
"Aakkk! hentikan ka!" teriak Aneuly karena Daren sudah mulai mengangkat Abian lagi untuk kembali memukulnya.
Abian tersenyum sambil meringis melihat betapa kesalnya kakak satu-satunya itu. "Cukup sudah aku menanhannya selama ini!" sentak Daren.
"Aku peringatkan kamu sekali lagi! Dia miliku! Dan kamu tidak bisa lagi merebutnya karena aku sudah memilikinya seutuhnya!" sentak Daren tepat di depan wajah Abian dengan sangat kesal.
"Kak, hentikanlah! dia tidak melakukan apa-apa padaku." ujar Aneuly agar Daren mereda emosinya. Namun saat Daren mengkendorkan cengkraman di baju Abian, pria itu malah balik emosi saat mendengar bahwa Daren sudah memiliki Aneuly seutuhnya.
Abian membalas pukulan Daren berkali-kali hingga Aneuly kembali menjerit-jerit agar keduanya berhenti saling memukul, "Aku hanya memeluknya dan kau marah sampai menonjoku!" ketus Abian kesal dan kembali memukul.
Bugh...
Bugh...
Daren bukan tidak bisa membalas pukulan Abian, dia sengaja membiarkan Abian melepaskan emosinya kepada dirinya. Karena Daren sadar dialah pemenangnya dan dengan baik hati sebagai gantinya dia membiarkan Abian memakai tubuhnya sebagai pelampiasanya.
__ADS_1
"Dan kau malah merusaknya dasar bajingan!" sentak Abian sementara Aneuly sudah menangis histeris, semua pengunjung mulai berkerumun dan memisahkan kedua orang itu hingga keduanya sama-sama tergeletak di atas rumput tanoa berniat melawan.
"Terima kasih banyak pak," ujar Aneuly kepada ketiga pria yang tadi membantunya memisahkan Abian dan Daren.
Aneuly pergi untuk mencari sesuatu yang dapat mengobati kedua orang itu, dan dia kembali lalu menyuruh kedua orang itu duduk di bangku taman.
Abian ada di sisi kirinya sementara Daren ada di sisi kanan nya, Aneuly lebih dulu mengobati Abian dari pada Daren. Tentu saja itu membuat Daren kembali emosi.
"Lihat aku bian," pinta Aneuly pada Abian yang duduk di samoung nya, dia pun mengoleskan salep di sudut bibirnya.
"Itu karena kamu memulainya lebih dulu!" jawab Aneuly tidak kalah ketusnya, dia tidak suka pada tingkah Daren yang semena-mena seperti ini apalagi kepada adiknya sendiri.
"Tapi dia memelukmu, dan kenapa harus dia duluan yang di obati. Kamu tau kan aku tidak salah," rengeknya.
"Diamlah, aku mengobati Abian lebih dulu karena ini ulahmu. Aku menghawatirkanya karena tidak ada yang mengobatinya," ujar Aneuli. membuat Abian tersenyum dan seketika membuat Daren kesal karena Abian menertawakanya.
__ADS_1
"Lalu aku? aku juga tidak ada yang mengobatiku!" ujarnya.
"Walaupun tidak ada yang mengobatimu, perhatianku dan ragaku sudah di miliki kamu, sementara Abian aku hanya bisa menghawatirkannya saat dia berada di depan mataku. Kami belum tentu bertemu setiap hari, apa kakak paham?" tanya Aneuly tanpa menoleh ke arah Daren.
Daren mengulum senyum mengerti arti dari ucapanya Aneuly, dia pun terdiam menunggu giliran di obati Aneuly sambil sedikit merengis kesakitan karena Darendralah yang lebih parah di banding Abian.
"Sudah beres," ujar Aneuly membuat Darendra tersenyum karena sekarang giliranya. "Nih kakak obati sendiri, aku harus mencari sesuatu." ujarnya lalu melangkah pergi.
Abian pun terkekeh saat mekihat kakaknya mendapat perlakuan tidak enak dari sahabatnya itu.
"Jangan tertawa! cepat obati aku!" ketus Daren pada adiknya yang sedang tertawa renyah menertawakan dirinya. Abian mendengus kesal, walau begitu dia langsung mengambil salep itu dan mebgobati Darendra.
.
.
__ADS_1
To be continued...