DRAGON PRINCE SCANDAL

DRAGON PRINCE SCANDAL
BERTEMPUR


__ADS_3

Malam ini Gurkha sedang bingung, dari tadi dia berpikir keras, untuk mencari solusi ke depannya. Sebagai Presiden Direktur, tidak mungkin dia tidak bekerja ke Kantor. Pak Surya pasti akan curiga dan mencari tahu keberadaannya. Tapi bila dia pergi ke Kantor, takutnya terjadi sesuatu yang bisa mencelakai Devi. Apalagi bibi belum datang dari kampung, dia tidak mungkin meninggalkan Devi sendiri.


Bergabung dengan dunia manusia membuat Gurkha banyak belajar dari peradabannya, dan segala macam yang menyangkut sifat manusia dari hal terkecil sampai besar. Sifat yang cepat menular terhadap dirinya, adalah penuh intrik dan ambisi, sifat itu merubah prilaku Gurkha yang apa adanya dan cenderung liar.


Gurkha duduk terpekur di balkon, dia menatap langit, tidak terlihat satupun bintang di langit, semua hitam pekat, mendung tebal datang bergulung. Rasa rindu dengan habitatnya membuat air mata Naganya meleleh, bayangan ayahnya dan kematian ibunya berkelebat silih berganti. Dia sangat sedih memikirkan itu semua.


Baginya menjadi manusia sangatlah sulit. Disaat dia sedih, kecewa dan marah, dia harus tetap tersenyum. Pekerjaan terus dicari, bisnis ini, itu, tidak ada habisnya dan sampai main sikut, saling bunuh, pokoknya aneh. Padahal kebutuhan materi dan perut sudah tercukupi. Kadang Gurkha tidak habis berpikir, kenapa dia harus banyak uang, sedangkan di Bank uangnya sudah sangat banyak. Dia berpikir manusia sangatlah aneh dan berambisi. Siapa yang di saingi dan apa tujuannya? toh, kematian pasti datang.


Gurkha akhirnya merebahkan diri di sofa panjang yang berada di balkon, dia ingin membunuh hasrat nya dengan cara tidur pulas. Malam ini dia meninggalkan Devi tidur di kamar sendiri, dia ingin memberi wanitanya kebebasan berpikir, kasihan juga kalau terus digasak sampai tremor. Maklumlah Gurkha adalah Naga Api yang tenaganya kuat serta liar. Dia bisa menjajal Devi seharian.


Gurkha memejamkan matanya dan berusaha tidur. Melepaskan penat dan membuang asa.


Sementara itu, Devi berada seorang diri di kamar, terasa senyap dan tidak terdengar suara Gurkha, malam ini dia mendapatkan kebebasan dari pria tampan itu, laki-laki iblis yang menderanya setiap saat. Dia maju melangkah ke jendela, menyibak tirai dan membuka jendela lebar-lebar. Dia bisa melihat kegelapan di luar sana. Kelam, air matanya menetes mengingat semua kejadian yang menimpa dirinya.


Devi termenung sedih, senang bisa menikmati kegelapan malam dengan angin dingin yang menyerbu masuk lewat jendela besar. Ini lah hari yang mengubah statusnya dari seorang gadis, menjadi seorang nyonya dan langsung menjadi janda.


"Aaoookkkk...." dia kaget seolah mendengar pekikan Naga.


Dia tidak habis berpikir, kenapa suara Naga sering terdengar di atas rumah akhir-akhir ini. Padahal dia tidak perawan lagi, dia merasa terus di incar oleh bangsa Naga. Apakah dia harus menikah untuk menghindari di culik oleh Naga? setelah menikah dia


tidak perlu takut berkeliaran di jalan pada malam hari, karena Naga tidak mungkin menculiknya lagi. Devi menarik nafas panjang, dia mengelus cincin pernikahannya, yang masih melingkar di jari manisnya, cincin ini bertahtakan sebuah batu permata Zircon Swarovski. Di desain dengan indah dan dimasukan darah Devi dan Reva, sangat romantis dan berbau mistis. Dia tidak paham mengenai perhiasan dan berlian. Baginya tidak ada artinya saat ini, hidupnya sudah hancur.


"Devi!!, tutup jendelanya, darahmu akan tercium oleh Naga." teriak Gurkha cepat, tadi matanya melihat ada Naga di awan.

__ADS_1


"Tolong aku, aku takut." teriak Devi malah lari memeluk Gurkha. Gurkha cepat mendorong tubuh Devi ke ranjang, dia menutup jendela dengan rapat, serta mematikan lampu. Suasananya menjadi gelap gulita, Devi meringkuk ketakutan.


"Gurkha... aku takut." suara Devi kembali bergetar. Setelah mengunci pintu dan jendela, Gurkha lalu naik ke tempat tidur. Devi menyambut nya dan menyusup ke dada Gurkha. Tanpa malu dia memeluk Gurkha. Ketakutannya mengalahkan rasa malunya. Dia trauma berat kalau Naga kembali menculiknya.


