DRAGON PRINCE SCANDAL

DRAGON PRINCE SCANDAL
ARGA MAHEZA


__ADS_3

Pria itu tahu segalanya, bagaimana bisa begitu, sedangkan Gurkha tidak pernah bercerita tentang temannya yang bernama Arga Maheza, atau bercerita apapun. Ini baru pertama kali terjadi. Seorang teman bisnis yang berusaha menjalin kedekatan dengan cara menjatuhkannya. Meski Devi tahu bila biasanya akhir dari keramah tamahan ini harus sedikit diwaspadai, karena dibalik semua itu ada kerakusan akan harta dan tahta.


Memang dia cukup blak blakan kalau berucap dan prilakunya sangat jauh dari kata sopan, dan orang-orang begini sering muncul tiba-tiba tanpa alasan yang jelas.


"Aku merasa sudah terlalu lama disini, apa kau ada rencana untuk pergi ke Club atau ke Bar untuk minum menghilangkan stres dan luka dihati?" ucap Arga kembali duduk di sofa.


"Aku tidak harus menjawab setiap pertanyaanmu, karena kebanyakan omong kosong, lebih baik bersiap pulang hari sudah sore. Mengenai kerja sama yang kau ajukan akan aku pikirkan lagi."


Selepas perkataan itu Devi berdiri dan bersiap mau pulang, Arga ikut berdiri dan mendekati Devi.


"Kau tidak marah kepadaku? aku menjadi tidak enak hati. Tapi yang aku katakan semua benar, percaya atau tidak itu urusanmu. Yang penting aku sudah memperingatimu. Sebenarnya Gurkha tidak cocok denganmu, bukan karena aku..." Arga memberi jeda bicaranya menunggu komentar dari Devi.


"Aku akan lanjutkan pembicaraan ini di tempat yang kamu kunjungi hari ini. Dimanapun itu, di Villa atau di tempat lain." ucap Arga datar.


Devi tidak berkomentar, dia hanya menoleh sebentar sambil menghela napasnya. Dia seolah tidak peduli dengan Arga yang menatapnya penuh arti.


"Kurasa ini sedikit awal. Tapi kuharap bisa berguna. Ini hadiah perkenalan kita sebagai pembisnis, semoga hubungan kerja sama kita langgeng." kata Arga mengulurkan sebuah kotak yang terbungkus kain merah sambil tersenyum simpul.


"Trimakasih, ini bukan boom atau granat bukhan?!" canda Devi kaku membuat Arga tersenyum.


"Bukalah Devi, semoga kau senang. Hadiah ini sudah lama ingin aku berikan padamu tapi selalu urung. Mungkin harus menunggu hari baik, aku sangat bahagia jika kau senang dengan pemberian kami."


"Kami?"


"Maksudku begitulah, jangan terlalu berpikiran negatif, setiap orang berbeda. Tidak ada yang sempurna."

__ADS_1


"Owh...kau sangat baik. Kupikir kau benci padaku." guman Devi tersenyum.


"Kau musuh yang seharusnya dibenci tapi aku tak bisa. Aku suka padamu, sungguh membuat aku dilema. Tapi setelah dipikir, saat ini kau sosok yang bebas. Kau sudah bukan milik Gurkha lagi, karena dia sudah menikah." suaranya tenang dan kaku, membuat Devi ingin melempar kado yang berada ditangannya. Kata yang sungguh menyakitkan. Apa dia sejenis manusia dengan kepribadian ganda? yang tidak peduli perasaan orang lain?.


Devi bedehem sesaat dan mulai membuka hadiah itu, isinya sebuah Slayer warna merah darah. Dadanya langsung bergemuruh tidak tenang, ia tahu arti dari kegunaan slayer itu.


Ingatan Devi kembali ke masa lalu, waktu itu hujan rintik-rintik, Devi dan Reva duduk berdua, tiba-tiba mereka di kagetkan oleh seorang laki-laki asing yang memberi kado. Pria itu mengatakan teman bisnis Pak Surya Subrata, setelah kado itu di buka berisi slayer merah darah terbuat dari Sutra Cinha. Sangat halus dan mahal, selesai akad nikah nyawa Reva melayang dijerat slayer sebelum di tembak mati. Tragis!!.


"Hadiahnya bagus Arga, aku sangat bahagia mendapat hadiah ini dan aku akan menyimpannya. Seumur hidup baru pertama kali aku menerima hadiah slayer, sungguh membuat aku tersanjung." ujar Devi mencari celah untuk mengusir Arga dari tempat ini.


