
Pagi yang memuakkan, sangat sepi dimulai saat Devi membuka matanya di pagi hari, dimana pemandangan yang pertama dilihat adalah kamar besar yang kosong dan sunyi. Sinar mentari yang masuk lewat jendela besar yang sengaja dia buka tadi malam dengan gorden yang bergerak melambai di hembus angin kencang, membuat Devi nggan bergerak.
Kamar yang begitu besar dan mewah seperti kamar di sebuah Villa pada umumnya. Bed King Koil, seprai putih tiga lapis, sebenarnya tidak ada yang spesial, barang-barangnya juga biasa, seperti lemari, sofa, meja dari Cheers Maclaine dan barang-barang antik, lukisan Naga di dinding seperti hidup, melilit seorang putri cantik yang berbaju merah. Jendela besar dari kaca, kolam renang, Jacuzzi dan Gazebo, Taman mini lengkap kolam ikan Koi.
Devi menoleh ke sisi kanan tempat tidur, tangannya bergerak mengelus sisi tempat tidur yang kosong dan dingin. Matanya menatap bantal yang biasa Gurkha gunakan, bau musk menempel di sarung bantal yang sengaja tidak diganti oleh Devi.
Devi menahan rindu yang dalam, kini baru ia sadari betapa Gurkha sangat berarti baginya, ia tidak menyangka kebersamaannya selama ini membua hatinya luluh. Dendam, kebencian yang mendalam berubah menjadi cinta sejati. Aroma cinta itu sanggup membuat Devi menitikan air mata setiap saat. Hatinya di selimuti oleh rindu yang tidak bertepi. Setiap hari ia menanti kehadiran Gurkha, tanpa Gurkha hidupnya seperti layangan putus, ia kehilangan pegangan.
Dia sudah berada di tahap putus asa dan hampir gila karena menunggu Gurkha kembali. Ia berharap Gurkha segera datang, rasa khawatir yang berlebihan membuat Devi menangis. Air mata bergulir dari matanya, rindu ini benar-benar sangat menyakitkan. Ia tidak berdaya mengelola hatinya yang tersayat setiap mengingat sang pujaan hati.
Pikiran negatif kadang melintas saat Devi membaca berita tentang perang yang terus berkecamuk, membuat dadanya sesak. Harusnya dia tahu di mana Gurkha berperang, di Rusia, Amerika atau China? asal jangan di planet lain pasti bisa di lacak lewat Google.
Rasa takut akan keselamatan Gurkha menyayat kalbunya, seandainya waktu bisa diundur, ia tidak memberi izin Gurkha pergi ke medan perang.
Tanpa sadar ia meraih bantal itu dan memeluknya sambil menangis. Devi terus memeluknya sampai hatinya terasa nyaman, jantungnya berdetak lebih cepat dan suasana hatinya menjadi lebih baik. Perasaan nyaman yang membelah rindu.
Devi bangun dari tempat tidur, lalu berjalan menuju kamar mandi. Ia menyalakan shower dan membiarkan tubuhnya terbasuh oleh guyuran air hangat dari shower. Saat mandipun pikirannya melayang memikirkan Gurkha, dalam otaknya di penuhi nama Gurkha.....Gurkha....tidak ada nama lain yang sanggup menyentuh hatinya saat ini. Matanya terpejam merasakan hangatnya air yang membasahi seluruh tubuhnya. Tidak membutuhkan waktu lama untuk membersihkan diri, Devi menuju walk in closet untuk mengganti pakaian.
"Hidup harus tetap berjalan, seperti air yang mengalir." suara Devi lirih. Ia menyambar kunci mobil, setelah menutup semua pintu dan jendela.
__ADS_1
Devi memacu Lamborghini Navy Blue itu dengan kecepatan sedang, ia tidak begitu buru-buru datang ke Kantor, karena sudah ada Pak Romi. Matanya jelalatan melihat kiri kanan jalan untuk menikmati bunga-bunga bougenville lima warna yang sedang berkembang di sepanjang jalan. Indah sekali, Devi sampai berdecak kagum.
