DRAGON PRINCE SCANDAL

DRAGON PRINCE SCANDAL
GOREON


__ADS_3

Dia tiba-tiba saja mengikuti langkah Devi, seolah tidak mengerti apa yang di perintahkan. Devi cepat berbalik membuat Goreon One menghentikan langkahnya secara tiba-tiba. Pria itu menatap Devi tajam. Devi seolah terbius oleh tatap mata pria itu yang seperti burung elang. Dia merasa merinding karena disini hanya ada dirinya dan Goreon One. Laki-laki itu membuat Devi merasa panas dingin, karena dia terus diperhatikan setiap jengkal tubuhnya. Astaga, pria ini tampan, terlihat sangat tegas dan dia adalah tipe pengawal yang sangat melindungi.


"Kenapa kau mengikutiku?" tanya Devi dengan jantung berdebar.


"Karena kami akan melindungimu dari musuh." jawab Goreon One sambil mengedipkan sebelah matanya. Astaga!! Devi mundur selangkah, terpesona.


"Aku tidak punya musuh, jadi kamu tidak perlu repot-repot melindungiku lagipula aku tidak percaya itikad baikmu." ucap Devi melihat di belakang G. One ada beberapa pria masuk.


"Apa kau tidak keberatan jika kami menginap disini, kau harus setuju dan ini perintah Tuan Gurkha."


Suara G. One memecah pikiran Devi yang fokus dengan beberapa teman G. One yang baru masuk. Ini semua teman atau anak buah Gurkha. Devi tersenyum tipis menyambut mereka.


"Maaf bos, kenalkan aku Goreon Six, kami mengganggu kenyamananmu. Semoga bos sudi memaafkan atas kelancangan kami."


Mereka menatap Devi Menunggu jawabannya. Dan bahkan tidak tahu harus berkata apa lagi mengingat wanita cantik ini sejak tadi diam dan menatap mereka dengan curiga. Dia juga bingung apa yang mereka harus lakukan sekarang.


"Apa bos tidak mendengarkan kita sejak tadi?" tanya G. Six heran.


"Aku mengerti keinginan kalian, tolong kalian menunggu di tempat parkir, supaya aku bisa nyaman." Devi merutuki dirinya yang menjawab dengan suara yang gemetar dan gugup. Padahal dia sudah menahan suaranya agar tidak terdengar aneh. Tapi tetap saja. Wajahnya terasa panas. Dia sangat bersyukur karena Goreon tidak bertanya mengapa dia gemetar.


Devi merasa tegang dan tubuhnya menggigil ketika para Goreon tidak mau mengerti. Mereka keukeuh pada pendiriannya, dan tetap tidak mau keluar. Mata mereka intens menatapi dirinya dari ujung kaki sampai kepala seolah mereka sedang memberi nilai.


"Jika kalian tetap mau di dalam, silahkan duduk di ruang tamu, itupun jika kalian ingin ikut bergabung bersama kita. Kalian harus setuju dan jangan membantah." ucap Devi grogi.


Mata Devi melirik sekilas kearah para Goreon, dengan cepat mengalihkan pandangannya ketempat lain. Dia benar-benar grogi oleh tatapan para Goreon dan membayangkan sesuatu yang aneh dan mengerikan terjadi. Misalnya kalau para Goreon gelap mata, menangkapnya. Jantungnya berdebar sangat keras.


"Trimakasih, kami akan menunggu di ruang tamu." akhirnya G. One berkata dengan sopan. Devi merasa lega dan melangkah menuju ke kamarnya.


Pukul. 18.30 terdengar sayup-sayup suara Gurkha di luar. Devi tidak ingin keluar dan lebih memilih menunggu di kamar. Tidak berapa lama Gurkha masuk ke dalam dan duduk di sisi pembaringan.

__ADS_1


"Sayank, keluarlah kita makan bersama." ucap Gurkha mendekati Devi.


"Aku sudah kenyang, aku risih berada di antara mereka. Kalau boleh tahu, untuk apa mereka berada disini?"


"Untuk menjagamu dari orang-orang jahat seperti kelompok Lela."


"Berarti kamu sudah setuju mereka akan bergabung bersama kita?


"Aku belum meminta pendapat mu, tapi ini untuk keselamatanmu. Setuju tidak setuju, mereka harus disini." ujar Gurkha penuh semangat. Raut wajahnya yang tampan terlihat cerah, mungkin dia merasa lebih percaya diri karena ada para Goreon. Devi hanya mengangguk, meskipun Devi tidak mengetahui alasannya tapi apa yang dikatakan Gurkha benar.


