
"Aku bukan anti sosial, tetapi hanya lebih suka menikmati kesendirianku. Sebab, aku berbeda dari orang yang berada di luar sana. Aku pangeran Naga yang terbelenggu dengan adat dan tradisi. Aku bukan munafik dan anti mainstream, bagiku terlalu banyak kebencian dan sandiwara di habitatku sekarang, sementara aku butuh kedamaian dan cinta." Gurkha.
Masih muda, tampan dan energik, ia seorang Pangeran Naga yang terbuang dari habitatnya. Berumur hampir 26 tahun, masih muda. Tapi kekayaannya jangan di kata, dia salah satu Crazy Rich yang namanya bersih dari pergunjingan duniawi.
Sambil menghela napas berat, ia menatap lurus ke depan. Mata itu tampak mengandung mistri. Hawa kematian lekat dari aura wajahnya. Lelaki berpostur tubuh tinggi besar dan memiliki rahang yang tegas ini, memang tajir melintir, sayangnya, ia mencinntai satu wanita dari bangsa manusia.
Bagi nya wanita yang datang silih berganti ke dalam ruangan kerjanya, tidak bisa membangkitkan gairahnya, rata-rata yang datang punya tujuan karena uang. Mereka mengharap cinta darinya dan keperkasaan. Ada juga yang terang-terangan minta menikah, sepanjang ini Gurkha tidak tertarik dengan semua itu. Dia hanya mencintai jodohnya yang sudah di kodratkan oleh alam.
"Romi." panggil Gurkha lewat intercom kepada Romi, bagian personalianya.
"Iya, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" terdengar suara Romi sopan.
"Kenapa sekretarisku belum datang, kamu hubungi dia. Pekerjaannya disini menumpuk."
"Siap Tuan." jawab Romi.
Gurkha terus melirik jarum jam, ia gelisah menunggu Devi. Hatinya sedang galau karena Ayahnya dan kakeknya menyuruhnya pulang ke habitatnya untuk memerangi Naga yang ingin mengambil alih tempat mereka.
Tidak berapa lama pintu coklat di depannya di ketuk dari luar. Gurkha berteriak menyuruh masuk. Wajah wanitanya yang sudah lama di tunggu terlihat pucat pasi, matanya sembab seperti habis menangis.
"Pagi bos..." sapa Devi tanpa secuil senyuman di bibir, wajahnya datar.
"Pagi, silahkan duduk, sebelum berkerja sebaiknya kamu sarapan dulu supaya ada asupan masuk. Aku melihat wajahmu pucat sekali." kata Gurkha menatap wanitanya.
Devi terdiam mematung, ia hanya mendengar apa yang Gurkha katakan tubuhnya terasa kaku. Sebenarnya ia lelah saat ini. Tatapan tajam dari Gurkha tidak ia hiraukan, ia tetap berusaha tegar berdiri di depan Gurkha. Devi pasrah kalau di pecat karena kesiangan.
"Kenapa kesiangan?" tanya Gurkha menelisik raut wajah Devi.
"Maaf bos, tadi malam saya ngalami masalah besar, mungkin bos tidak percaya tapi itulah kenyataannya. Ada buktinya." jelas Devi sedih, ia menggigit bibir bawahnya kuat dan setengah menunduk.
"Duduklah, bicara yang jelas, kita cari solusi yang terbaik."
Tiba-tiba Devi memeluk Gurkha dan menangis pilu. Seperti kejatuhan durian runtuh ia merangkul Devi dan mengelus rambut wanitanya dengan rasa cinta yang mendalam.
__ADS_1
"Sabarlah... mari kita duduk." ajak Gurkha menghapus air mata Devi. Mereka mengambil tempat duduk berdampingan.
"Bos...tadi malam,....." Devi akhirnya terpaksa bercerita dengan cara bertutur kepada Gurkha.
"Aku mohon supaya kamu tidak gibah dengan orang lain. Ini rahasia kita berdua. Apa aku harus lapor Polisi, supaya tidak ada korban lain?"
"Ini aib yang terbesar dan sangat fenomenal, aku yakin cerita ini sangat menjual, tapi disisi lain hidupmu kedepannya akan hancur dan tidak seorangpun akan mau denganmu, kecuali aku."
"Kenapa harus kamu, aku tak sudi menikah denganmu, apa tak ada satu wanita pun yang mau menjadi istrimu, sehingga kau begitu tergila- gila padaku. Jangan membuat aku bertambah beban gara-gara lelucon garingmu." kata Devi menghapus sisa air matanya.
