
Sebulan dua puluh hari telah berlalu, pria itu tak dapat berkonsentrasi dengan baik. Bayangan Devi Laxsmi menghantui di setiap langkahnya. Jiwa Naganya menangis pilu, rasa rindu yang amat sangat membuat ia meneteskan air mata. Gurkha sedih, dan merana. Pria tampan itu duduk diam di kursi singgasananya, di sebuah perusahan Surya Bratha yang bergerak di Sektor Tambang Batu Bara.
Ia tersenyum kecut, memikirkan nasib buruk yang menimpa dirinya, wanita itu telah pindah dari hidupnya. Tidak ada jejak sama sekali, ntah dimana wanitanya sekarang berada. Gurkha menarik nafas panjang dan menghembusnya kasar. Tangannya menghapus air matanya dengan kasar.
Rasa cinta, rindu dan hasrat yang menggoda bertempur dalam dirinya, mengaduk jiwa binatangnya. Tapi ia mencoba bertahan, ia tidak mau berselingkuh dengan wanita lain. Di otaknya hanya ada satu wanita, yaitu Devi, gadis cantik turunan ningrat yang telah ia hancurkan hidupnya.
Semenjak kematian Pak Burhan dan Rina, Pak Surya terkesan menarik diri dari perusahan dan public. Rasa malu, sedih dan kecewa bercampur menjadi satu membuat Pak Surya jarang datang ke perusahan. Beliau sering di Apartemen bersama bibi Asti. Dan begitu juga Nyonya Surya juga jarang berada di rumah, dia keliling berjudi, sampai ke Macao, Las Vegas dan yang lainnya.
Gurkha melihat tumpukan berkas di atas meja dan mendecih kecil. Rasa malas untuk menjamah berkas itu membuat setengah mejanya penuh dengan map. Pengganti Pak Burhan sampai saat ini belum ada, banyak dari mereka ngeri bekerja disini. Padahal Kantor sudah di pindah ke tempat lain.
Ingatannya kembali kepada kematian Pak Burhan dan Rina. Sampai saat ini kejadian itu masih di perbincangkan dengan hangat. Sempat viral, karena aneh. Yang membuat orang heran adalah hasil otopsi dari kedua mayat itu, yang di tenggarai kematiannya di makan binatang buas. Hanya Gurkha yang mengerti siapa yang memakan jantung kedua orang itu, tapi ia diam, masalah itu biarlah terkubur.
"Tokk...tokk...tokk.." suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya. Gurkha, menatap seorang pria yang baru saja muncul diambang pintu.
"Ada apa Romi?" sapa Gurkha kepada personalianya.
"Bos, orang yang kita cari sudah ada di luar, saya sudah menemukannya."
"Apakah kamu membawa istri saya?" tanya Gurkha berdiri.
"Yaelah, ini seorang sekretaris bos, bukan istri bos." sahut Romi. Gurkha langsung lesu dan duduk kembali, ia tidak nafsu mendengar ocehan Romi selanjutnya.
"Calon sekretaris nya sudah saya dapat bos, ilmunya tinggi dan orangnya sexy." papar pria itu dengan berapi-api.
"Suruh bekerja di ruangan sebelah. Bawa semua berkas di atas meja ini." kata Gurkha tanpa ekspresi.
"Bos harus berterimakasih padaku. Tidak mudah mencari sekretaris yang berkualitas dan mau bekerja disini. Aku tidak sengaja bertemu gadis itu di antara tumpukan jerami."
"Bawa ke ruangan sebelah, aku mau istirahat." sahut Gurkha mengambil ponselnya dan membukanya. Ia menatap wajah wanitanya di layar kaca ponselnya.
"Ahh si bos...." Romi kecewa melihat Gurkha tidak respon dengan prestasi yang Romi punya, Gurkha acuh, dan tidak peduli. Padahal Romi sudah merasa gede rasa bisa mendapat seorang sekretaris yang begitu cantik.
__ADS_1
Tanpa banyak cakap semua berkas yang menumpuk di atas meja dia bawa ke ruang sebelah.
"Apa bos tidak mau bertemu dengan sekretaris baru kita." kata Romi menunda langkahnya, dia menatap wajah bos nya yang lesu.
"Tutup pintunya, aku tidak ingin bertemu dengan siapapun hari ini."
"Siap bos...."
Romi keluar dari ruangan Gurkha, kedua tangannya penuh dengan berkas, sampai menutup pintu pun ia tidak sanggup, ia biarkan pintu sedikit terbuka.
"Nona, bos sudah setuju dan mau menerima Nona sebagai sekretaris disini. Saya akan menunjukan ruangan untuk Nona." kata Romi setelah keluar dari ruangan bos nya
"Baik Pak, trimakasih pertolongannya saya tidak akan melupakan kebaikan Pak Romi."
