Duda Lebih Menggoda

Duda Lebih Menggoda
DLM II Eps 12


__ADS_3

Daren mengulum senyuman di bibirnya saat terbesit ide gila di otaknya, Daren manatap wajah Aneu yang menghadap ke arahnya. Di tariknya anak rambut yang menutupi wajah Aneu ke belakang telinganya.


"Kamu cantik sekali Aneu …" lirihnya sambil tersenyum. Belum sempat Daren melancarkan aksinya, namun Aneu lebih dulu membuka matanya membuat Daren menghentikan gerak tangan yang memegang rambutnya.


Kalau-kalau Aneu akan marah lagi padanya, dia lebih memilih diam membeku tanpa berbicara dan menunggu reaksi gadis itu.


Sudah lewat dari 10 detik, Aneu masih memandangi wajah Daren, membuat pria itu mati membeku tanpa bergerak sedikitpun. "Daren …" lirih Aneu pelan langsung memeluk Daren.


Daren yang sudah siap menerima amarah dari Aneu, merasa terkejut dengan tingkahnya, "π‘Žπ‘π‘Ž π‘‘π‘–π‘Ž π‘ π‘’π‘‘π‘’π‘›π‘”π‘Žβ„Ž π‘‘π‘’π‘Ÿπ‘‘π‘–π‘‘π‘’π‘Ÿ, π‘Žπ‘‘π‘Žπ‘’ π‘‘π‘–π‘Ž π‘ π‘’π‘‘π‘Žπ‘›π‘” π‘π‘’π‘Ÿπ‘šπ‘–π‘šπ‘π‘–," batin Daren bertanya-tanya lalu membalas pelukan Aneu, Daren merasa sangat nyaman berada di dalam pelukan Aneu.


Namun Daren tiba-tiba mengerutkan kedua ujung alisnya karena merasa ada yang aneh dengan Aneu, dia sedang meremas bagian dada bidangnya seolah benda itu adalah mainan nya.


"π΄π‘˜π‘’ … π‘ π‘’π‘‘π‘Žπ‘›π‘” 𝑑𝑖 𝑙𝑒-π‘π‘’β„Ž-π‘˜π‘Žπ‘›?" tanya nya dalam hati dengan raut wajah yang tidak bisa di artikan, karena Aneu terus meremas dan mengelus dengan wajah yang tersenyum sambil memejamkan mata. Niat hati ingin lebih dulu melakukan itu, namun gadis cantiknya mendului keinginanya.


Daren pun tersenyum lalu memeluk dan menikmatinya, "Aneu bangunlah ini bukan mimpi," bisik Daren agar Aneu bangun dari mimpinya. Karena jika tidak dia tidak bisa menjamin apa yang akan terjadi selanjutnya.


Aneu yang mendengar suara Daren begitu nyata di telinganya dengan spontan dia pun membuka matanya. Daren langsung membekap mulut Aneu saat mulutnya terbuka lebar dan akan berteriak "Ssttt…" Daren memberi kode pada Aneu jika di belakang nya ada Anak-anak yang tengah tertidur pulas.


"Kenapa tuan ikut tidur di sini juga?" bisik Aneu tidak mau membangunkan 3 anak itu. Aneu sedikit menjauhkan tubuhnya dari tunuh Daren.


"Aku juga lelah ingin tidur," jawabnya lalu menyenderkan kepalanya di dada Aneu. Namun Aneu mendorong kepala Daren enggan berdekatan denganya.


"Kenapa tidak boleh? kamu saja *******-***** dadaku barusan," ucap Daren mengingatkan kelakuannya pada Daren barusan.


Aneu merasa tertangkap basah, bagaimana bisa dia bisa berpikir jika itu adalah mimpi, wajahnya merona membuat Daren semakin gemas ingin mencium gadis itu.


"Aneu dengarkan aku dulu," ucap nya cepat-cepat sebelum Aneu pergi dari tempatnya sekarang. "Aku menyukaimu Aneu, aku tau ini terlalu cepat namun perasaanku nyata padamu Aneu," ucap Daren dengan tulus.


Aneu menatap wajah Daren, di sana terpancar ketulusan dari kedua bola matanya. Daren menarik lengan Aneu dan mengecupnya, "maafkan aku karena aku gegabah mengajakmu menikah sebelum menyatakan perasaanku," ucap nya dengan tulus.


Jangung Aneu sangat berdebar kencang, sejujurnya dia sangat senang tapi saat mencium aroma alkohol di mulut Daren membuat Aneu enggan untuk menjawab, apalagi keduanya belum benar-benar dekat satu sama lain. Aneu bangkit dari tidur nya.

__ADS_1


"Jangan pergi, aku benar-benar minta maaf Aneu," ucap Daren menahan lengan Aneu.


"Aku memaafkanmu tuan, ini sudah malam waktu nya istirahat," ucap Aneu melangkah keluar dari kamarnya.


"Bagaimana dengan jawabannya, Aneu? apa kamu juga menyukaiku?" tanya nya mengekori Aneu keluar dari kamar.


