DRAGON PRINCE SCANDAL

DRAGON PRINCE SCANDAL
PASRAH


__ADS_3

"Arima ada apa, kenapa kau disini?" tanya Gurkha ketika ia baru saja menginjakkan kakinya di habitatnya. Arima mendongak, matanya tajam menatap Gurkha, setelah dua hari, Gurkha baru pulang dari hutan. Arima tahu Gurkha menghindarinya dan berharap tidak bertanggung jawab. Arima berdiri.


Mata Gurkha melebar memandang Arima dengan sangat terkejut, ia tidak bisa menyembunyikan raut wajahnya yang pucat. Gurkha yakin tidak akan pernah melupakan wajah Arima yang mesum menatapnya penuh cinta, penuh hasrat hingga keningnya berkeringat, Gurkha tidak tahu ada apa dengan Arima, untuk sesaat Gurkha terpaku, ia tidak bisa memikirkan apapun.


"Aku setia menunggumu dua hari ini, aku berharap kau bersedia kawin denganku membuat keturunan sakti yang bisa menguasai bumi."


"Arima!!" Ia memanggil nama betina itu dengan kasar, kemudian melihat sekelilingnya. Gurkha tahu Naga Api pasti menunggu kehadirannya dengan khawatir.


"Orang tuamu dan Kakek ketua serta para Goreon sudah setuju atas usulan dari Ayahku, supaya kita segera kawin. Kita tidak perlu pesta karena lagi berduka cita, kematian sebagian Goreon membuat semua masih sedih. Jadi kita bisa langsung tidur berdua, tanpa menunggu komando." kata Arima menghasut Gurkha, dia berharap supaya Gurkha mau bertransformasi lalu kawin dengannya.


Arima lalu membelakangi Gurkha yang lagi mematung, dia merasakan pria itu melangkah dan berdiri tepat di belakangnya. Tubuh Arima terasa lemas hanya karena membayangkan tangan Gurkha akan memeluknya. Ia berpikir Gurkha bertransformasi secara harfiah menjadi pria tampan


seperti dilakukannya dengan Devi.


Sensasi aneh yang baru pertama kali dirasakannya, membuat tubuh Arima menggigil, gemetar, kakinya lemas seperti jeli. Dia menarik napas dalam lalu menghembuskannya kasar. Arima berusaha menjaga suara dan ekspresi wajahnya, sebelum berbalik menghadap Gurkha yang hanya berjarak selangkah di hadapannya. Kakinya hampir goyah karena kaget dengan jaraknya yang begitu dekat dengan Gurkha membuat jantungnya semakin berdebar kencang.


"Aku akan pergi menemui Kakek ketua dan Ayahku, serta para Goreon untuk bertanya, mereka ternyata sangat bodoh dan percaya begitu saja, kenapa ada konspirasi di kehidupan Naga Api, aku menolak semua itu. Masalah ini mengganggu jiwaku." ucap Gurkha mundur selangkah dari tubuh Arima.


"Kalau kamu menyakitiku, kamu akan berurusan dengan Ayahku, bangsa Naga Emas!" kata Arima lantang. Dia kesal kenapa Gurkha tidak sedikitpun tertarik padanya, padahal dia sudah mengabdi secara sukarela dan jujur.


"Tidak semudah itu, jika itu maumu aku akan hadapi. Sudah aku katakan sebelumnya, bahwa aku sudah punya gadis pujaan, yang sangat aku cintai." kata Gurkha melangkah dari hadapan Arima. Samar-samar ia mendengar suara Arima yang menggerutu kesal. Mungkin Arima marah dan ngambek, terserahlah, Gurkha juga bingung untuk mengambil tindakan karena belum jelas, dan ini baru omongan sepihak.

__ADS_1


Gurkha menuju goa utama, dimana Kakek ketua dan Ayahnya sedang berbicara penting. Melihat Gurkha datang dalam diam, Goreon segera bangun dan menghampirinya. Aneh!! Mereka semua irit bicara tidak seperti biasanya.


"Kakek ketua, Ayah, apa yang terjadi aku merasa berada di atas bara api atas sikap kalian. Katakan sesuatu sebelum aku kembali ke bangsa manusia." ucap Gurkha tanpa berniat melirik kearah Arima yang sudah ada di antara mereka, dia duduk tepat di seberangnya.


Ayah melirik sesaat tapi dia terus menyibukkan dirinya bicara dengan Kakek, wajahnya sangat serius. Gurkha jadi salah tingkah, dia tetap menunggu dengan sabar tanggapan Kakeknya tentang keinginannya untuk kembali kepada Devi.