"Sama-sama Nona, bekerjalah yang baik, bos kita mood nya kurang bagus semenjak kehilangan wanita yang dia sangat cintai, jadi Nona harap hati-hati dengannya.
"Apa bos kita sudah menikah?"
"Semoga mereka bertemu kembali."
"Ya Nona, silahkan mulai bekerja, kalau tidak mengerti tanya kepada saya. Jika ada tamu yang ingin menemui bos, itu tugas Nona." kata Pak Romi.
"Baik Pak Romi." sahut wanita itu dengan hormat. Ia menempati sebuah ruangan yang tepat berada di sebelah ruangan bos nya. Semua map ia susun rapi dan ia mulai duduk di belakang lap top.
"Silahkan bekerja." kata Pak Romi keluar ruangan. Hatinya kini sudah tenang, karena tidak akan ada orang yang mengganggu istirahatnya. Biasanya hampir setiap saat ia di panggil oleh bos nya, sekedar untuk menemaninya makan siang atau pergi mencsri istrinya. Kalau dia setampan bos nya, mungkin sudah setiap saat berganti wanita. Pak Romi salut kepada bos nya, Gurkha sangat setia kepada istrinya, setiap perempuan ia tolak.
Tepukan tangan dibahunya membuat lamunannya buyar, pria tiga puluh lima tahun itu reflek menoleh. Ia kaget, alisnya mengerjit liar melihat seorang gadis tersenyum kepadanya. Nona Melani sudah berdiri di depan nya. Gadis cantik ini tersenyum padanya. Memakai rok mini hitam dan tank top warna merah. Gunung kembarnya menantang imam
"Halo Pak Romi ada bos?" suara Nona Melani menyadari Pak Romi.
"Ada Nona, tapi mulai sekarang kalau menemui bos, harus lewat sekretaris nya dulu, ini pesan dari bos. Tahu sendiri khan kalau bos marah."
__ADS_1
"Ribet banget, ya sudahlah. Dimana ruang sekretarisnya?" tanya Melani sedikit gusar.
"Itu di depan, silahkan masuk." kata Pak Romi menunjuk pintu yang tertutup rapat itu. Melani mengikuti telunjuk Pak Romi dan mengetuk pintu.
"Permisi mbak, saya mau bertemu bos." kata Melani langsung nongol di pintu. Sekretaris itu mendongak Melani kaget melihat wajah yang sangat cantik dan glowing di depannya. Seketika dia benci dengan sekretaris itu. Tapi sekretaris itu mengiyakan walaupun, perempuan yang berada di depannya ini tidak sopan sekali.
"Oh..silahkan menunggu Nona, saya mau menghubungi bos." sekretaris itu memencet intercom.
"Ada apa?" suara berat dan sedikit basah terdengar kesal. Dadanya Devi terasa mencelos mendengar suara itu. Suara itu mirip suara seseorang, tapi tidak mungkin orang yang sama alamat kantornya juga berbeda.
"Selamat siang bos, saya sekretaris baru. Ada seorang gadis, namanya Melani ingin bertemu dengan bos..."
"Aku tidak ingin bertemu dengan siapa pun, usir dia."
"Maaf Nona, Pak bos tidak mau ......" belum selesai ia bicara, Melani sudah melangkah keluar. Serta merta sekretaris itu berdiri dan melangkah cepat menghalangi Melani masuk ke ruangan bos nya.
"Maaf Nona Melani jangan masuk, bos lagi tidak enak badan." katanya menghalangi Melani masuk. Badannya yang tinggi semampai berdiri di depan pintu masuk. Tangan nya terbentang.
"Minggir!!, babu saja berlagak." ucap Melani kesal, dia malah mendorong sekretaris itu. Karena pintu sedikit terbuka, jadi badan sekretaris itu meluncur masuk ke dalam. Untung Gurkha cepat bertindak, ia memeluk wanita itu dari belakang. kalau tidak, punggung sekretaris itu pasti remuk menghantam meja. Dorongan Melani sangat kuat.
Pelukan Gurkha yang keras membuat wanita itu terasa sesak, tapi dia tidak berani berontak.
"Gurkha, kenapa kau memeluk wanita itu?" teriak Melani kesal. Dari pertama melihat sekretaris Gurkha sudah terpupuk rasa benci.
"Kau tahu pintu keluar, enyah kau dari sini. Jangan tampakkan wajah mu lagi." bentak Gurkha.
"Aku mencintaimu, tidak segampang itu mengusirku."
"Pergilah, sebelum aku memanggil scurity." geram Gurkha. Mata Melani berkabut, dengan kasar dia mundur sambil menghentakan kakinya. Tidak lupa dia membanting pintu sampai berdebam.
*****
__ADS_1