
Daren tersenyum, dia tiba-tiba memiliki ide agar bisa beralasan untuk tidur bersama Aneuly, Daren pun mengijinkan Angelina untuk menginap di rumahnya.
"Terimakasih sayangku, akhirnya aku bisa tidur denganmu," ucap Angelina sambil membelai Daren seperti cacing kepanasan. Namun di tatap sinis oleh Daren
"Lagian kenapa kamu kesini? tau dari mana jika aku sakit!" ketus Daren merasa jijik dengan super model yang jiga adalah sahabat lamanya itu.
"Tentu saja dari Yolanda, dia memberiku kabar jika kau sedang merindukan ku sampai kamu sakit begini," jawab Angelina dengan jujur. "Tapi aku tidak menyangka akhirnya kamu menerimaku Daren, kamu sangat tersentuh mendengar itu."
"Kurang ajar! pantas saja, ternyata Yolanda." Pekik Daren kesal. Karena jika bukan Yolanda tidak akan ada yang bisa menghubungi manusia cacing ini pikir Daren. Daren menghela nafas kasar sudaj sangat risih dengan tubuh Angelina yang terus menemoel padanya.
"Ih kenapa kamu kesal Daren? bukanya kamu senang jika aku datang?" tanya Angelina dengan manja. Dan di tatapn sinis oleh Daren, dia penasaran mengapa Yolanda memberi tahu Angelina dan membuatnya datang ke indonesia untuk menemui dirinya.
__ADS_1
Angelina adalah sahabat Yolanda sejak SMP, dan menjadi sahabat Daren juga saat Daren dan Yolanda berteman. Namun Angelina selalu mengambil kesempatan untuk jauh lebih dekat dengan Daren yang sudah jelas sangat membencinya dan sangat tidak menyukainya walaupun demi kian, Daren sama sekali tidak pernah sampai mengusir wanita ini.
Sementara di dalam kamar, Aneuly meminta ketiga anak Daren lebih dulu beristirahat tanpa membacakan dongeng lebih dulu seperti malam-malam sebelumnya dan beralasan jika dirinya sedang tidak enak badan.
Aneuly meringkukan tubuhnya di atas ranjang sambil menatap lampu kecil yang ada di atas nakas, dia melamun mengingat kepergian Daren dan Model cantik yang bernama Angelina itu sambil di rangkulnya.
"Bukankah kita sudah menjadi sepasang kekasih?" gumam Aneuly karena merasa jika dirinya benar-benar sudah tidak di anggap. "Apa dia sangat membenciku, karena marah padanya waktu itu?" tanyanya pada dirinya sendiri.
Tanpa sadar Aneuly pun meneteskan air matanya pelan, matanya terasa amat sangat perih. Jantungnya berdebar tidak karuan, "aku merindukanmu," gumam Aneuly mengingat sentuhan-sentuhan yang biasa Daren berikan padanya.
Apalagi saat ketika Daren hampir melakukan sesuatu yang lebih dari pada ciuman, Aneuly dengan sadar hampir menyerahkan dirinya. Gadis itu sudah sangat pasrah dengan apa yang akan terjadi ke depanya dengan hubungan mereka, karena dia tidak mungkin berjuang sendiri jika Daren tidak menginginkanya lagi.
__ADS_1
Mata Aneuly pun lama kelamaan mulai terpejam, dia merasa sangat lelah dengan semua pemikiran negatifnya.
Waktu sudah menunjukan tengah malam, seseorang membuka pintu kamar Aneuly dengan sangat pelan. Pria bertubuh kekar itu berjalan mendekati gadis yang tengah tertidur pulas dengan sisa-sisa isak tangis di pipinya. Pria itu duduk di ranjang sambil menatap Aneuly yang tengah tertidur.
Pria yang berwajah tampan itu menyeka pelan air mata Aneuly dengan jemarinya, lalu mencium pucuk kepalanya dan membelai rambutnya sayang.
"I Love you," bisiknya.
.
.
__ADS_1
to be continued...