Sampai di Kantor, seperti biasanya Devi disambut oleh Pak Romi, kepala personalia dan beberapa karyawan yang berbaris di sepanjang lorong. Mereka semua menunggu dirinya menanda tangani surat perintah kerja untuk di perbantukan di Perusahan baru di Hutan Kalimantan. Sebagian karyawan yang akan di berangkatkan ke Kalimantan sudah memenuhi syarat administrasi dan kesehatan.
"Selamat pagi bos...." seru mereka serentak, ia melirik mereka secara bergantian lalu mengangguk samar.
"Selamat pagi semuanya, senang bertemu dengan kalian. Salam sehat semuanya...." sahut Devi melangkah menuju ruangannya.
Kalimantan tujuan bidik perusahan Surya Subrata belakangan ini. Disitu sudah di bangun perusahan kayu gelondongan, menyedot dua ratus karyawan, dan lima mandor. Juga dibangun perumahan karyawan yang semi permanen, lengkap kamar mandi dan dapur. Pengelolaannya diserahkan kepada anak perusahan PT Surya Subrata. Jatah pekerjaan sudah di tetapkan untuk masing- masing karyawan. Pak Romi sudah membagi karyawan dengan posisi yang sesuai skillnya.
Devi yang diikuti Pak Romi menuju lift lantai tiga, matanya menangkap sosok pria yang sudah berada di lift. Pria itu menundukkan kepalanya sambil menghela napas berat. Ekor matanya melirik pria itu membuat bulu kuduknya meremang. Saat keluar dari lift tanpa sengaja Devi menatap pria itu. Ia kaget melihat mata pria itu merah seperti Anjing kena Rabies. Devi bergegas menuju ruangannya, ia tidak tahu apa yang salah dengan pria itu, kenapa wajah pria itu aneh.
"Bos, saya heran kenapa akhir-akhir ini ada pria aneh sering berkeliaran di sekitar gedung ini."
"Pak Romi ada apa? jangan takut, kita tidak berbuat aneh, kenapa harus takut, mungkin saja mereka mau melamar kerja atau ke gedung lain. Santai Pak Romi."
Pak Romi mengangguk, tapi masih kelihatan pucat.
"Maaf bos, saya mengerti, tapi saya merasa merinding melihat pria itu, dia seolah ingin memakan saya."
__ADS_1
"Hahaha...Pak Romi, ada-ada saja, mana ada begitu, memangnya semudah itu membunuh orang." ucap Devi ngakak. Ketawa Devi lenyap ketika Pak Asep masuk membawa makanan untuknya.
"Maaf bos, ada yang mengirim makanan." kata Pak Asep menaruh dua kotak makanan.
"Dari siapa Pak Asep?" tanya Pak Romi curiga sambil melirik Devi. Setahunya Devi jarang memesan makanan.
"Dari Gofood Pak." jawab Pak Asep lalu permisi keluar.
"Pak Romi jangan melirikku begitu, kita banyak punya karyawan, bisa saja salah satu dari mereka yang mengirim makanan." kata Devi merasa aneh melihat Pak asep.
"Tolong hati-hati, kita tidak tahu musuh dalam selimut. Saya harus menjaga bos, itu pesan dari Gurkha." Devi terdiam mendengar nama Gurkha, ia pindah duduk ke sofa dan membuka makanan itu.
Devi membuka kedua kotak yang dikirim oleh kurir Gofood, matanya berkabut melihat menu yang berada di kotak, dua buah kentang, salad dan omelet. Kotak lagi satu berisi, segala macam buah langka dan susu. Tidak ada keraguan lagi, ini makanan dari Gurkha, tapi dimana orangnya. Air mata Devi seketika jatuh.
"Bos ada apa?" Pak Romi kaget melihat bos nya menangis.
"Aku terharu dan ingat kepada Gurkha, sampai saat ini tidak ada khabar darinya. Aku sangat rindu padanya." ucap Devi menghapus air matanya.
"Sabar bos, kita berdoa saja demi keselamatannya. Kita semua rindu padanya, bos Gurkha orangnya baik." ujar Pak Romi pelan.
__ADS_1
Devi menghapus air matanya dan mulai menenangkan diri. Ia berusaha tegar dan berdoa semoga Gurkha dalam keadaan selamat dan bisa berkumpul kembali. Jika memang ia berjodoh dengan Gurkha, suatu hari nanti mereka pasti bertemu kembali.
*****