
Mata Devi membulat ketika melihat pria yang berada di ambang pintu. Senyum Pak Radit terlihat genit, dan secepat kilat dia mendorong Devi kedalam kamar. Suasananya sedikit gelap, karena lampu emergency nya sudah redup. Sehingga Devi tidak bisa meraba benda yang bisa dipakai senjata untuk melawan Pak Radit.
Devi berusaha tidak berteriak, karena takut semua karyawan menyerbunya, tapi dia kalah kuat dengan pria yang kini telah melemparkannya ketempat tidur. Pria itu lalu menerkam tubuh Devi dengan liar. Seketika memukul badan Pak Radit dengan keras. Pria itu tidak mengelak dan menindih tubuh sexy Devi dengan kuat. Tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata betapa takutnya Devi ketika tangan kekar Pak Radit tiba- tiba merobek bajunya, Devi hanya bisa menggigit tangan Pak Radit dengan keras. Laki-laki itu cuma meringis saja, selebihnya, dia kembali beringas dan mencium Devi dengan liar.
Dada Devi sesak, ia mendorong Pak Radit, tapi badan Pak Radit sangat berat. Kedua tangan Devi tidak bisa bergerak di pegang oleh tangan kiri Pak Radit dan tangan kanan pria itu menarik paksa pakaian yang tersisa di tubuh wanita itu. Pak Radit tambah bergairah ketika dadanya menempel di atas benda kenyal milik Devi.
Pak Radit sangat senang, tinggal selangkah lagi, dia akan menikmati sorga dunia. Tapi tiba- tiba sebuah bayangan hitam muncul di belakang Pak Radit. Dan menarik kaki Pak Radit dengan kasar. Dia dilempar ke atas dan dibiarkan jatuh ke lantai, pria itu lalu pingsan. Suara keras dari tubuh yang jatuh membuat Devi gemetaran. Tidak ada suara teriakan dari mulut Pak Radit karena lehernya duluan di patahkan oleh tangan kekar seekor Naga. Mengerikan. Devi sangat takut dan samar-samar dia melihat Naga yang sangat besar membanting kembali tubuh Pak Radit sampai remuk.
Kemudian tubuh Pak Radit diseret keluar dan di lempar ke sungai besar yang berada di belakang bangunan. Biasanya sungai ini dipakai sarana mengangkut kayu gelodongan oleh buruh. Kayu di lempar ke sungai dan di tunggu jauh di depan.
Selesai membuang Pak Radit Naga itu masuk kembali ke kamar Devi. Lampu emergency sudah mati, mata Naga itu berkilat melihat Kekasihnya ketakutan di balik selimut. Tangan Gurkha perlahan membuka selimut yang menutupi seluruh tubuh wanita cantik tersebut secara perlahan.
"Jangan kau memakanku." suara Devi bergetar lirih saking takutnya. Air matanya menganak sungai.
"Aku berjanji akan memberikanmu daging mentah besok, asal kamu pergi dari sini." ucapnya lagi sambil meringkuk di pojok dipan kayu itu.
Gurkha tersenyum dalam gelap, dia mendekat dan mengelus rambut wanitanya dengan lembut, hatinya ikut menangis melihat kekasihnya ketakutan begini. Haruskah dia katakan bahwa dirinya seekor Naga?
Perlahan Gurkha naik ketempat tidur dan memeluk tubuh wanitanya yang meringkuk dipojok. Jantung Devi serasa copot dan berpacu kencang, dia tidak berani membuka matanya atau berontak ketika bibirnya dilumat habis oleh Naga itu. Dulu Devi selalu pingsan kalau ada Naga datang. Tapi kenapa sekarang dia tidak pingsan??
Ciuman itu begitu lembut dan manis seperti madu. Bau musk dari tubuh Naga itu mengingatkan Devi akan Gurkha, lelaki yang sangat dia cintai. Seolah di kejar waktu Gurkha mulai mengeksekusi lahan yang dia klaim menjadi miliknya.
__ADS_1
"I miss you....." desisan itu bagaikan sebuah mantra yang membuat Devi terperangah, apakah Naga ini bisa bicara? atau dia cuma salah dengar? tapi dia tidak peduli, ia membuka diri dan, tidak mengerti kenapa dirinya begitu luluh terhadap perlakuan, yang dia yakinin ini adalah seekor Naga.
Perlakuan Naga ini membuat dirinya melambung ke awang-awang, dia tidak mampu menolak, dan hanyut kedalam hasrat yang bergelombang menghempas tubuhnya bertubi-tubi sampai berulang kali dia melenguh, dalam kenikmatan yang tiada tara.
Mereka berdua menghabiskan malam ini dengan kenikmatan yang tanpa jeda. Kerinduan Gurkha sedikit terobati, dia mengharapkan lambat laun Devi akan menerimanya dan mengerti bahwa yang dia ajak tidur adalah seekor Naga Api yang bisa bertransformasi menjadi manusia.
