
Hampir sebulan ini Devi merasa sekretaris barunya selalu membuat ulah. Rasanya ingin memecatnya tapi Pak Romi selalu membelanya dan mengatakan wanita itu adalah anak yatim piatu dan tidak punya apa-apa.
"Sabarlah bos, dia itu dari kampung jadi agak kolot dan tidak tahu etika. Saya sendiri juga sering dibuat malu oleh tingkahnya, tapi saya selalu mengajarinya kalau dia salah." kata Pak Romi waktu Devi protes dengan sekretaris baru itu.
"Pak Romi, dia tidak mengerti etika, bekerjapun tidak becus. Pakaiannya juga terlalu seronok. Karyawan kita banyak yang ifil melihat tingkah laku Lela yang kurang pantas."
"Tapi di lain pihak para lelaki selalu tergoda kepada Lela, biarkanlah dia bekerja disini sebagai penyemangat bagi para lelaki." sahut Pak Romi tertawa.
"Mungkin yang bersemangat adalah Pak Romi yang lainnya belum tentu. Misalnya dua orang pegawai baru Bonebe dan Lossem, kedua laki-laki itu malah sering terlihat marah kepada Lela."
"Saya melihat kedua laki-laki itu sangat misterius dan sering mencuri pandang kepada bos. Saya rasa mereka sangat memuja atau lebih tepatnya ingin menikahi bos. Setiap ada tamu laki-laki datang langsung mereka merapat dan mengeluarkan pandangan membunuh. Mengerikan sekali pandangan mereka."
"Saya juga merasakan itu Pak Romi, tingkahnya sangat mencurigakan. Kenapa Pak Romi merengkrut kedua orang itu?" tanya Devi memandang Pak Romi dengan alis mengkerut.
"Panjang ceritanya, mereka berdua diserahkan oleh kedua orang tuanya yang tidak mampu, saya kasihan saja pada mereka. Didalam pekerjaannya tidak bermasalah, mereka juga sopan nanti bisa saja saya lempar ke Hutan Bunian menjadi mandor disana."
"Baguslah Pak, saya takut ketika berada di dekat mereka."
"Hahaha...tapi dekat Gurkha tidak takut?"
"Ahh...Pak Romi jangan disebut nama itu, mungkin dia bahagia di luar sana sama istri barunya." jawab Devi melengos.
"Tookk...tookk...tookk." Pak Romi baru saja mau berdiri ketika tamu itu sudah masuk.
"Gurkha....."
"Boss...."
"Kaget? apa yang kalian kerjakan berdua disini? berapa kali aku telpon Pak Romi, tapi tidak diangkat." suara Gurkha terasa mengintimidasi membuat Devi urung memeluk pria itu. Dia kembali duduk di sofa.
"Maaf bos, ponsel saya di ruangan saya. Dan saya disini hanya bertukar pikiran."
__ADS_1
"Kata Lela kalian sering berdua, kadang kantor sudah tutup kalian belum pulang."
"Bos, saya murni bekerja, tidak ada maksud saya untuk mengkhianati boss. Jangan cepat percaya sama karyawan lain, belum tentu benar."
"Silahkan Pak Romi ke ruangannya, kalau ada bukti saya tidak akan tinggal diam."
"Maaf bos, semoga saja bos tidak terhasut oleh seorang wanita." sahut Pak Romi mohon diri.
Rasa rindu yang menggunung tiba-tiba lenyap ketika Gurkha marah dan menyebut nama Lela. Berarti Gurkha ke ruangan Lela dulu sebelum masuk kesini.
"Kau tidak kangen padaku?" tanya Gurkha ketus.
"Tidak!! buat apa kangen sama suami orang?" jawab Devi berusaha tegar, ia tidak boleh terlihat lemah atau menangis di depan laki-laki ini.
"Karena kamu sudah punya cowok lain yang lebih mengayomimu."
"Gurkha, aku tidak seperti yang kau bayangkan, kau murahan dan tidak tahu diri. Jangan membalikan fakta. Jika kau selingkuh teruskanlah, jangan menuduhku selingkuh juga." ucap Devi kesal.
Gurkha terdiam, badannya terlihat lebih kurus, rambut dan jambangnya memanjang, tapi tidak mengurangi ke tampanannya. Malah sekarang Gurkha kelihatan lebih dewasa.
"Waktu kamu menjadi pimpinan kenapa Pak Romi setiap saat kesini?" Devi balik bertanya. Gurkha terdiam, tangannya memeluk Devi, bibirnya langsung nyosor..tidak memberi Devi peluang untuk menolak.
"Aku kangen." bisik Gurkha.
"Boong, aku tidak percaya padamu. Bilang berperang, tahu-tahu kawin dengan perempuan murahan, aku benci padamu. Benci!!" sentak Devi.
