
Sepenjang perjalanan menuju kamar Daren, Aneu terus berpikir apa ada yang aneh dengan pria ini. Bagaimana mungkin seorang pria dewasa memintanya untuk membacakan dongeng sebelum tidur.
Daren langsung membaringkan tubuhnya di atas ranjang dan menyelimuti dirinya sendiri. "Duduk lah, apa kamu akan membaca dongeng sambil berdiri?" tanya Daren karena Aneu masih berdiri mematung.
"Tuan ... saya hanya membaca dongeng untuk anak-anak, dan saya bekerja untuk mengurus anak bulan orang dewasa seperti anda." Jawab Aneu dengan raut wajah yang terlihat heran karena permintaan Daren yang menurutnya aneh.
"Apa kamu tidak mau membuatku dekat dengan anak-anak?, aku ingin belajar agar bisa membacakan dongeng untuk anak ku juga," ucap Daren terus terang.
"Tapi tuan--"
"Sudah lakukan saja apa yang ku perintahkan!" pinta Daren sedikit membentak, dia sudah mulai hilang kesabaranya. Daren juga tau ini hal bodoh yang baru pertama ia lakukan, tapi dirinya sendiri juga tidak tau kenapa dia melakulannya, yang dia tau jika dirinya ingin berlama-lama melihat Anru.
Selama tadi siang Daren bekerja dia sama sekali tidak bisa konsentrasi karena seorang wanita, mungkin karena selama 5 tahun ini dia tidak pernah menyentuh wanita saat memegang dada Aneu tadi pagi membuatnya merasa gelisah seharian.
Aneu pun melihat buku dongeng yang sudah pasti adalah milik anak-anak nya Daren di atas nakas, dia mengambil nya dan membuka lembaran buku itu. "Baiklah tuan, saya akan membacakan satu dongeng untuk mu," jawab Aneu dengan terpaksa dia harus mengikuti apa mau nya pria beranak tiga itu.
Aneu mendaratkan bokongnya di atas tepi ranjang, dia enggan berdekatan dengan Daren yang berbaring tidak jauh darinya. "Apa tuan pernah membaca dongeng Cinderella?" tanya nya karena buku yang ia pegang sekarang adalah buku Cinderella.
"Tidak," jawab nya singkat lalu memiringkan tubuhnya ke samping dan menatap Aneu.
__ADS_1
"Baiklah saya akan mul--"
"Berapa umur mu Aneu?" tanya Daren tiba-tiba memotong ucapan Aneu. Daren tau jika dia seumuran dengan adik nya, namun Daren tetap tidak menyangka jika gadis kecil ini mempunyai tubuh yang bagus di balik baju kebesaran nya itu, saat ini Daren sedang memperhatikan lekuk tubuh Aneu dari samping.
Aneu memang mempunyai tubuh yang ramping namun di beberapa bagian lain Aneu mempunyai bagian menonjol seperti dada yang besar dan bokong yang berisi.
"18 tuan," jawab Aneu.
"Pantas jari-jarimu sangat kecil," jawab Daren sambil mengambil lengan kanan Aneu dan melihat jari-jari nya.
Jantung Aneu mulai berdebar. "Maaf tuan," ucap Aneu langsung menarik lengan nya, namun bukanya terlepas Daren justru menautkan jari nya di jari Aneu. "Tuan … " lirih Aneu menatap jemari yang saling bertautan.
Aneu melotot tidak percaya, dia benar-benar butuh penjelasan dengan apa yang sedang Daren lakukan saat ini kepadanya.
Lalu Daren tersenyum sangat tipis hingga Aneu tidak bisa melihat nya, dia sangat menyukai ekpresi Aneu yang tidak bisa di artikan itu.
"Ada apa Aneu? sepertinya kamu menyukai kecupanku," tanya Daren dengan sedikit becanda.
"Tuan lebih baik anda melepaskan tanganku," jawab Aneu dia kesal kenapa Daren menuduh nya seperti itu, walaupun jantung nya berdebar, wajahnya merona saat lengan nya di kecup. Namun sikap Daren tetap lah tidak sopan, apa lagi dengan status keduanya yang seorang majikan dan pembantu pikir Aneu.
__ADS_1
"Kenapa? apa kamu tidak suka di kecup oleh pria tampan seperti ku?" ucap nya sambil tersenyum sangat manis membuat Aneu kembali terpesona.
Aneu langsung menggelengkan kepalanya agar otaknya kembali pokus dan tidak terhanyut oleh pesona pria tampan ini. "Saya harus kembali," ucap Aneu lalu menepis lengan Daren dan berjalan ke arah pintu.
Aneu sudah tidak peduli lagi jika Daren akan marah karna perbuatan nya, yang Aneu tau apa yang sedang mereka lakukan itu adalah hal yang salah. Aneu mengendus kesal, lagi-lagi Daren terus membuat jantung nya berdebar terus.
"Siapa bilang kau boleh pergi Aneu!" ucap Daren yang sedang berjalan untuk menyusul Aneu.
Daren menarik lengan Aneu hingga nyaris terjatuh, dengan sigap lengan Daren yang lain merangkul pinggang Aneu agar tidak terjatuh, "tuan ada apa lagi! saya harus pergi," pekik Aneu mulai kesal.
Daren mendempetkan tubuhnya dengan tubuh Aneu, perlahan namun pasti Daren juga mendekatkan wajahnya hingga hembusan nafas keduanya bisa saling merasakan.
Daren sudah sangat gelisah, apakah dengan mencium Aneu kegelisahan itu akan hilang. Daren pun menempelkan hidung mereka dengan wajah merona di keduanya, jantung Daren terus berdebar sangat hebat.
Baru pertama kali Daren berdebar oleh seorang wanita, dia berdebar karena ini pertama kali dirinya akan berciuman, dulu saat menikah dengan sahabat nya dia tidak pernah berciuman sedikitpun bahkan saat bercinta di atas ranjang.
Cup.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1