
Mentari pagi sudah menyinari Bukit Sambala, Gurkha dan Devi buru-buru bangun. Mereka berencana akan ke Apartemen untuk menitipkan Lela kepada bibi Atik. Kebetulan juga Pak Surya jarang datang kesana, karena Pak Surya dan istrinya sekarang lebih memilih hidup jauh dari hiruk pikuk perjudian serta masalah duniawi, mereka memilih pindah ke sebuah Villa di desa.
Pagi-pagi Lela sudah rapi dengan kostum kerja, badannya yang mungil terlihat kedodoran memakai pakaian jatah Yuli. Tapi dia begitu percaya diri dan tanpa malu-malu menyiapkan susu untuk Gurkha, serta buah-buah langka. Setelah kepergian Arima, ada seorang pemuda yang di utus oleh Gurkha yang biasanya hampir setiap minggu membawakan buah dan susu untuk Devi. Jadi susu selalu tersedia di Kulkas..
"Gurkha, aku menyiapkan susu untukmu. Maafkan aku kalau ada yang kurang." kata Lela dengan lembut. Senyumnya mengembang dan matanya genit memandang Gurkha. Devi melihat Lela lebih tak tahu malu dan terang-terangan ingin mengajak Gurkha kawin.
"Trimakasih, hari ini aku akan membawamu ke Apartemenku, kamu boleh tinggal disitu dengan bibi Atik. Disana lengkap ada, jadi kamu tidak susah mencari sesuatu." Gurkha membuka pembicaraan.
"Jadi, kamu membelikanku Apartemen? apakah artinya kau mau kawin denganku?"
"Lela, Gurkha baik hati padamu dan menyuruhmu tinggal disitu, supaya kau bebas. Sudah ada dua mobil disana, tinggal hubungi semua temanmu yang berada di Pulau Nusa Dewata." jelas Devi tersenyum penuh arti, ia berharap Lela mau dan mereka berkumpul.
"Musim kawin tinggal beberapa hari, apa kau tidak mau kawin denganku?" bujuk Lela menatap Gurkha.
"Hemm...Lela, maafkan aku, terus terang aku tidak pernah memakai kebiasaan itu." kata Gurkha bingung menjawab. Dia takut kalau lela marah dan membuka semuanya. Tapi dia juga takut memberi harapan palsu yang membuat Devi cemburu.
"Bukankah kebiasaan kita, kalau lagi musim kawin tidak boleh ada yang menolak mengawini pasangan?" Lela dengan keukeuh mempertahankan pendiriannya. Devi mulai meradang, ingin sekali dia menampar mulut Lela yang kelewat batas.
"Lela, Gurkha adalah calon suamiku dan kau bukan siapa-siapanya, jadi jangan memaksa hal yang muskil di lakukan oleh Gurkha. Apapun yang kamu bicarakan, itu adat leluhurmu yang tidak sesuai di terapkan disini. Aku mohon berhentilah memaksa Gurkha." kata Devi dengan menohok.
Melihat dan mendengar mulut Lela berbicara, hati Devi sudah eneg!!. Cemburu itu sudah pasti, karena Devi merasa ada rahasia besar yang Lela dan Gurkha sembunyikan.
"Devi, tolong ambil kunci mobil kita akan secepatnya pergi." perintah Gurkha mengusir Devi secara halus. Devi sendiri merasa Gurkha tidak menginginkan dirinya ikut campur dalam perbincangan antara Gurkha dan Lela.
Dengan wajah setenang mungkin Devi keluar dari ruang makan, ia menuju garase dan memanaskan mobil Fortuner milik Gurkha, dia sendiri naik ke mobil Lamborghini dan ke luar dari Villa. Sakit hatinya atas perlakuan Gurkha, dari pertama kali menjalin kasih sampai sekarang, Gurkha selalu menyakiti hatinya.
Devi pasrah saja, dia mengikuti takdir jika memang Gurkha jodohnya supaya semua rintangan ini bisa dia lalui, apabila Gurkha bukan jodohnya supaya dia cepat bisa menghapus cintanya pada Gurkha.
Air mata Devi bergulir di pipinya, ia menangis sedih. Terlalu banyak Gurkha membohonginya. Dia tidak tahu apakah Gurkha benar-benar mencintainya atau cuma iseng saja?
__ADS_1
"Ya Tuhan, aku tidak kuasa menerima cobaan ini terus menerus. Hatiku sungguh sakit." rintih Devi.
Mobil yang dia naiki berlari kencang, menembus jalanan yang berkelok- kelok, naik turun. Hampir saja dia menabrak pejalan kaki yang seenaknya menyebrang pas mobil berbelok.
"Hai.... nyebrang di zebra cross!!" teriak Devi membuka atap mobil. Dia langsung mengacungkan jari tengah.