"Tidak ada begitu, aku murni perang. Cintaku hanya padamu, tidak ada wanita lain. Sekarang kita akan kumpul terus karena perang sudah usai." Gurkha meraih pinggang Devi dan memeluknya dari belakang. Devi duduk di pangkuan Gurkha.
"Kata Lela kau pacarnya?" ucap Devi pura-pura, dia ingin tahu jawaban Gurkha.
"Dia bohong, dia yang merayuku. Aku tidak mau padanya."
__ADS_1
"Jadi kalian sudah saling kenal, aku tidak tahu apa-apa. Pantas Pak Romi terus mempertahankan wanita ini ternyata kau yang mempertahankan."
"Tidak begitu sayank, aku baru tahu Lela kerja disini, mungkin Pak Romi tidak tahu apa-apa tentang Lela."
"Haruskah aku percaya, sedangkan kamu tidak membantahnya, kondisi ini membuat aku tidak nyaman. Jika kau benar-benar kenal dengan Lela kenapa harus membantahnya."
"Arima sudah mati, aku sudah bebas." sahut Gurkha tiba-tiba, masalah ini membuat Devi marah.
"Pantas kau datang padaku, coba istrimu masih hidup, kau tidak mungkin datang kesini. Teganya kau menipuku." geram Devi.
Terdengar tarikan nafas Gurkha yang panjang. Ntah apa yang dipikirkan.
Lela yang berada di ruangan sebelah sangat terobsesi ketampanan pria itu membuat dia seketika jatuh cinta. Dia langsung melangkahkan kaki menuju ruang kerja bos Devi, karena dia lihat bos Gurkha masuk kesana. Dia juga ingin bercerita banyak dan ingin meluruskan kesalah pahaman antara mereka dan bangsa Naga, tentang kejadian yang sudah terjadi dengan bangsa mereka.
Lela mendorong pintu tanpa mau mengetuk terlebih dulu. Seperti biasa sebab dia memang memiliki otoritas dan hak akses penuh untuk melakukan itu. Sebab Gurkha adalah calon suaminya yang tertunda. Devi kaget dan sekilas melirik Gurkha, terlihat raut wajah Gurkha masam.
Lela merasa kakinya tak menapak dilantai ketika melihat dengan kedua matanya sendiri tingkah kedua bos nya. Pemandangan didepannya itu membuatnya marah dan cemburu. Bagaimana tidak, Gurkha sedang bercengkrama. Tidak!!. Deskripsi yang paling frontal yang membuat wajah Lela memerah adalah, Gurkha berciuman dengan bos Devi. Posisi Devi duduk diatas pangkuan Gurkha. Kehadirannya yang tanpa ketok pintu sebelumnya sontak membuat kedua orang itu kaget dan bos Devi bangun beringsut mengambil posisi wajar. Meskipun tidak akan pernah bisa menjadi wajar sebab Lela sudah terlanjur menyaksikan perbuatan mereka. Lela mengerutkan kening tatkala melihat bos Devi salah tingkah.
"Kalau masuk biasakan ketuk pintu." kata Gurkha kurang senang.
"Siang bos, ini sudah jam makan siang, apakah anda mau makan keluar atau saya bawakan sesuatu?" kata Lela kaget melihat Gurkha dan bos Devi.
"Kebetulan sekali Lela, aku mau tanya tentang dirimu. Apakah kamu sudah lama kenal dengan bos Gurkha?" tanya Devi turun dari paha Gurkha dan berdiri mendekati Lela yang matanya tidak lepas dari Gurkha.
"Sudah lama bos, kami hampir saja menikah. Sayang sekali......." ucapan Lela hampir membuat tubuh Devi oleng.
"Lela jangan banyak bicara, Devi adalah calon istriku. Nanti dia salah persepsi, kita tidak punya hubungan apapun." potong Gurkha cepat. Dia tidak tahu harus bagaimana, Gurkha lupa menyuruh Lela merahasiakan dari mana asal mereka.
Wajah Lela memerah, Lela mengatur napasnya. Kemudian menatap tajam pada Gurkha yang kelihatan serba salah. Gurkha merapikan dasinya kembali seperti sedia kala. Upaya terakhir yang bisa dia lakukan untuk memperbaiki suasana adalah marah kepadanya. Gurkha Menatapnya dengan canggung, dirinya berdehem sesaat. Namun itu tak mengubah apapun. Justru kini dia berfokus pada wanitanya yang berdiri dengan wajah cemberut.
"Bos Gurkha apa artinya ini, kita sudah di jodohkan, tapi kenapa kalian bermesraan?"
__ADS_1
"Aku sudah menolak perjodohan itu karena aku sudah mempunyai seorang calon istrxi." sahut Gurkha tandas. Tanpa basa basi Lela keluar. Dia tidak mengerti kenapa Gurkha berbuat begitu.
****