"Diam kamu disini, aku akan keluar menembak Naga yang akan menculikmu." bisik Gurkha melepas pelukan Devi.


"Tiduri aku, supaya aku tidak di culik. Aku sangat takut." kata Devi dengan suara pelan. Dia melempar rasa malu nya dan mengharap Gurkha cepat bertindak.


"Apa kau sungguh-sungguh?" tanya Gurkha menahan gejolak asmaranya.


Devi tidak menjawab, tapi bibirnya menyentuh bibir Gurkha, mereka berpelukan. Ada rasa bahagia dihati Gurkha atas tindakan Devi yang spontan. Dia tahu semua ini hanya palsu, Devi menciumnya karena takut dengan Naga. Tapi tidak apa-apa, ini lebih dari cukup untuk permulaan.


Air hujan seolah tumpah dari langit, gemercik air nya terdengar nyaring dari atap spandek tempat menjemur pakaian. Curahan hujan membasahi tubuh Naga yang baru turun dari langit. Kakinya kuat menginjak atap spandek, yang menyebabkan suara berdebam.


"Aaookkkk....." suara Naga terdengar nyaring diantara gemerecik air hujan. Dada Devi berdegup tidak beraturan saking takutnya.


"Aku mau mengusir Naga itu, supaya kamu tenang." bisiknya meregangkan pelukannya. Tapi Devi semakin erat memeluk Gurkha.


"Jangan tinggalkan aku...." kata Devi dengan suara bergetar.


Tapi Gurkha menepis tangan wanita itu, dia tetap mau keluar. Untuk menahan Gurkha, Devi terpaksa meni tubuh Gurkha, dan mencium bibir laki-laki itu dengan lembut. Mendapat serangan fajar, Gurkha tidak bisa menolak sentuhan hangat dari Devi yang bertubuh sexy.


"Kau sangat menggairahkan sayank!" tangan besarnya merengkuh tubuh Devi yang ramping, dia menyambut permainan Devi dengan liar.

__ADS_1


"Jangan lupakan malam ini sampai kapanpun sayank, aku mencintaimu." Gurkha menyusupkan wajahnya dan mendarat sempurna di leher Devi. Keduanya menikmati malam penuh kemesraan itu. Gurkha antusias, seolah mendapat kejutan indah dari wanitanya. Sungguh surprise.


Mereka berdua menyatu dalam pencapaian puncaknya, yang sangat membahagiakan, kejadian ini tidak akan terlupakan hingga kapanpun waktu berdetak meninggalkan masa, cinta antara seorang gadis cantik berasal dari keluarga ningrat dengan Gurkha Gamayo, seorang laki-laki tampan turunan ke seratus dari Naga Api Pulau Nusa Dewata.


"Sayank..tidurlah, aku akan selalu menemanimu." Gurkha mengecup kening Devi dan menutup badan sexy itu dengan selimut.


"Kamu tidak keluar bukhan?!" tanya Devi kelelahan. Dia lebih baik pasrah dan berpihak kepada Gurkha, dari pada harus mati di tangan Gatot atau di bakar hidup-hidup oleh Naga.


"Tidak sayank..." guman Gurkha, sambil membelai rambut Devi. Mata Gurkha sendu melihat wanitanya yang kini tertidur pulas. Gurkha lalu menyibakkan helai rambut yang menutupi wajah Devi dan turun dari Spring Bed King Koil.


Gurkha tahu di luar sana ada Naga menunggunya untuk merebut Devi, dia harus menghadapi Naga itu dan menjelaskan kalau Devi sudah menjadi miliknya.


Perlahan Gurkha meninggalkan kamar, menuju ke lantai bawah dan berharap Naga itu menunggunya. Dia juga belum tahu Naga aya yang datang, karena di habitatnya banyak terdapat jenis Naga.


Langkahnya menyapu genangan air hujan, menimbulkan suara becek. Dia mengarahkan pandangannya ke seluruh penjuru halaman rumah dan lorong belakang. Ketika dia berada di tempat parkir di bawah pohon jambu, seekor Naga meringkuk menunggu kedatangannya.


Naga itu melesat mau menerkamnya, Gurkha berkelit, kulitnya mulai berubah perlahan-lahan sampai seluruh tubuhnya berubah menjadi Naga Api.


"Rupanya kau Naga Api, tapi aku tidak takut. Aku Caligula, Pangeran Naga emas dari bukit Tidar." suara Naga emas berat dan sombong.


"Pergilah sebelum aku membidikan senjata api ke badanmu." ucap Gurkha dengan tenang. Dia baru tahu ada Naga emas.


"Kita bertanding memakai kekuatan, tidak usah memakai pistol. Mari kita bertempur untuk wanita yang tertidur di kamar. Jika kau kalah kau harus iklas melepaskannya." tantang Naga emas penuh hati-hati.

__ADS_1


*****


__ADS_2