Saat Lamborghini itu memasuki Apartemen, Devi merasa merinding. Tapi dia tetap turun dari mobil dan mendapati Gurkha berbicara dengan beberapa lelaki.


"Devi, kenapa kau datang, tugasmu bukan disini." ucapnya sinis. Matanya melotot melihat kearah Devi. Lela terlihat aneh dia menatapnya dengan raut wajah membunuh. Devi terkejut dengan tubuh gemetar, walaupun samar tapi dia masih bisa melihat lidah Lela bercabang dengan jelas.


Untuk beberapa saat Devi terhenyak kala matanya menatap Lela tajam, tatapan mata mereka bertemu dan Devi terpaku di tempat karena mata Lela itu.


Devi mendengus pelan, menyebut nama Tuhan yang sebelumnya lupa dia sebut semenjak hidupnya hancur digasak Gurkha.


"Sayank, aku ingin bicara sebentar denganmu." untung Gurkha datang mendekat melewati Lela yang berdiri tidak jauh di depan. Devi mengalihkan matanya dan menatap Gurkha, sementara Lela berdiri dengan rasa curiga.


"Ada apa?" tanya Devi menghela napas. Gurkha menggamit tangan Devi dan menjauh. Devi menurut tidak mengerti.


"Pulanglah sayank, nanti aku akan menyusul. Aku takut laki-laki itu terobsesi denganmu." bisik Gurkha mengecup pipi Devi.


Devi memandang Gurkha dengan khawatir. Wajahnya yang datar tanpa ekspresi tetap terlihat tampan. Tapi kenapa mereka terobsesi dengan dirinya? siapakah mereka? dia ingin bicara berdua saja dengan Gurkha tanpa mereka, tapi sepertinya tidak mungkin. Gurkha berbalik, kembali kepada mereka.

__ADS_1


Devi menoleh kepada semua lelaki itu. "Apa sejak awal aku salah paham berpikir jika mereka terus menerus memperhatikanku? bahkan aku sempat berpikir jika mereka semua seperti siluman?" pikir Devi bergidik bulu kuduknya meremang.


Sebelum merasa penasaran karena terus memikirkan perilaku mereka yang memang aneh, Devi cepat- cepat berbalik tanpa mau menoleh lagi. Sungguh menyebalkan. gerutu Devi menuju mobil.


Devi menundukkan wajahnya, tidak ingin melihat mereka. Dia tidak tahu kenapa, tapi dia tidak menyukainya. Devi juga merasa khawatir pergi dari sisi Gurkha, karena menurut Gurkha kelompok Lela adalah musuhnya.


Ah, suasana hati menjadi kacau.


Devi tahu dia tidak boleh seperti ini, mungkin saja mereka mau menjodohkan Gurkha dengan Lela. Harusnya dia yang mundur dan membiarkan mereka bahagia, dari pada Gurkha mempertaruhkan nyawanya untuk menghindar dari keluarga Lela, siapa tahu mereka dulunya saling menyukai.


Devi memacu mobilnya dengan kecepatan sedang, rasanya bahagia itu sangat jauh dari dirinya. Mungkin orang menilai dari luar hidup Devi sangat sempurna, tapi mereka tidak tahu betapa hatinya sangat hampa.


Sampai di Villa Devi kaget melihat beberapa laki-laki kekar dan macho berdiri seolah menunggunya. Hatinya langsung was-was, tapi dia tetap melewati mereka. Saat Devi sampai tempat parkir salah seorang dari mereka menemuinya.


"Selamat petang bos, kami dari desa ingin bertemu dengan Tuan Gurkha, apakah dia sudah pulang?"


"Ya, kalian apanya Tuan Gurkha?" tanya Devi waspada.


"Kenalkan saya Goreon one pengawal utama. Kami ada lima belas orang."


"Aku tidak berani memberi kalian izin untuk masuk. Tunggu Tuan Gurkha sebentar lagi datang."


"Owh..begitu, kalau begitu kami akan menunggu disini, trimakasih bos." sahut Goreon One sopan.


"Silahkan kalian duduk di bangku taman." cetus Devi dengan nada yang sedikit tinggi. Devi menunjuk tempat yang dimaksud itu dengan dagunya.


Seolah sejak dari tadi pria itu melamun dan baru saja tersadar, dia menatap Devi penuh dengan kebingungan di wajahnya, sebelum akhirnya dia tersenyum lebar seperti orang bodoh dan mengangguk.


Devi meninggalkan mereka dengan perasaan tidak menentu. Hari ini banyak kejadian yang membuat otak nya penuh praduga.


****

__ADS_1


__ADS_2