Duda Lebih Menggoda

Duda Lebih Menggoda
DLM II Eps 11


__ADS_3

Daren melepaskan pelukan nya dan membalikan tubuh Aneu agar saling berhadapan, lalu dia menjawab.


"Aneu … aku sudah bilang barusan kapanpun kamu siap, aku akan menikahimu," ucap Daren semakin membuat jantung nya sendiri makin berdebar dengan ungkapan yang ia berikan untuk Aneu.


Namun Aneu merasa Daren sedang main-main dengan nya, "𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑏𝑒𝑛𝑎𝑟 𝑠𝑎𝑗𝑎, 𝑚𝑎𝑛𝑎 𝑚𝑢𝑛𝑔𝑘𝑖𝑛 𝑑𝑖𝑎 𝑚𝑎𝑢 𝑚𝑒𝑛𝑔𝑎𝑗𝑎𝑘𝑢 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑘𝑖𝑘𝑎ℎ. 𝐴𝑝𝑎 𝑑𝑖𝑎 𝑠𝑢𝑑𝑎ℎ 𝑔𝑖𝑙𝑎!" batin Aneu dalam hatinya merasa Daren main-main. Hanya dengan hitungan hari Daren langsung mengajak Aneu menikah itu sudah pasti omong kosong.


Berbicara soal hati, memang Aneu berdebar setiap melihat Daren, bukan juga ingin mendengarkan ungkapan cinta dari bibir pria tampan di depannya ini, hanya saja Aneu tidak ingin setiap hari merasa resah karena perlakuanya kepada Aneu.


"Berhenti omong kosong tuan, saya permisi," ucap Aneu lalu pergi beranjak dari kamar Daren. Dan meninggalkan Daren yang masih tertegun dengan jawaban Aneu.


Daren menatap pintu yang baru saja tertutup, dadanya merasa sesak karena jawaban Aneu. Padahal ini pertama kalinya dirinya menyatakan cinta pada seorang perempuan, namun di tolak mentah-mentah.


Daren bingung dengan apa yang di maksud dari ucapan Aneu, dia bergegas mengambil ponselnya yang tergeletak di atas nakas lalu menghubungi seseorang, "temui aku di tempat biasa," ucap Daren lalu mematikan ponsel nya dan bergegas mengganti pakaiannya.


Selesai berpakaian Daren keluar dan melewati kamar Anak-anaknya, dia melihat sekilas dari cela pintu yang terbuka jika Aneu sedang tertawa bersama ketiga Anaknya. "Mudah sekali dia berubah suasana hatinya," pikir Daren karena dirinya sekarang masih dalam suasana kesal.


Daren berjalan keluar rumahnya dan masuk kedalam mobil, menginjak pedal gas dan melajukan mobil dengan sangat cepat hingga akhirnya tidak butuh waktu 40 menit untuk sampai di Cafe yang terlihat mewah dan megah


Di dalam Cafe itu berjejer ratusan botol jenis minuman keras di dalam rak, dengan lampu yang sedikit redup juga alunan musik instrumental clasic menambah suasana semakin terasa sunyi dan tenang.


Disini tempat orang-orang kaya menenagkan pikiran dan hatinya dengan alunan music clasic dan suasana yang mendukung untuk berpikiran jernih.


Daren menarik kursi dan duduk di bartender di samping sahabat dan juga sekertarisnya itu, "kamu sudah sampai,"ucap Yolanda meletakan ponselnya saat sadar Daren tengaj duduk di sampingnya.


"Hmm …" jawabnya malas.


"Satu yang sama denganku untuknya," ucap wanita yang memakai kacamata itu pada pria di dapannya yang sedang meracik minuman. "Ada apa? sudah sangat lama kamu tidak pernah mengajaku kesini," tanya Yolan menatap sahabatnya yang terlihat kusut.


Padahal beberapa hari ini Daren sudah mulai terlihat bahagia, namun jika Daren mengajaknya bertemu di sini sudah pasti pria itu sedang bimbang membutuhkan masukan darinya.


Daren melipatkan kedua tangannya di atas meja Bartender dia menyenderkan kepalanya di atas kedua tanganya dan menatap ke arah Yolan. "Aneu menolakku … " lirihnya pelan sambil menghembuskan napas kasar.

__ADS_1


"Bukanya kemarin kamu bilang jika dia juga menyukaimu?" tanya Yolan karena saat bercerita terakhir kali Daren bilang jika Aneu juga menyukainya.


"Aku kira juga begitu," jawabnya malas.


"Sebentar memangnya dia bilang apa sampai kamu menyangka dia menyukaimu?" tanya Yolan penasaran dia takut jika Daren salah sangka, karena Daren baru pertama kali berurusan dengan seorang wanita.


"Dia tidak bilang apa-apa, aku tau karena dia tidak menolak saat aku cium," jawabnya terus terang.


"Astaga Daren! jadi kamu sudah menciumnya sebelum mengatakan cinta?" tanya Yolan tidak percaya jika pria itu bisa melakukan hal seperti pria nakal di luar sana.


Daren lalu mengambil gelas sloki yang baru saja di sajikan oleh pria tadi, Daren langsung meneguk habis minuman itu, "Hei jangan langsung menghabisakn nya bodoh! itu sangat murni kadarnya," ucap Yolan karena mungkin Daren tidak tau minuman apa yang dia pesan.


"Tapi aku sudah mengatakan padanya untuk menjadi istriku," ucap Daren menjawap pertanyaan yang tadi di tanya oleh Yolan.


"Menjadi istri?" pekik Yolan tidak percaya, Dia kira Daren di tolak cintanya, namun ternyata lamaran yang Aneu tolak.


