
Aneuly yang terlihat bingung beralih menatap Darendra, "kenapa aku harus bekerja?" tanya Aneuly bingung dengan ucapan Abian.
"Apa kamu ingin bekerja di perusahaanku, sayang?" tanya Daren dan langsung di beri pemandangan indah dari senyuman Aneuly.
"Apa boleh? aku sangat ingin bekerja kantoran." ujar Aneuly namun senyuman itu hilang seketika saat mengingat jika dirinya hanya lulusan SMA. "Tapi aku tidak sesuai standar," ujar Aneuly dengan wajah sedihnya.
Daren yang memang tidak ingin Aneuly bekerja mendadak merasa sedih melihat perubahan reaksi wanitanya, "tentu saja bisa. Aku bisa menerimamu bekerja di sana, terserah kamu sayang mau bekerja sambil kuliah atau bekerja dengan pendidikan terakhirmu. Tapi lebih baik kamu kuliah saja dulu," ujar Daren karena tidak mau jika Aneuly sangat sibuk dan tidak bisa mengurus dirinya ketika Aneuly bekerja sambil kuliah.
"Kenapa masih sedih? tentang biaya kamu jangan memikirkanya, ada aku yang akan mengurusnya." ujar Daren agar Aneuly tidak perlu menghawatirkan apapun.
"Tapi--"
"Mau bekerja atau tidak?" tanya Daren dengan wajah seriusnya.
"Mau," jawabnya.
"Kalau begitu, kamu kita harus menikah sekarang." ujar nya sambil menarik Aneuly pergi dari tempat itu.
__ADS_1
"Menikah sekarang? yang benar aja kak!" ujar Aneuly.
"Maksud ku kenapa kita harus menikah? apa hubunganya dengan bekerja?" tanya nya lagi sambil menahan tarikan Daren di lenagnya.
"Apa kamu tidak ada niat untuk menikah denganku?" tanya Daren tiba-tiba karena Anuely seperti tidak menyetujui ucapanya.
"Mau! bukan begitu maksudku." Daren tersenyum lalu kembali lagi menarik Aneuly masuk kedalam mobilnya dan mengabaikan ucapan wanitanya itu.
Daren mengajak Anuely kesuatu tempat dimana banyak batu nisan berjajar di sana, Anuely kira pria itu akan membawanya pergi menemui penghulu detik itu juga tapi nyatanya bukan.
"Kita mau kemana kak?" tanya Aneuly karena masih bingung.
Deg.
"Jadi dia sudah mebinggal?" gumamnya dalam hati, hal bodoh jika selama ini Aneuly masih merasa takut jika mantan istrinyabakan kembali bersama prianya.
Daren berhenti dan tersenyum melihat nama yang terukir di salah satu batu nisan di sana, "Hai, sudah lama aku tidak menemuimu. Maaf karena tidak membawa anak-anak," ujarnya sambil menarik Aneuly duduk di dekatnya. "Kali ini aku mengajak seseorang, dia wanita yang pandai mengurus anak-anak dia juga sangat menyayangi mereka," ujarnya sambil tersenyum menatap Aneuly yang juga menatapnya. "Yang teroenting adalah dia wanita yang kucintai, sayang sekali jika kamu ada di sini. Kamu pasti sangat antusias mengurus pernikahanku denganya." ujar Daren pada mantan istrinya itu namun lebih tepatnya sahabat karena keduanya tidak mempunyai perasaan sedikitpun.
__ADS_1
Anuly tersenyum, "apa tidak apa-apa kamu berbicara seperti itu kak?" tanya nya karena dia takut jika mantan istrinya akan terluka mendengar ucapan Daren.
"Kami berdua bersahabat, tidak ada cinta di antara kami. Dan-- " ucapanya tergantung begitu saja karena Daren malu mengungkapkan hal konyol yang oernah mereka lalui.
"Dan apa?"
"Dan kita berdua dalam pengaruh obat saat malam pertama, jadi aku tidak tau dan tidak ingat seperti apa kami melalui malam pertama yang memang dilakukan sekali selama kita menikah." ujarnya mengingat itu dia jadi kembali kedal pada kedua orang tuanya karena mereka lah yang melakukanya.
"Wah benarkah? sekali melakukan langsung punya tiga?" tanya Aneuly tidak percaya lalu dia menatap perut ratanya karena mengingat sesuatu dimana Daren tidak memakai pengaman pada saat bercinta dengan nya.
"Ya mungkin anakku akan bertambah lagi, sepertinya di dalam perutmu sudah ada yang tumbuh." ujarnya dengan terkekeh karena dia yakin jika dirinya sangatlah subur.
Aneuly langsung melotot sempurna.
.
.
__ADS_1
to be continued...