
Yolanda menyambut kedatangan tuanya yang sejak tadi ia tunggu, dirinya sudah tidak sanggup menangani pekerjaan Daren beberapa hari ini. "Akhirnya kamu masuk kerja juga," ucap Yolanda lalu ikut berjalan di belakang Daren.
"Bawa semua pekerjaan keruanganku, aku harus menyelesaikanya sebelum jam 2 siang." jawab Daren tanpa menghentikan langkahnya dan terus masuk kedalam ruanganya.
"Memangnya ada apa? kamu mau bolos?" tanyanya dengan raut wajah kesal. Karena jika iya itu artinya dia yang harus lembur.
"Tidak yolan! aku akan membereskan semua pekerjaanku sebelum jam 2 siang. Agar kamu tidak perlu mengurus lagi pekerjaanku!" ketusnya karena tau jika Yolanda tidak dibuat sibuk lagi olehnya. "Aku akan menemui kedua orang tuaku siang ini," bebernya lagi agar Yolanda tidak kembali bertanya.
"Wah! ada apa tumben?" tanya Yolanda karena setaunya Daren tidak pernah menemui kedua orang tuanya jika tidak di paksa.
"Tentu saja, aku akan meminta restu mereka."
Yolanda menatap Daren yang sudah duduk di meja kerjanya, "serius? bukanya mereka sudah merestui Abian?" tanya Yoland.
__ADS_1
Yolanda merasa Daren terlalu berani mengambil sikap untuk menentang kedua orang tuanya, bagaiamana pun Yolanda hawatir jika nanti Daren lah yang akan kalah.
Daren hanya tersenyum simpul, "tenang saja, aku punya senjata yang bisa membuat mereka merestuiku." Jawabnya lalu berali menatap komputer.
"Se-- senjata?" Yolanda membayangkan jika senjata yang di maksud adalah benda tajam, sementara Daren tidak satu oemikiran dengan Yolanda.
"Lebih baik kamu kirim lagi Angelina ke kutub, kenapa kamu membuat orang itu kembali lagi ke sini?" ucap Daren kesal. Karena dirinya sengaja membuat wanita itu sibuk dengan pekerjaan di tempat yang sangat jauh agar tidak berada di dekatnya.
"Ah, itu... nanti aku kirim dia lagi." jawab Yolanda karena sebenarnya dia sengaja memberi tau Angelina agar wanita itu kembali ke sini dan mengganggu Daren dan juga Aneuly.
"Bagaiaman jika kita memainkan mainan anak-anak saja? seperti masak-masakan atau boneka?" ajak Angelina dengan wajah yang terpejam dan tidak bergerak sama sekali.
"Tidak mau, bukanya tadi tante sendiri yang mengajarkan aku untuk belajar make up." jawab Brisea yang sedang asik merias wajah Angelina.
__ADS_1
'Fvck!' pekik nya dalam hati. Karena memang salahnya lah yang ingin mengajarkan keahlianya saat merias wajah pada ketiga anak ini, niat hati Angelina ingin membuat ketiga anak itu kagum pada calon ibunya.
Namun al hasil, dialah yang menjadi korban mal praktek oleh ketiga bocah menyebalkan itu baginya.
"Aduh Non, tuan kecil... sudah hentikan kasian Nona Angelina wajahnya jadi berantakan karena kalian menggambar asal di wajahnya." ucap bi Nur yang tidak tega melihat model terkenal di perlakukan seperti itu oleh ketiga anak kecil.
"Tidak apa-apa Bi, aku sering memakai make up full saat pemotretan jadi ini sudah biasa." ucap Angelinaagar terlihat baik di mata pengurus rumah tangga Daren. Walau dalam hatinya terus mengumpat.
"Bee kenapa wajahnya jadi seperti badut?" tanya Axio yang baru menyadari hasil karya mereka. Brisea terkekeh dirinya juga baru menyadari itu dan membuat bi Nur menahan tawanya.
.
.
__ADS_1
to be continued...