"Kau yang ngebut naik mobil, dasar manusia sombong!!" Devi kaget mendengar suara pejalan kaki itu seolah sangat dekat. Dia tiba-tiba merinding. Cepat-cepat dia menutup atap mobil dan kembali ngebut. Dia menghapus air matanya dan mulai konsentrasi.
Seandainya ada Naga lewat dalam perjalanan ini tidak mungkin dia bisa selamat. Karena di kanan kiri cuma pohon dan jarang ada mobil lewat. Devi jadi bergidik. Terbayang tubuh Yuli yang di temukan rusak berat, dan jantungnya hilang.
Tidak sampai 30 menit Devi sudah sampai di Kantor. Pak Asep berdiri, menyambutnya dengan senyum di bibir.
"Pagi bos, kenapa tidak bersama bos besar?" tanya Pak Asep sopan.
"Pagi Pak Asep, boss belakangan." jawab Devi sambil membuka kaca mobil. Pak Asep mengerutkan keningnya.
"Ahh? ...apa bos sudah datang?" tanya Devi tidak percaya.
"Sudah dari tadi bersama nona Lela."
"Bos naik apa?"
"Mungkin naik Taxi bos, saya tidak melihat langsung, tahu-tahu sudah disini." jawab Pak Asep.
"Baiklah Pak Asep selamat bekerja."
Rasa penasaran Devi membuat dia cepat turun dari mobil dan buru-buru melangkah keKantor. Banyak pasang mata tertuju padanya dan dia sangat yakin bahwa saat ini gosip mirìng tentang Gurkha dan Lela sedang bergulir. Devi langsung membuka pintu ruangannya tanpa terlebih dulu mengetuk pintu dan apa yang dia lihat?
"Jika kalian ingin melakukan hal itu setidaknya lakukanlah ditempat yang lebih pribadi. Jangan menampakan diri di hadapanku lagi!!"
__ADS_1
Suara dingin yang menusuk itu mengagetkan mereka berdua, dan Lela tersentak kebelakang, dan Gurkha mengambil kesempatan untuk menghindari diri dari Lela. Tapi Lela mendekati Gurkha lagi dan tidak membiarkan pria itu menjauhkan dirinya.
"Lela menjauhlah jangan membuat suasana tambah keruh." bentak Gurkha serba salah.
“Aku tadi bermaksud bermesraan dengan Gurkha kenapa kau datang, tapi tidak apa-apa masih banyak kesempatan yang lain." kata Lela enteng.
Devi menatap Gurkha dengan tajam, Laki-laki itu terlihat tidak tenang dan khawatir. Ia melempar pandangan marah pada Lela.
“Sayank, dia memaksaku dan memelukku, aku tidak melakukan apapun. Jangan marah padaku."
"Jika kau serius ingin hubungan kita berlanjut, buang dia dari kehidupan mu dan dari kantor ini." suara Devi sedikit gemetar.
Mata Devi terhenti kearah Lela Memandangnya dari atas kebawah. Mencemoohnya dengan senyuman sinis.
"Lela jangan murahan, jika kau ingin Gurkha ambilah jika dia mau, tapi jika dia tidak mau lepaskan." geram Devi.
"Dia akan mau jika kau melepaskan, ini adat kami dan aku berhak mempertahankan." sahut Lela menyeringai.
"Apa maksudmu aku tidak paham." Devi melirik Gurkha minta penjelasan dari pria itu, tapi Gurkha malah duduk di sofa.
Pak Romi muncul tiba-tiba, dia Ikut bergabung dalam ketegangan yang sudah terlanjur menguar disana. Matanya kaget melihat pakaian Lela yang terbuka bagian atasnya.
“Pergilah ke ruanganmu Lela, jangan pagi-pagi membuat onar. Kalau kau bandel, aku yang akan memecatmu. Jika kau butuh lelaki, kau boleh pilih salah satu karyawan di Kantor ini." ujar Pak Romi dengan nada marah.
Lela mendecih tidak suka, tapi dia mau menurut dan pergi dari ruangan itu dengan mulut mengerucut. Dia menggerutu tidak jelas, seakan dia korban dari semua itu. Devi tidak respek dengan tingkah Lela yang over acting. Gurkha merasa lega, Lela akhirnya mau pergi. Pak Romi ikut keluar bersama Lela.
Kini hanya ada Devi dan Gurkha di ruangan. Keheningan mendominasi, dan Gurkha sendiri mematung tidak mau menatap Devi yang sangat marah. Gurkha membuka ponselnya dan berpura-pura mengabaikan eksistensinya dengan menyibukan diri seolah-olah banyak Chat yang perlu di jawab.
****
__ADS_1