"Kau tidak boleh keluar dari sini sebelum anakmu lahir. Tadinya Ayah tidak percaya, tapi setelah di periksa ternyata jodohmu sudah hamil anakmu." suara Ayah lembut, tapi serasa seperti boom yang meledak dan mengguncangkan tubuh Gurkha.


"Apa maksud Ayah, aku tidak pernah bersentuhan dengan betina ini, aku tidak mencintainya, kenapa dia bisa melendung. Apakah betina ini seekor Komodo yang bisa berkembang biak parthenogenesis? apa dia dapat bereproduksi tanpa fertilisasi dari jantan?! sungguh aneh!"


"Jaga bicaramu Gurkha, kamu terlalu sombong dan arogan, apakah kau tidak ingat kita sering melakukannya saat kau mabuk buah langka yang aku sering berikan padamu. Saat itu kamu menganggap aku pacarmu."


"Aku jujur Gurkha, katakan terus terang kepada orang yang kau hormati ini, jangan malu mengakui hubungan kita yang sudah jauh."


"Gurkha, jika bicaranya tidak benar bagaimana dia mengandung, Arima Naga, bukan Komodo, dia sangat mencintaimu dan melayanimu dengan setia." ucap Comod Gamayo dengan nada kecewa.


"Gurkha, semua perbincangan ini sudah selesai dan Arima akan tinggal disini sampai melahirkan. Mau tidak mau, suka tidak suka, ini harus dijalani. Aku tidak mau tahu, kau harus tetap disini." Kakek ketua berucap keras, tanpa peduli dengan wajah Gurkha yang memerah.


"Arima, aku mengenal seorang laki-laki dia sangat baik, tampan dan berasal dari keluarga ningrat. Dia teman bisnisku, sering ke kantorku. Belum lama ini dia menghubungiku dan bercerita jika dia ingin mencari seorang wanita yang baik untuk jadi istrinya. Jika kau ingin menikah, aku akan mencarinya untukmu."


Arima mendelik gusar, Gurkha tidak tahu jika ucapannya membuat Arima ingin membunuhnya. Tapi buru-buru Arima tersenyum manis kepada Kakek ketua dan minum susu yang berada di atas mangkuk, tingkah Arima santai dan tidak sopan sama sekali. Gurkha menjadi muak.

__ADS_1


"Aku tidak berminat tawaranmu, jika kau menolak kawin denganku, Naga Emas akan menyandra kekasihmu, membelah dadanya serta mengambil jantungnya, tapi sebelumnya mereka akan memperkosanya bergantian."


"Arima!! pergi kau dari sini. Sampai ada yang menyentuh kekasihku, aku akan membuat perhitungan dengan kalian semua, dasar biadad, licik!!" pekik Gurkha marah.


"Aku akan menikah denganmu tapi tidak menyentuhmu, karena aku sudah berjanji tidak akan merubah wujud atau transformasi secara arfiah di hutan ini." kata Gurkha dengan suara bergetar.


Ayahnya cepat-cepat berdiri dan memberikannya susu yang kebetulan ada di mangkuk. Dia menerima air pemberian Ayahnya dan langsung meminumnya, sambil meneteskan air mata. Ayahnya mengelus Gurkha dengan kasih, seolah dia tahu perasaan anaknya.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Comod Gamayo dan dia hanya mengangguk tanpa bersuara.


"Maaf Ayah, aku sungguh merasa sakit dan menginginkan kematianku. Aku tidak bisa membayangkan apabila aku tidak bertemu dengan kekasihku. Kenapa Kakek dan Ayah ikut menjebakku." suara Gurkha lirih, air matanya deras membasahi bumi.


Arima mencibir, matanya licik menatap Gurkha yang menangis pilu, dan yang lebih membuat Arima kesal Ayahnya Gurkha juga ikut menangis. Dasar Ayah dan anak cengeng!!.


"Sudahlah Gurkha, setelah Arima melahirkan aku akan membakar tubuhnya dengan lidah apiku dan kamu akan bebas kawin dengan kekasihmu." tungkas Kakek ketua.


"Aku tidak mau dibakar, karena aku akan memakan bayiku yang baru lahir, tidak akan pernah Gurkha pergi dari bukit ini, aku akan terus hamil sampai tua."


"Arima, bicaramu sungguh ngelantur hanya bangsa Komodo yang kanibal dan bisa bunting tanpa jantan. Aku yakin kau turunan Komodo." kata Gurkha sangat kesal, dia akhirnya pergi melayang ke atas pohon. Lebih baik dia tidur di pohon yang tinggi.


*****

__ADS_1


__ADS_2