Duda Lebih Menggoda

Duda Lebih Menggoda
DLM II Eps 19


__ADS_3

Daren menyelinap masuk kedalam kamar Aneuly, tepat ketika semua orang sedang tertidur pulas termasuk Aneu yang saat ini tengah berada di dalam mimpinya.


"Aku tidak tau jika mencintai seseorang bisa membuatku melakukan hal gila," ucap Daren mengingat kelakuannya beberapa hari belakangan ini, termasuk saat ini yang dirinya menyelinap kedalam kamar Aneu.


Daren pun menghampiri Aneu dan naik ke atas ranjang lalu mendekap Aneu masuk kedalam pelukanya. Daren terus mengusik Aneu dengan jailnya iya membuat sang emou nya terbangun, bibirnya mulai mencari-cari bibir Aneu untuk ia ciumi.


Erangan yang tertahan lolos begitu saja dari bibir Aneu yang sedang tertidur, namun terdengar sexy di telinga Daren "Ah…" Aneu terbangun karena ulah Duda meresahkan ini.


"Tuan, kenapa kamu masuk kedalam kamarku?" tanya Aneu melepaskan ciuman keduanya membuat Daren menatap tidak suka.


"Jangan panggil aku tuan! Panggil aku Honey! hum?" pinta Daren dengan sedikit manja.


Aneu menundukan wajah menatap pria yang ada didekapanya. Pria yang sedang menunggu jawaban dari pernyataan cintanya, namun akan menemui acara perjodohan nya dengan wanita yang Diana panggil Natasya itu.


Terbesit rasa cemas yang melanda hatinya, Aneu merasa takut jika Daren akan lebih memilih wanita itu, sebenarnya apa yang sedang Aneu tunggu untuk menjawabnya, dia sendiri tidak tau tapi juga tidak yakin.


"Aneu aku benar-benar mencintaimu, aku akan menikahimu malam ini juga jika kamu mau," ucap Daren dengan sungguh-sunghuh.


Seolah Daren tau isi hati Aneu, namun ucapan Daren mampu membuat Aneu percaya negitu saja dengan Duda tampan itu.


Aneu mendekatkan wajahnya dan menempelkan kedua hidung mereka. "Aku juga …" lirih Aneu pelan lalu mencium Daren lebih Dulu dan menukar posisi tubuh nya menjadi di atas Daren.


Aneu Mengu Lum habis bibir Daren dan mencium pria itu hingga susah bernafas, seolah tidak mau kehilangan Aneu menghisapnya sangat kuat membuat Daren sedikit kewalahan.


"Sabar Aneu," mendorong sedikit tubuh Aneu agar bisa saling bertatapan, Aneu menatap Daren dengan sangat sayu. Sekarang giliran Aneu yang di selimuti gairahnya.


"Jangan sekarang, masih ada orang tuaku," memiringkan tubuhnya agar dapat menatap Aneu yang ada di samping nya. "Tapi kalau tipis-tipis masih bisa aku tahan," ucapnya lagi lalu kembali mencium Aneu.


Cup...


Daren lembali memulai ciuman, namun dia tersadar apa yang tadi Aneu ucapkan dan kembali melepas bibirnya. "Tadi kamu bilang, Aku juga?" tanya Daren, "maksudnya aku juga apa Aneu? yang jelas!" Tanya Daren.


"Aku juga menyukaimu, h--honey!" seru Aneu sambil mengulum senyuman manis yang membuat gundukan kecil di bawah sana semakin mengeras.


Daren langsung memeluk Aneu, "Aku senang, ini membuatku bahagia Honey!" ucap Daren lalu mengusap punggung Aneu halus.

__ADS_1


"Kenapa?" Aneu terlihat hawatir melihat Daren yang mengernyitkan wajahnya seperti kesakitan.


"Aku hanya pria normal yang tidak bisa melihat wajah cantik kekasihku," jawab Daren ambigu.


Aneu mengelap keringat di kening Daren, "Katakan ada apa?" dia ingin tau maksud dari ucapanya.


"Baiklah jika kamu ingin tau, Honey." Ucap Daren mendekatkan wajahnya di telinga Aneu. "Aku sedang ingin. Dan itu karena kecantikanmu yang menggoda, sampai membuat ularku menegang dan ingin mengeluarkan bisanya," jawab Daren dengan nada Sensualnya membuat Aneu tersipu malu sambil membanyangkan.