"Kau tahu sendiri kan, betapa menyalanya wanita yang mencariku tiap hari, dan aku justru menyukaimu, mengajakmu menikah. Kau harus bangga sayank."
"Aku lagi sedih bos, jangan membuat masalah baru lagi. Bukannya kasi solusi, malah menambah beban baru." gerutu Devi mulai membuat map satu persatu.
"Apakah kamu yakin semburan Naga itu tidak berbahaya, bagaimana kalau hamil." Gurkha mulai mengintimidasi.
"Tidak mungkin aku hamil, karena dulu aku sering melakukan itu, tapi tidak pernah hamil. Hanya dengan memperkosaku sekali, tidak akan membuat hamil."
"Apa? sampai kiamat aku tidak mau menikah denganmu, apalagi mau hamil anakmu. Amit-amit!!"
"Aku tidak apa-apa kau menolak, mungkin kau lebih senang di cicipi oleh Naga. Aku cuma kasihan padamu, apalagi aku akan pulang ke kampungku besok."
"Maksudmu, kamu mau pulang ke kampungmu besok? berarti kamu sudah ingat segalanya?"
"Sebenarnya aku tidak begitu ingat, akan ada yang menjemputku." jelas Gurkha. Devi terdiam, dia merasa Gurkha tidak akan kembali.
"Hati-hati banyak penipuan, jangan sampai kau di bodohi orang dan di culik, sekarang banyak penjualan organ tubuh."
"Biarin aja, toh mati hanya sekali." kata Gurkha pura-pura sedih.
"Jangan sembarang bicara, jika kau mati siapa mengurus perusahan besar begini?"
"Kamulah, siapa lagi yang aku cintai, aku percaya padamu aku pergi tidak lama. Kamu akan di temani Pak Romi dan karyawan lain."
__ADS_1
"Suruh aja Pak Romi memegang perusahan ini, aku belum mengerti." elak Devi. Dia tidak ingin mengambil resiko.
"Aku merasa kamu lebih cocok, aku pergi paling seminggu itupun kalau aku selamat di jalan."
"Semoga kamu selamat, mungkin kamu mau di jodohi sama keluargamu. Bagaimana kalau aku ikut kamu saja? aku takut sendiri di rumah."
"Tidak boleh, lain kali aku mengajak kamu kesana sebagai mempelaiku,"
"Makanya kamu harus selamat, supaya bisa meminangku. Siapa tahu kita jodoh."
"Setelah aku pergi aku mohon jangan sembarang menandatangani berkas, tunggu aku saja dan ini SPK mu."
"Ini benar? Aku merasa was-was atas kepergianmu. Terus terang saja kamu mau kemana?" tanya Devi, ia membuka amplop putih itu.
"Jagalah kantor ini dengan baik, bila perlu kamu tidur disini. Di dalam ada kamar untuk istirahat." Devi hanya mengangguk, pikirannya melayang kemana-mana.
"Devi, apa aku boleh menciummu sekali saja sebelum aku pergi." pinta Gurkha menatap Devi.
"Baiklah!" kata Devi, dia tidak perlu jual mahal karena Gurkha sudah sering seranjang dengannya.
Tangan Gurkha seketika memeluk Devi, bibir mereka bertaut. Gurkha hampir menangis dalam diam, dia akan sangat sedih meninggalkan wanitanya.
"Katakan dengan jelas, kamu mau menjadi istriku." perintahnya dengan suara yang berat. Berat untuk menahan libidonya yang telah di puncak.
"Aku tidak berani berjanji, kalau jodoh tidak akan kemana, mohon kamu mengerti." kata Devi sedih, air matanya jatuh, Ia sudah pernah mengalami sakit lebih dari ini dan ia tak akan menangis lagi. Ia harus bangun dari keterpurukannya dengan wajah baru penampilan baru.
Pertama kali ia akan menghubungi orang tuanya, setelah itu ia akan bangun dirinya menjadi sosok wanita yang kuat. Dunia ini kejam, ia harus lebih kuat, satu persatu ia akan cari pembunuh suaminya. Rasanya tidak tenang melihat pembunuh suaminya masih berlenggang.
Gurkha mengusap air matanya yang ikut merembes ke pipinya, ia nggan melepaskan Devi dari pelukannya.
"Hati-hati membawa diri, karena kita tidak mengetahui mana teman mana lawan. Lebih baik berdiam dulu melihat situasi." kata Gurkha membuat Devi semakin bersedih.
*****
__ADS_1