"Kita bicarakan lagi setelah anda sadar dan tidak dalam keadaan mabuk," ucap Aneu, Daren langsung memeluk gadis itu.


"Terimakasih Aneu, aku harap perasaan mu sama denganku," ucap Daren.


Sementara di bawah sana Bibi Nur tidak sengaja menangkap basah kedua orang yang sedang berpelukan itu, Bibi Nur nyaris terkejut dia sangat kaget dan menutup mulutnya dengan satu tangan saat melihat Daren memeluk Aneu.


Sementara Daren hanya tersenyum kepada Bibi Nur yang sedang memergokinya dari bawah, dia mengacungkan satu jari telunjuk dan menempelkan nya di bibir Daren, memberi pertanda dari atas jika dia di suruh diam.


Bibi Nur yang menutup mulutnya sendiri mengerti maksud Daren dia mengangguk dan langsung pergi begitu saja.


Daren melepaskan pelukan lalu mengecup Aneu sekilas, "selamat malam, mimpi indah honey," ucap Daren tiba-tiba membuat Aneu tersipu dengan panggilan nya.


Daren mengantarkan Aneu hingga depan kamarnya, dan dia kembali ke dalam kamar nya sendiri. Di dalam kamar, Aneu memegangi dadanya sendiri jantung nya terasa mau copot. "Ya tuhan! apa ini nyata?" tanya Aneu lalu mencoba mencubut pipinya sendiri.


Pagi hari Daren yang biasanya masuk kerja pada hari sabtu, namun saat ini dia enggan bekerja karena berniat seharian menemani Anak-anaknya belajar. Walaupun terlihat jelas jika dirinya tidak pernah menemani anak-anaknya.


Dilihatnya Axio sudah tampan dengan pakain rapih yang ia kenakan, sudah pasti Aneu yang mendandani nya.


"Daddy tidak bekerja?" tanya Axio yang melihat orang tuanya tidak mengenakan setelan jas. Anak pertama Daren itu bertanya sambil berjalan mendahului Daddy nya menuruni anak tangga.


"Daddy ingin melihat kalian belajar, jadi Daddy tidak bekerja hari ini," jawabnya menatap kedua Anaknya yang lain berada di meja makan. Daren mengedarkan pandangannya dia tidak melihat Aneu di sana.


"Tumben sekali Dad!" seru Axio yang memang merasa heran dengan perubahan Daren yang tiba-tiba. Anak itu langsung duduk di kursi depan Brisea.


"Asik jadwal kita hari ini tidak banyak Dad, Daddy mau kan bacain dongeng untuk Bee," pinta anak perempuan nya antusias.

__ADS_1


"Jangan berharap," jawab Axio mengingatkan Brisea. Karena Daddy nya sama sekali tidak cocok membacakan dongeng untuk mereka, karena ekpresinya yang datar itu.


Daren yang berniat mencari perhatian Aneu pun mengiyakan permintaan Brisea, "iya nanti Daddy bacain dongeng yah," jawabnya datar lalu mengambil roti yang ada di depannya.


"Wah Daddy serius?" Axio terlihat tidak percaya.


"Yeee… nanti malam kita dengerin bareng kak Aneu juga," ucap Brisea semakin membuat Daren senang.


Axio menatap curiga pada Daren yang tersenyum sambil mengunyah roti yang ada di dalam mulut nya itu. Sementara Cryl tengah sibuk dengan selai yang dia oleskan di atas roti.


Daren semakin heran karena tidak melihat Aneu yang biasanya sudah membantu Anak-anak untuk sarapan. "Kenaman kak Aneu Bee?," tanya Daren.


"Kak Aneu pergi," jawabnya dengan mulut yang terisi penuh oleh roti.


Daren mengerutkan keningnya, karena Aneu tidak meminta ijin atau memberi tahunya terlebih dulu. "Kemana dia pergi?" tanya Daren meletakan rotinya di atas piring. Dan di jawab dengan Brisea yang mengangkat bahunya tanda tidak tau.


"Tidak tau, kak Aneu pagi-pagi sekali membantu kita mandi dan langsung pergi," jawab Axio.


"Bibi!" teriak Daren memanggil Asisten rumah tangganya itu. Lalu bi Nur pun berlari dengan buru-buru.


"Ada apa tuan?" tanya Bi Nur dengan napas yang masih terengah-engah.


"Aneu kemana bi Nur? apa dia bilang padamu pergi kemana dia?" tanya Daren tidak sabaran.


"Anu … Tuan, Non aneu …" Bi Nur nampak berkeringat, dia menjeda omongan nya dan mengusap keringat yang ada di keningnya. Membuat Daren semakin tidak sabaran.


Di pikiran Daren saat ini, Aneu pergi meninggalkan dirinya karena ulahnya belakangan ini "Cepat katakan bi Nur!" tegas Daren pada wanita paruh baya itu.


"Non Aneu pergi…"


.

__ADS_1


.


π‘‘π‘œ 𝑏𝑒 π‘π‘œπ‘›π‘‘π‘–π‘›π‘’π‘’π‘‘...


__ADS_2