"Aku harus bagaimana?" tanya Aneu bingung, dia belum pernah menghadapi kadaan seperti ini.


"Kamu hanya perlu tidur sambil memelukku, Karena ada hari lain yang lebih panjang untuk kita berdua," ucap Daren karena dia sudah menyiapkan sesuatu untuk mereka berdua.


Aneu masuk kedalam dekapan Duda yang sangat tampan itu, dia pun terlalelap dalam pelukan Daren.


*


Matahari belum terbit sempurna, Daren lebih dulu bangun untuk menghindari orang-orang. "Kamu benar-benar tertidur tadi malam …" ucap Daren sambil mencolek hidung Aneu, sementara Daren mati-matian menahan hasratnya agar tidak melahap nya malam tadi.


Saat Daren hendak menurunkan kakinya untuk beranjak pergi, terdengar suara ketukan pintu dari luar.


"Abian," ucap Daren dan Aneu saling bertatapan.


"Cepat-cepat sembunyi …" Aneu terlihat panik mondar-mandir mencari tempat persembunyian, namun pintu itu mulai terbuka hingga akhirnya Daren dengan cepat bersembunyi di belakang pintu.


"Abian ada apa?" tanya Aneu sambil sedikit menahan pintu agar tidak terbuka lebar, Aneu hanya membuka sebatas lebar tubuhnya.


"Maaf Aneu aku takut kamu kenapa-kenapa, jadi aku buka pintunya" ucap Abian.


"Tidak apa-apa, aku baru bangun. Ada apa Abian kamu mengagetkanku saja," ucap Aneu.


Abian tersenyum melihat wajah Aneu yang nampak kaget dan hawatir, dengan rambut yang masih berantakan dan wajah khas bangun tidur, "tidak ada apa-apa, aku hanya kangen karena beberapa hari ini aku sibuk dengan tugas kampusku," ucap Abian.


"Astaga aku kira ada apa pagi-pagi begini sudah mencariku," ucap Aneu sedikit tenang. Karena dia kira akan terpergok oleh sahabat sekaligus adik Daren itu.


Abian merapikan rambut Aneu dengan sangat telaten, membuat Daren yang bisa melihat tangan Abian merapikan rambut Aneu mulai kesal.

__ADS_1


"Aku hanya ingin melihatmu sebelum berangkat, karena kedepanya mungkin aku akan sibuk Aneu," ucap Abian sedikit menyesal karena tidak bisa menghabiskan waktunya bersama Aneu.


Daren semakin memanas, karena dia cemburu saat melihat Abian begitu perhatian pada Aneu, "sial, Aneu bahkan tidak menolak apa yang di lakukan Abin!" pekiknya dalam hati.


Daren mencubit jari Aneu yang menahan dibalik pintu, dengan gemasnya dia menekan kuku jari-jari Aneu, membuat wanitanya itu meringis nyeri.


"Ada apa?" tanya Abian.


"Tidak apa-apa cepat kamu pergi! nanti telat."


"Baiklah bye …" ucap Abian lalu melangkah menjauh.


Dengan cepat Daren menutup pintu kamar dan ingin membuat perhitungan dengan Aneu. Daren menarik tubuh Aneu tiba-tiba hingga menabrak dada bidangnya.


"Aw ... ada apa Daren!" ringis Aneu.


"Apa Abian sering menyentuhmu seperti tadi hm?" tanya Daren menyudutkan Aneu hingga mentok ke dinding


"Iya, ta-tapi itu hal biasa sebagai sahabat," jawab Aneu berusaha menenangkan pria di hadapan nya yang terlihat sedikit emosi.


"Aku tidak menyukai itu! Aku tidak mau melihatmu di sentuh lagi olehnya!" sentak Daren kesal.


"Tapi dia adikmu, dia juga sa-- ah ..."


Daren langsung mencium leher Aneu tiba-tiba, dengan kesal dia menghisap kuat-kuat hingga memberi tanda kemerahan di sana.


"Hentikan Dar- Ah!" Aneu mendorong kuat tubuh Daren agar menjauh.


"Ingat ini adalah tanda kepemilikanku!" Seru Daren lalu mencium kening Aneu. "Bersiap-siaplah," ucap nya sambil mencium bibir Aneu sekilas dan beranjak keluar dari kamar Aneu.


.


.


𝑡𝑜 𝑏𝑒 𝑐𝑜𝑛𝑡𝑖𝑛𝑢𝑒𝑑...

__ADS_1


__ADS_2