DRAGON PRINCE SCANDAL

DRAGON PRINCE SCANDAL
TRAGEDI DI PANTAI


__ADS_3

Pantai D'Six cukup jauh dari Kantor. Sekitar tiga puluh menit baru sampai, padahal jalanan yang cukup sepi dan laju kendaraan yang kencang. Lagu Please Don't Go dari Joel Adams mengiringi perjalanan mereka. Devi memperlambat laju mobil setelah dekat di tempat yang dituju.


Mobil melintas di jalan D'Sixs, dan berhenti di depan gardu Scurity. Setelah membayar karcis, barulah mereka di perkenankan masuk ke dalam menuju pantai. Kemudian Devi berhenti di tempat parkir umum yang berada tidak jauh dari Restoran D'Sixs.


Suasana sepi, maklum sudah mulai gelap, pengunjung pantai pasti sudah pulang kerumah masing-masing. Lampu-lampu di pinggir pantai mulai menyala serentak. Pemandangan ini Indah sekali. Nyamuk-nyamuk pantai terlihat berkerumun mencari sinar lampu.


"Dimana orangnya?" Devi bertanya sambil menoleh kearah Juli.


"Sudah di chat tapi tidak dibalas, mungkin tidak ada sinyal." jawab Juli celingukan, mata juli mencari sosok Arga yang tidak kelihatan.


"Kita tunggu saja disini, Arga tidak mungkin ingkar." kata Devi bersabar.


Tidak berapa lama terlihat sosok pria tinggi tegap mendatangi mereka. Senyum Juli merekah, dia membuka seat belt lalu keluar ketika pintu mobil terangkat ke atas.


Belum sempat Juli menyapa Arga, pria itu melewatinya mendekati Devi yang masih duduk di mobil. Padahal Devi tidak begitu memperhatikan sekitar dan hanya berfokus pada ponselnya yang tidak ada sinyal.


Mata Juli tidak bisa di kelabui, ia melihat ketidak beresan dengan tingkah laku Arga. Pria itu tidak mau menyapanya dan berlalu begitu saja ketempat Devi. Sungguh sikap yang aneh dan di luar dugaan.


Juli baru ingat Arga mau bertemu asal Devi mengantarnya. Owh... dia baru merasa, yang Arga butuhkan Devi bukan dirinya yang murahan. Juli merasa kecewa berat kenapa usahanya bisa begitu tak bernilai di mata Arga, namun ketika ada Devi Arga bisa langsung fokus kepada sosok wanita cantik itu. Juli mengakui Devi lebih segalanya, tapi bosnya itu sering memasang wajah stoic kepada orang lain.


"Devi, apakah kau tidak keluar? aku menunggumu, kita akan dinner." ucap Arga mengabaikan Juli yang berdiri menyongsongnya. Devi menoleh dan memasukan ponselnya ke tas.


“Arga tidakah kau ingin menyapaku seperti seorang pria gentleman?" tanya Juli secara tiba-tiba karena ia kecewa terhadap tingkah Arga.


"Maaf, aku buru-buru karena ingin mencegat Devi supaya tidak pulang. Aku tentu tidak akan mengantar kau pulang. Dan disini sulit mencari Taxi kalau sudah malam, hanya Devi yang bisa mengantar kau pulang." kilah Arga. Juli tetap kesal merasa tidak mendapat respon yang diharapkan.


“Jika seorang gadis mau datang menemuimu, jangan menyinggung perasaannya. Seharusnya sebagai seorang pria kau membawanya pergi dan mengajaknya makan. Apa kau tidak tahu soal itu?” ketus suara Juli.


"Kau yang tidak mengerti tujuanku, jadi jangan cerewet." sahut Arga kesal.

__ADS_1


Devi keluar dari mobil, ia tidak enak mendengar Juli marah-marah tidak keruan kepada Arga. Setelah Devi menutup pintu mobil dia bersandar di body mobil, angin dingin menyerbu tubuhnya sampai ketulang sumsum, badannya seketika merinding.


Sedangkan Arga tidak menggubris dan cuek mendengar Juli mengoceh soal sikapnya yang membuatnya tersinggung. Wanita itu terlihat kesal melihat ekspresi wajah Arga yang mengejek, yang ditujukan padanya. Mungkin Juli terbiasa dengan pria mesum yang menggodanya dan pria liar yang memandangnya penuh nafsu seperti biasanya. Arga berbeda dengan pria begitu, Juli menggigit jarinya kesal dengan situasi yang kini tak berpihak padanya.


"Arga, sebaiknya aku pulang, lagian aku belum mandi. Aku tidak biasa keluyuran, apalagi pulang malam." kata Devi menatap Arga.


"Mampir dulu sebentar aku sudah terlanjur memesan meja, kita akan dinner disini. Tidak sampai sepuluh menit." kata Arga.


"Cuma sebentar ya, masalahnya aku ada janji dengan seseorang." kilah Devi, perasaannya tidak enak kalau dia menolak, apalagi Arga sudah memesan makanan.


"Mari kita kesana." ajak Arga dengan antusias. Devi mengangguk samar.