Yolan memijat pelipisnya yang terasa nyeri mendengar curhatan sahabat bodohnya itu jika tentang cinta.


"Darendra Maximilan! dengarkan aku baik-baik," ucap Yolan menatap serius pria di hadapanya. "Aneu adalah seorang gadis yang masih berumur belasan taun, di umur segitu gadis-gadis seusianya masih ingin bermain-main dengan cinta dan bergonta-ganti pasangan, wajar saja dia langsung menolak," lanjut Yolan.


"Ya setidak nya ajak dulu dia pacaran, jangan langsung mengajak menikah itu membuatnya ketakutan Daren!" pekik Yolan.


Daren terdiam mendengar ucapan sahabatnya yang dari jaman mereka sekolah dulu, Yolan menjadi sahabat satu-satunya, karena sikap dan tingkahnya yang tomboy sangat cocok berteman dengan Daren.


"Apa kamu bilang jika kamu sangat menyukainya dan mencintainya?" tanya nya penasaran, dia ingin tau bagaimana cara Daren menyatakan perasaannya. Yolanda menambah minuman nya lalu menengguknya habis karena ikut pusing dengan kisah cinta sahabatnya ini.


"Aku tidak pernah memberi tahunya Yolan, untuk apa aku memberi tahunya!" pekiknya kesal karena menurutnya Yolan hanya bolak-balik bertanya itu.


𝐏𝐥𝐚𝐤𝐤..


"Aw!"ringis Daren pelan saat Yolan mendaratkan tamparan di punggungnya. Lalu ia menggosok nya dengan pelan agar rasa sakitnya hilang.

__ADS_1


"BODOH!" Decit Yolan kesal. "Pantas saja dia menolakmu, dia saja tidak tau jika kamu menyukainya! dia pasti mengira jika kamu sedang sedang mempermainkannya Daren!" pekik wanita itu kembali mendaratkan tamparan di punggung Daren.


"Hentikan kau mau membantuku atau mau membunuhku Yolan!" perinta Daren menatap sinis sahabat yang selalu memukulnya itu.


"Sudah aku ingin pulang!" ucap Yolan berdiri dari duduknya. Daren langsung ikut berdiri dan mengeluarkan Black Card dan di berikan pada pria di depan nya, lalu di ambil olehnya.


"Jadi apa jalan keluarnya Yolan? kau pergi begitu saja tanpa memberiku jalan keluar" tanya nya lalu memasukan lagi Black Card itu ke dalam dompet nya saat selesai bertransaksi.


"Pikirkan saja sendiri, aku malas meladeni pria bodoh seperti mu," ketus Yolan berjalan meninggalkan Daren.


"Kau sama sekali tidak membantu," gerutu Daren berjalan mengikuti Yolan dari belakang.


Yolan menghela napas kasar lalu menatap Daren, "Kamu hanya perlu bilang tentang isi hatimu, apa yang kamu rasakan terhadapnya," jawab Yolan dengan wajah kesal nya," itu lebih terlihat tulus ketimbang langsung mengajaknya menikah!" pekik Yolan kesal.


Yolan meninggalkan Daren begitu saja, beberapa saat Daren nampak berpikir, "𝑎𝑘𝑢 𝑚𝑒𝑚𝑎𝑛𝑔 𝑡𝑖𝑑𝑎𝑘 𝑝𝑒𝑟𝑛𝑎 𝑏𝑖𝑙𝑎𝑛𝑔 𝑘𝑎𝑙𝑎𝑢 𝑎𝑘𝑢 𝑚𝑒𝑛𝑦𝑢𝑘𝑎𝑖𝑛𝑦𝑎," pikir Daren dalam hatinya.


Diapun pergi keluar dan masuk kedalam mobil nya. Sesampainya di Rumah mewahnya di kawasan ibu kota itu, Daren dengan cepat masuk ke dalam dan bergegas menemui Aneu untuk menyatakan cinta seperti apa yang di katakan Yolan.


Daren masuk ke dalam kamar Anak nya untuk memastikan jika Aneu masih berada di dalam bersama Anak-anaknya.


Daren tersenyum ini baru pertama kalinya ia melihat Aneu sedang tidur bersama ketiga Anaknya di kasur yang cukup besar itu. Daren melangkah kan kakinya mendekati Aneu yang terlelap di ujung sisi kirinya.


"𝑎𝑘𝑎𝑛 𝑠𝑎𝑛𝑔𝑎𝑡 𝑠𝑒𝑚𝑝𝑢𝑟𝑛𝑎 𝑗𝑖𝑘𝑎 𝑑𝑖 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑖𝑛𝑔 𝐴𝑛𝑒𝑢 𝑎𝑑𝑎 𝑎𝑘𝑢," batin Daren.


Bukan nya dia melihat keadaan Anak-anak nya, tapi Daren malah berbaring di samping Aneu sambil memeluk dan mengendus aroma tubuh Aneu. "Sangat sempurna untuk menjadi keluarga bahagia," gumam Daren mempererat pelukannya.


"Tambah satu anak lagi darimu itu sudah cukup," ucapnya sambil sedikit berhayal dan terkekeh mendengar ucapannya sendiri.


Aneu merasa sesak dia menggeliat dan membalikan tubuhnya ke arah Daren membuat pria itu kaget menatap Aneu, seketika Daren pun mengulum senyum di bibirnya membayangkan sesuatu yang melintas di otaknya.


.

__ADS_1


.


𝑡𝑜 𝑏𝑒 𝑐𝑜𝑛𝑡𝑖𝑛𝑢𝑒𝑑 ...


__ADS_2