Setelah memuaskan hasratnya dengan orang yang sangat dia cintai, Gurkha berbaring di samping Devi dan memeluk wanitanya dengan erat, perlahan Devi tertidur pulas.
Seperti biasanya Gurkha akan pergi meninggalkan Devi setelah tertidur. Kini sudah hampir menjelang subuh, dia harus cepat pergi ke sebuah pos polisi terdekat minta tolong supaya Devi di jemput dengan Helikopter. Dan biayanya akan di transfer oleh Pak Romi. Devi harus secepatnya pergi dari Hutan Bunian, apalagi Pak Radit sudah tiada.
Pukul. 09.56. Devi terbangun dengan kaget, suara ketukan pintu terdengar terus menerus. Dia meloncat bangun dan menyambar pakaiannya yang berserakan di lantai. Kemudian Devi masuk ke kamar mandi. Dia lebih memilih mandi dari pada membuka pintu. Dia trauma, kemarin dia sudah membuka pintu tapi begini hasilnya, seluruh tubuhnya berisi tanda merah dan badannya lelah, letih, lesu akibat digasak oleh Naga.
Selesai mandi, berdandan seadanya Devi menuju ke pintu, hatinya sedikit ragu untuk membuka pintu, tapi dia tetap membukanya dengan pelan. Di depannya berdiri dua orang yang berpakaian Polisi. Hati Devi langsung mencelos, dan takut. Apa yang harus dia jawab tentang kejadian yang dialami Pak Radit. Dia berpikir Pak Radit pasti sudah meninggal.
"Selamat siang Nona, kami petugas ke Polisian akan mengantar Nona sampai di Bandara. Tolong bersiap."
"Siap Pak Polisi, kalau boleh tahu siapa yang memberitahu bahwa saya berada disini?" ucap Devi. Tanpa berpikir panjang, Devi langsung saja mengiyakan ajakan Pak Polisi. Dia ingin cepat-cepat keluar dari sini.
Apalagi dia melihat para pekerja yang sedang berkerumun di tengah halaman. Dua orang mandor sibuk memberi penjelasan, dan mereka ada dibawah komando dari dua orang mandor.
"Tapi Pak, saya akan menemui para pekerja dulu." ucap Devi sopan.
__ADS_1
"Baik, silahkan nona...."
Devi lalu pergi ke halaman tempat para buruh berkumpul. Para buruh mulai merespon kedatangangan Devi, dan bertingkah ganteng.
"Selamat siang semuanya, saya mau pamit ke Pulau Nusa Dewata, harap kalian bekerja dengan baik. Selamat bekerja." ucap Devi penuh khawatir. Dia berusaha sedikit berinteraksi dan masalahnya cepat selesai.
Setelah basa basi sedikit, akhirnya Devi keluar dari perkebunan menuju Helikopter yang sudah di siapkan. Sebenarnya, tanpa sepengetahuan Devi, Gurkha sudah terlebih dahulu memesan Helikopter untuk pulang ke Nusa Dewata. Gurkha juga menelpon Pak Romi supaya melunasi tagihan dan wanti-wanti jangan sampai Devi tahu tentang semua ini.
Mata Gurkha tidak berkedip melihat wanitanya. Kepergian Devi tidak luput dari perhatiannya. Saat ini Gurkha berada di rerimbunan pohon beringin yang tidak jauh berada dari Kantor. Semua gerak gerik Devi dia perhatikan dari atas pohon beringin. Rasanya dia ingin memeluk wanita itu dan mengajaknya pergi melayang di angkasa. Hatinya ngilu melihat Devi di kawal oleh dua orang Polisi ke Helikopter.
Gurkha melesat naik ke udara, pergi melayang di balik awan. Dia kembali ke tempat Naga Api yang menunggu kehadirannya. Para Goreon sedang bersenang-senang melakukan ritual musim kawin dengan bangsa Naga Timur.
Pukul.17.15 Devi sudah sampai di
Pulau Nusa Dewata. Dia menarik nafas panjang setelah menginjakkan kakinya di Bandara. Hatinya baru merasa lega, dari kemarin perasaan takut terus menyerangnya. Seolah bencana seolah mengintainya.
Turun dari Taxi, kaki jenjangnya melangkah menuju pintu gerbang utama, dia menempelkan sidik jarinya untuk membuka pintu. Bau bunga nyamplung yang banyak berada di pinggir tebing membuat Devi teringat kepada Gurkha.
Keheningan mendominasi setiap ruangan yang dilewatinya, dan Devi terus melangkah menuju kamarnya. Ia kemudian mengunci pintu. Devi merebahkan tubuhnya, ia lega sudah bebas dari dari ketakutan yang tercipta di Hutan Bunian.
****
__ADS_1