Devi menundukkan kepalanya. Dia menoleh saat merasakan tatapan Gurkha, dan tidak mengerti kenapa Gurkha tiba-tiba memandangnya penuh arti.


"Sayank, apa kau tertarik dengan Goreon One?" degg!! pertanyaan itu membuat Devi gugup.


"Aku terpesona dengannya, tapi aku mencintaimu." jawab Devi apa adanya. Gurkha memeluknya dengan erat seakan takut kehilangan.


"Sayank, kamu akan menurut kan?" Devi segera menoleh pada Gurkha yang berbisik pelan.


"Sekarang Goreon disini, aku tidak bisa tanpa melibatkanmu. Mereka ada lima belas orang dan akan ada yang bekerja di perusahan, aku akan membagi tugas mereka supaya ada disini juga."


"Apakah mereka anak buahmu dan akan menuruti semua perintahmu?"


"Mereka teman sekaligus anak buahku. Bahkan, terkadang aku merasa jika mereka terlalu penurut, dan hampir tidak pernah berdebat apapun keputusanku."


"Aku sungguh penasaran padamu dan kepada mereka. Tapi kenapa aku merasa aura kalian membuat diriku merinding?" tanya Devi mengusap tengkuknya.


"Mungkin karena kamu mencintaiku."


Gurkha tersenyum.

__ADS_1


"Ngawur, jika boleh jujur, aku tidak senang mereka berada disini, sikap mereka yang selalu menuruti perintahmu akan membuat aku terpenjara, aku merasa tidak nyaman Aku tidak tahu apa yang kamu atau mereka pikirkan tentang diriku. Aku bukan siapa-siapa, kenapa kalian sibuk menjaga keselamatanku. Aneh Terkadang aku merasa kamu banyak rahasia dan tidak berterus terang padaku. Apa aku tidak pantas mengetahui tentang dirimu?"


Raut wajah Gurkha memelas, dia memeluk wanitanya dan mengecup pipinya. Hatinya teriris. Tadi Gurkha sempat bertemu Caligula dan dia mengecam Gurkha dan Devi yang telah menjerumuskan Arima ke ujung kematiannya, tanpa menolongnya. Caligula bersumpah akan membalas dendam dan melarikan Devi.


"Bisakah kamu diam di rumah dan jangan bekerja, aku takut sekali kehilanganmu."


"Ayolah sayank, aku aman-aman saja, siapa yang perlu ditakuti? Lela hanya gertak sambel saja, dia cuma cemburu saja. Yang penting kamu tetap setia padaku, tidak ada yang akan terjadi. Biarkan mereka ngoceh di luar, jangan ditanggapi." kata Devi dengan mata yang berbinar. 


Devi berdiri dan membuka pintu sedikit, dia kaget di depan pintu orang-orang itu bergerombol. Cepat dia menutup pintunya kembali dan menghambur kepelukan Gurkha.


"Gurkha, temanmu semua menguping, aku tidak mengerti apa maksudnya." ucap Devi melepaskan dirinya dari pelukan Gurkha, namun Gurkha menahannya dengan kedua tangan kekarnya. Gurkha membelai rambut wanitanya dengan kasih, di habitatnya tidak ada rasa malu, karena mereka Naga. Dan tidak ada rahasia.


"Aku tidak mau membuatmu banyak berpikir, ada saatnya aku akan terus terang denganmu." cetus Gurkha.


"Padahal sebelumnya kamu berjanji akan setuju untuk menikahiku, tapi kapan?" guman Devi.


Devi sengaja mengatakan itu, dia tidak memberikan Gurkha pilihan selain menyanggupinya. Gurkha lalu melepaskan pelukannya dan wajah tampan itu terlihat sedih.


"Dari pertama bertemu denganmu aku sudah ingin menikahimu, kamu adalah takdirku, tapi sayang banyak halangan." ucap Gurkha penuh teka teki. Devi mejebikkan bibirnya, tidak percaya.


"Keluarlah, temani mereka, aku yakin mereka lapar. Kamu harus memesan makanan untuk mereka. Maaf kalau aku tidak bisa membantumu." ucap Devi memandang Gurkha dari samping.


"Aku keluar dulu, tidurlah jika kamu sudah mengantuk. Jangan pernah buka pintu, siapapun mengetuknya. Kecuali aku." pesan Gurkha.


"Terus kamu mau kemana?"


"Aku mau ke kantor bersama mereka, besok mereka sudah mulai bekerja."


"Tapi itu semua bisa dikerjakan besok, kenapa harus sekarang pergi ke Kantor?"

__ADS_1


"Sekalian makan di luar." kata Gurkha pendek." dia lalu keluar setelah terlebih dahulu memeluk Devi dan melabuhkan ciuman mesra.


*****


__ADS_2