DRAGON PRINCE SCANDAL

DRAGON PRINCE SCANDAL
DI ANIAYA


__ADS_3

Mereka saling berpelukan, kemudian orang tua Devi berpamitan dengan Pak Ridwan, Reva dan putri cantiknya Mobil melaju meninggalkan rumah Pak Ridwan, ada rasa bahagia dan lega, walaupun mereka tahu, Devi mau menerima perjodohan ini karena terpaksa. Satu karena hutang, kedua karena takut Devi di culik Naga.


Devi Laxsmi Dewi berdiri terpaku dan melambaikan tangannya dengan haru, sampai mobil itu tidak tampak lagi di matanya. Dia pun berbalik, tanpa sengaja matanya menangkap sesuatu yang besar berlari, Devi mempertajam penglihatannya, ketika dia menoleh ke pojok kanan, dimana terdapat banyak mobil terparkir netra nya melihat seperti seekor Naga. Sinar mentari yang mulai temaram membuat mata Devi tidak begitu awas melihat, penglihatannya jadi terganggu.


Tapi dia yakin bahwa melihat Naga, yang sembunyi di balik mobil. Kalau saja Reva tidak datang pasti dia sudah pingsan. Seluruh badannya bergetar hebat, jantungnya seolah mau meloncat dari dadanya. Devi ketakutan luar biasa.


Bayangan Naga terlintas di otaknya, dia yakin tidak mungkin ada Naga berani melintas disini, mungkin itu ilusinya belaka, yang selalu muncul di bawah sadarnya.


"Reva, kau membuatku terkejut, tadi aku seperti melihat sekelebatan Naga. Aku takut mereka menculikku." kata Devi menghambur ke pelukan Reva.


"Hahaha...kamu selalu mengkhayal, hilangkan rasa takut itu dan kembali pada kenyataan."


Pemuda itu tertawa seraya mengelus pipi kekasihnya dengan lembut, Devi kini sudah resmi menjadi istrinya. Gadis yang sangat dicintainya dan terjaga kesuciannya. Dia adalah pria pertama yang akan menyentuhnya. Matanya yang coklat menatap Devi dengan rasa cinta yang menggebu. Setelah sekian lama, dan dengan banyak rintangan, akhirnya gadis itu bisa dia miliki. Dia sangat bangga.


Sudah tidak asing lagi cerita Naga di ucapkan di Pulau Nusa Dewata. Dulu Devi pernah di culik Naga, tapi bisa selamat karena di tolong oleh Naga yang lain. Bagi Reva ke khawatiran Devi tidak beralasan, Naga tidak mungkin keluar maghrib, Naga akan keluar tengah malam, menunggu orang tidur semua.


Lagi pula Naga menculik perawan saja, dan tidak butuh wanita lain. Kalau saat ini Devi mendadak takut karena teringat kejadian dulu, itu hal yang wajar. Devi pernah di culik, dan menjadi trauma berat.


"Aku seperti melihat Naga." bisik Devi lagi. Dia celingukan. Matanya awas melihat ke belakang.


"Jangan khawatir, suaml mu akan membunuh Naga itu. Aku yakin tidak satupun Naga bisa melewati penjaga di depan. Sepuluh orang kuat, khusus aku sewa, untuk melindungimu."


"Apakah semua pengawal sudah membawa pistol?" tanya Devi ragu.


"Semuanya sudah terlatih. Mari kita ke kamar." ajak Reva tidak sabar.

__ADS_1


"Aku harap malam ini, adalah malam terindah, di dalam hidupku. Semoga aku pria pertama yang menidurimu. Aku tidak sudi mendengar ada anak Naga di perutmu." sambungnya lagi.


Devi terdiam, dia tidak tahu apakah Naga itu sempat menidurinya atau belum. Seingatnya dia pingsan terus menerus. Pikiran Devi jadi gelisah, dia ragu.


"Aku tidak tahu, apakah saat itu Naga meniduriku atau belum. Jika kau ragu lebih baik malam ini kita lewati. Aku akan periksa ke Dokter besok pagi." ragu suara Devi. Reflek, dia memegang perutnya.


Reva merenggangkan pelukannya, ada kecewa dari raut wajahnya. Dia menoleh menatap Devi, seorang gadis ningrat paling cantik di kota Nusa Dewata. Dia rela menikahinya, walaupun masyarakat menilai Devi telah ternoda, bekas istri Naga. Tapi Reva masa bodo, karena dia cinta kepada gadis itu. Apalagi Devi anak tunggal, semua perusahan Devi bisa jatuh padanya.


"Harusnya kamu kemarin ke dokter, mengapa kau sangat lalai." suara Reva menjadi ketus.