"Juli kita kesana..." ia menghampiri Juli yang mematung. Devi mengerti kekesalan Juli yang tidak dianggap oleh Arga. Seharusnya dirinya tidak perlu datang kalau begini jadinya.


Devi berjalan pelan karena suasana gelap. Suara Ombak laut terdengar bergemuruh, hati Devi merasa galau dan mencekam, ada rasa yang tidak dia tahu menyelimuti dirinya. Dia merasa menyesal menyanggupi ajakan Arga. Devi naik ke Gazebo di ikuti oleh Juli, ia menepis perasaan tidak enak dari otaknya.


Arga pergi ke Restauran yang tidak terlalu jauh. Langkahnya terhenti saat terdengar suara pekikan dilangit tapi dia berusaha tenang.


"Yang gini romantis, sebentar lagi kita akan dibawakan lampu pantai supaya terang. Aku senang suasana begini, apalagi dengan mangsa baru." sahut Juli tertawa terkekeh.


"Aku malah takut, kamu dengar suara di langit itu, seperti suara Naga."


"Itu biasa di laut, biasanya burung elang yang mencari ikan di Laut. Tidak mungkin Naga datang, kita sudah tidak perawan lagi." sanggah Juli percaya diri.


"Aku takut, Naga itu bisa datang walaupun kita sudah tidak perawan lagi." kata Devi merinding. Dia ingat kejadian yang selalu menghantuinya setiap saat.


Pembicaraan mereka terhenti saat melihat Arga datang bersama dua orang waiter. Mereka membawa tiga porsi makanan yang berupa nasi campur dan tiga gelas teh manis. Devi ingin tertawa karena makanan begini bisa dia beli di pinggir jalan, tidak perlu datang ke Restauran.


"Selamat malam Nona silahkan menikmati hidangan kami." kata waiter itu sopan sambil meletakan lampu emergency di tiang. Juli melirik Devi yang terlihat kecewa terhadap hidangan yang disuguhkan oleh Arga.

__ADS_1


"Silahkan makan, aku bingung memilih makanan, karena tidak tahu selera kalian." kata-kata yang klise untuk menutupi kantongnya yang kosong. bathin Devi.


"Tidak apa-apa Arga, ini sudah lebih dari cukup. Aku tidak begitu lapar, mungkin masuk angin, perut terasa kembung." kata Devi tersenyum.


"Maaf, kalau tempatnya banyak anginnya, tapi disini romantis. Aku sering duduk disini sendirian." kata Arga lalu duduk di samping Juli.


"Jangan sendirian, ajak aku kalau kesepian aku akan menghiburmu." ucap Juli pongah.


"Aku lebih senang sendiri, duduk dalam suasana gelap dan menatap bintang di langit sambil mendengar suara ombak." kata Arga seolah pada dirinya sendiri, matanya berkilat jauh memandang ke tengah lautan.


Mereka tidak langsung makan, tapi ngobrol ngalor ngidul tentang bisnis. Juli duduk disamping Arga dengan perasaan berbunga. Kedua kakinya tersilang dengan tangan yang sibuk memainkan ponselnya dan tangan yang lain memegang sebatang rokok Sesekali Juli menghisap rokoknya sambil bergaya bak perokok profesional sembari matanya melirik kearah Arga dan memberi senyum menggoda.


Arga merasa jengkel melihat tingkah Juli, namun dia masih mrmbutuhkan wanita itu untuk tetap menemani Devi. Arga bisa menilai dalam sekali pertemuan, jika Juli adalah jenis perempuan murahan yang gampang di boking.


"Kita makan dulu supaya lebih rilexs duduknya. Makanan ini membuat tempat sempit."


"Bukan aku menolak, perutku tidak enak, aku minum saja ya. Maaf Arga lain kali aku yang ngajak kamu makan." kata Devi meringis menahan perutnya yang tiba-tiba melilit.


"Mungkin bos mau datang bulan, aku pun sering begitu. Itu penyakit wanita tiap bulan." sahut Juli mulai mengunyah makanannya.


"Devi, aku ingin mengajakmu jalan- jalan di pinggir pantai." kata Arga setelah mereka selesai makan.


"Sama aku saja Arga, perutnya bos lagi sakit, kita bisa menuju ke lampu disana, setelah itu balik lagi." kata Juli menatap Arga.


"Sama Juli dulu, kalau perutku hilang sakitnya baru aku yang ikut."


Baru saja juli berdiri, tiba-tiba lampu emergency mati dan sesosok tubuh besar muncul dihadapan mereka.


"Setannn......" teriak Devi kaget serta merta meloncat turun. Sedangkan tubuh Juli sudah diseret oleh sosok itu. Teriakan Juli menggema minta tolong. Arga menarik Devi dengan kasar, merasa dirinya dalam bahaya Devi berteriak kencang minta tolong. Dia berontak mencakar, menggigit tangan Arga. Semua tamu Restoran keluar dan meneriakkan kata-kata kasar dan berlari ke tempat Devi yang diseret Arga.

__ADS_1


*****


__ADS_2