"Semoga kau senang, karena waktu terbatas untuk memilih kado yang terbaik untukmu."


"Maksudmu tidak ada kado yang pas buatku? atau buat Gurkha? supaya jelas." tanya Devi penuh selidik, dia harus tahu nyawa siapa yang mereka incar, dirinya atau Gurkha?.


"Untukmu, karena kau yang berada disini." jawab Arga tersenyum puas.


"Aku permisi dulu, kita bertemu nanti malam. Selamat rehat." kemudian Arga keluar tanpa menunggu jawaban dari Devi. Tingkahnya aneh.


"Bos, kenapa Tuan Arga cepat hilang, aku curiga dia merasa terusir dari ruangan ini." Juli masuk ke ruangan Devi tanpa mengetuk pintu.


Sifat Juli sungguh tak bisa dikontrol, dia selalu blak blakan dan tidak tahu situasi. Walaupun Devi tidak begitu mengenal sifat Juli, tapi ia mencoba memahami tingkah gadis itu yang cendrung murahan.


"Bos tidak keberatan kan jika aku mendekatinya, kebetulan aku lagi jomblo." suara Juli membuat kening Devi berkerut. Jika dia melakukannya dengan Arga itu bukanlah sebuah ide bagus. Devi tidak mau ada masalah di kemudian hari, gara-gara Juli menggodanya.


"Lakukan semaumu. Tapi jangan di Kantor. Aku tidak ingin kau pecicilan di depanku atau di sekitar Kantor."

__ADS_1


"Beres bos, tolong minta nomor handphone nya aku mau hibungi segera, sudah mau malam." kata Juli penuh harap. Devi baru teringat, dari tadi dia tidak meminta nomor ponsel pria itu, karena pikirannya jauh.


"Aku lupa memintanya, mungkin Pak Romi tahu. Kamu kesana saja, tapi bersihin dulu berkas yang ada di atas meja, serta angkat nampannya."


Juli melongo tidak percaya, kenapa bos nya sangat ceroboh. Tak pernah terpikir sedikitpun kalau dirinya akan membuang waktu saja menunggu dari tadi. Tentu saja Juli tidak ingin melepaskan pria itu begitu saja. Meskipun jelas-jelas Arga berusaha menghindar darinya, saat berada di ruang Pak Romi. Tapi justru karena itulah Juli merasa tertantang untuk menaklukan hati Tuan Arga.


"Maaf bos, aku mau ke Pak Romi dulu." kata Juli beberes dan cepat ke luar membawa nampan.


Devi keluar dari ruangannya, tidak lupa mengunci pintu. Matahari sudah condong ke Barat. Devi tengadah melihat langit, ia tidak tahu kenapa perasaannya sedih ketika melihat langit yang memerah.


"Pulang bos, hati-hati di jalan." Pak Asep satpam Kantor menyapanya.


"Ya Pak Asep, trimakasih...." sahut Devi menuju tempat parkir.


Ia akan lewat di depan rumahnya, ingin sekali ia bertemu dengan orang tuanya tapi apa daya. Jika ia nekat pulang, takutnya terjadi mala petaka dengan orang tuanya atau dirinya, karena belum tahu apa motif dari kejadian itu, untuk apa mereka membunuh Reva.


"Bos..aku numpang ya, aku minta tolong diantar ke Pantai D'Six, tadi aku menelpon Tuan Arga, ternyata dia berada di Pantai itu dan aku di suruh kesana." ujar Juli dengan suara ngos-ngosan.


Devi memandang Juli yang berkata ngos-ngosan, ia merasa tidak perlu berkomentar tentang itu. Sebab itu bukan urusannya. Jadi dirinya hanya diam. Dia justru lebih tertarik melirik arloji Rolex nya yang terpasang di tangan kirinya. Pukul tujuh belas lewat, berarti tidak ada waktu untuk lewat di depan rumah orang tuanya.


"Bos, maukan mengantar aku ke Pantai sebentar saja, tolonglah. Aku sangat mengharapkannya." pinta Juli membuat Devi mengangguk.


"Baiklah, hanya ke pantai saja ya, hari sebentar lagi gelap, kalau terlalu malam aku takut pulang sendiri." kata Devi terus terang.


"Tidak ada kemana lagi, turunin aku di pantai, Tuan Arga menungguku." jelas Juli naik ke mobil sport itu.

__ADS_1


Setelah Juli naik, Devi memacu mobilnya dengan sedikit kencang, ntah kenapa ada perasaan tidak enak dalam hatinya. Tapi ia menepis rasa itu dan tancap gas.


*****


__ADS_2