"Maafkan aku, tidak terpikir olehku, kalau kamu ragu kepadaku, aku yang salah." sahut Devi berjalan cepat, dia tidak ingin ada yang melihat atau mendengar perdebatannya. Devi naik ketangga menuju lantai dua. Reva mengikutinya dari belakang. Diatas ada banyak kamar, sekitar tujuh yang kosong, Reva memakai satu kamar yang dekat tangga. Selebihnya kosong.


"Kita akan tidur di Bungalow, bukan disini. Semua barang sudah pindah kesana." kata Reva tiba-tiba sambil memegang tangan Devi, saat Devi mau membuka knop pintu.


"Kenapa?" tanya Devi, pertanyaan yang terlanjur keluar dari mulutnya, tentu dia tidak berhak bertanya apapun kepada Reva yang sudah legowo menikahinya.


"Mas, kemana buru-buru?" tanya Mansri heran melihat Reva setengah menyeret tangan Devi dari lantai dua.


"Aku akan tinggal di Bungalow sesuai ketentuan ayah." jawab Reva seolah bergumam.


"Katakan sama bibi untuk membawa makanan ke Bungalow. Aku juga butuh dua orang pengawal, untuk menjaga istriku."


"Apakah Mas Reva berharap Mama dan Papa memberi izin tinggal di Castle?" tanya Mansri memandang kakak nya. Castle semacam tempat berlindung dari serangan Naga, itu di bangun oleh nenek moyang mereka, karena sering ada penculikan gadis perawan di wilayah mereka.


"Aku tidur di Bungalow saja, rasanya para Naga tidak mungkin datang lagi semenjak menculik Devi terakhir." ucap Reva yakin. Dia lalu beranjak dari hadapan Mansri.

__ADS_1


Mansri membiarkan kakaknya pergi tanpa ingin bertanya lagi, memang sudah ada wacana sebelumnya. Reva akan tinggal di Bungalow supaya ada privasi.


Orang tua Reva menganggap Devi sudah aman, dulu Devi pernah di culik oleh Naga, tapi sudah di kembalikan dengan selamat, tidak kekurangan apapun. Itu kejadian yang langka. Biasanya belum pernah ada gadis kembali dengan selamat.


Gadis itu berjalan dengan wajah menunduk, pikirannya melayang ke mana-mana. Disampingnya Reva berjalan dengan gagahnya. DIa akan menjadi pria yang memiliki Devi seutuhnya.


Reva menggandeng tangan Devi masuk ke Bungalow. Ruangannya luas, ada ruang tamu, ruang keluarga dan tiga kamar tidur. Ruang tamu dilengkapi seperangkat kursi tamu, funiture yang modern. Masuk ke kamar tidur yang besar, Devi merasa merinding. Lampu di kamar ini agak suram, ada ranjang besi antik serta lemari jati dari ukiran jepara.


Reva mendorong Devi ke ranjang, seraya membungkuk menghujaninya dengan sesapan ringan. Gadis itu tidak bisa berucap apa pun, serangan Reva membuat dia lupa rasa takut.


"Sebentar lagi akan kubawa kamu menuju sorga dunia, sesuatu yang indah, kita akan melakukan sampai kamu kelelahan.." bisik Reva, seorang laki-laki terpandang di Pulau Nusa Dewata.


Devi terkenal sangat cantik jelita dan anggun, dia juga mencintai Reva dengan sepenuh hatinya, pernikahan mereka terjadi di samping mereka saling mencintai, karena untuk membayar hutang juga.


Kini mereka sudah sah menikah, Devi tersenyum manis ketika tangan Reva melingkar di pinggangnya. Kecupan ringan singgah di bibir Devi. Mereka memasuki kamar yang besar. Sebuah kamar luas sudah di persiapkan sebagai kamar penganten.


"Aku sangat mencintaimu sayank, tidak ada orang lain yang bisa memisahkan kita lagi, selain maut." kata Reva membuka Tuksedo dan melemparkannya ke atas ranjang.


"Ya sayank, hanya maut yang bisa memisahkan kita." sahut Devi duduk di depan meja rias.


"Tokk...tokk...tokk." suara ketukkan membuat Reva menoleh ke pintu.


"Sayank, tunggu sebentar, mungkin ada tamu yang telat datang."


"Aku menunggumu." jawab Devi tersenyum. Reva keluar kamar, Devi melanjutkan membuka kondenya dan membersihkan riasannya. Baru saja dia mau membuka gaunnya, dia kaget, pintu di tendang dengan keras

__ADS_1


empat orang laki-laki berbadan kekar, bersetelan Tuksedo, gerudug masuk ke dalam kamar sambil menyeret Reva, yang wajahnya babak belur dan bengkak. Darah keluar dari sudut bibirnya, pipinya lebam bekas pukulan. Hidungnya berdarah.


****


__ADS_2