
Aneu menghirup napas banyak-banyak saat Daren melepaskan tautan kedua bibir mereka.
Daren kembali mencium gadisnya lalu memperdalam ciumannya. Bahkan sesekali Daren menghisap lidah Aneu dengan cukup kuat dengan kesadaran yang sudah di selumuti hawa napsunya.
Aneu melotot hebat saat merasakan raga Daren yang sangat perkasa itu berubah semakin menegang dan membesar menyentuh bagian inti miliknya.
"Ah," lenguh gadis itu di antara sela-sela ciuman Daren yang semakin memanas. Daren menyunggingkan senyuman di wajahnya. "Tu--tunggu!" sentak Aneu menahan lengan Daren yang mulai membelai bagian pahanya.
"Kenapa Honey?" dengan wajah sayu Daren mendongakan kepalanya menatap Aneu yang sudah sepenuhnya sadar. "Apa kamu mau pindah tempat?" tanya nya takut jika Aneu merasa tidak nyaman.
Aneu menganga pria dihadapannya lupa atau dia tidak peduli jika di rumahnya sedang ada kedua orangtuanya. "Tante Diana dan Om Ronald …" ucap Aneu membuat Daren menjatuhkan kepalanya tepat di atas dada Aneu tanpa tenaga sedikitpun.
Seketika tubuh Daren lemas tidak lupa bagian bawah yang sedang On pun berubah menjadi sangat lemas saat menyadari jika dia tidak bisa melanjutkan permainan panasnya itu.
"Huh … aroma tubuhmu membuatku sangat mabuk Aneu." ucapnya masih tertidur di atas tubuh Aneu. "Padahal sebentar lagi aku bisa melihat isi yang ada di dalam bajumu ini," gerutunya sambil mengelus-elus dada Aneu.
"Mommy …" teriak Brisea berjalan mendekati arah pintu kamar tempat ia tidur, Karena sebelumnya Aneu bilang jika dia akan membawa baju ganti di kamar anak-anak.
"Bee…" ucap keduanya menatap arah pintu.
"Cepat menyingkir!" sentak Aneu pelan mendorong tubuh Daren yang mengungkungnya, hingga membuat Daren terjatuh di lantai.
Brisea masuk kedalam kamar dan menatap Aneu yang berdiri mematung. "Mommy Bee sudah menunggumu dari tadi," ucap Anak kecil itu dengan bibir mungilnya itu. Namun pandanganya beralih pada Ayahnya yang sedang duduk di atas lantai di belakang Aneu.
"Apa yang sedang Daddy lakukan di bawah situ?" tanya Brisea curiga, Jantung Aneu semakin berdebar kencang dia takut jika semua ini akan berakhir dengan Brisea yang memberi tahu kepada tante Diana.
Brisea semakin menyipitkan matanya saat melihat bibir Daren yang belepotan dengan warna merah di bibirnya, "Dad kenapa bibirmu merah?" tanya Brisea penuh selidik.
"Kamu tidak perlu tau urusan orang dewasa!" ketus Daren karena berkatnya dia sekarang kesakitan di bagian bokong akibat terjatuh di atas lantai.
"Aku tau apa yang Daddy lakukan!" Bentak Brisea dengan wajah kesalnya, Brisea mulai marah pada sang Ayah karena dia mencurigai jika Daddy nya sedang mengambil barang miliknya.
__ADS_1
Aneu terkejut dan mendekati Brisea yang berjalan mendekati Daren yang masih duduk di atas lantai dengan tangan yang di topang satu kaki yang menekuk seraya mengelap bekas lipstik di bibirnya.
"Daddy mengambil stoke permenku kan di sini?" Tanya Brisea sambil mencari-cari permen yang ia sembunyikan. Membuat Dua manusia dewasa itu kaget karena mereka kira Brisea dapat menebak kegiatan keduanya.
Brisea menatap kotak yang berhasil ia temukan dan membukanya, namun ternyata semuanya masih utuh seperfi terakhir kali ia membukanya.
"Apa yang kamu sembunyikan di salam sana?" tanya Daren penasaran lalu mengambil kotak itu dengan paksa.
"Ah Daddy! itu miliku!" teriak Brisea.
*
Disinilah sekarang nasib Brisea dan kedua saudaranya yang lain. Ketiga anak itu sedang duduk dan menunduk di atas sofa dengan rasa takut ketiganya enggan menatap Daren yang terlihat murka.
Daren sedang mondar-mandir di depan ketiga anaknya, dia sedang memikirkan hukuman apa yang pantas karena sudah membohongi dan melanggar peraturannya.
Selama ini Daren sudah melarang keras ketiga anaknya untuk tidak mengkonsusi makanan manis itu, Daren memijat pelipisnya yang terasa nyeri di tambah dengan hasratnya yang tidak bisa tersalurkan.
"Jadi … kalian tetap tidak akan mengaku darimana kalian mendapatkan banyak makanan terlarang ini?" tanya nya pada ketiga anak itu dan menunjuk kotak besar berisi semua jenis makanan anak-anak.
"Daren tidak akan membiarkan mereka bebas memilih apapun yang mereka mau jika tau anakku sudah menyetok mermen sebanyak ini Mam!" sentak Daren sedikit murka.
Daren tau betul jika yang memberikan cemilan kepada anak-anaknya adalah Diana, karena ini sudah terjadi untuk yang kedua kalinya, namun Daren tidak suka saat anak-anaknya tidak menuruti perintahnya. Bahkan melanggar peraturannya.
"Katakan!" bentak Daren memberi gertakan kepada ketiga anaknya, agar Diana tidak mengulangi lagi kelakuannya.
"Huaa!! Bee cuma ingin makan itu kenapa Daddy melarang kami!" teriaknya dengan rengekan dan air mata yang mulai mengalir di pipinya. Dengan cepat Aneu memeluk Brisea.
"Lebih baik Kalian bicara dengan jujur pada Daddy kalian, dan meminta maaf," ucapnya sambil memeluk dan mengelus punggung Brisea yang sedikit sesegukan.
Sementara Diana dengan susah payah menelan salivanya, tenggorokannya merasa sangat kering. Dia takut jika Daren akan marah dan melarangnya lagi bertemu dengan cucunya seperti terakhir kali dirinya ketajuan memberikan banyak cemilan pada ketiga cucunya.
__ADS_1
"Daddy mu hanya takut jika kalian sakit gigi lagi seperti dulu, jadi sebagai anak yang baik Bee, Ay dan Cyii lebih baik terus terang oada Daddymu." pinta Aneu kepada ketiga anak asuhnya itu.
Ronald tersenyum menatap istrinya yang mulai gelisah, dia tau saat Diana antusiah memilih cemilan untuk cucu-cucunya dan dengan pedenya memarahi Ronald yang sudah berusaha melarangnya waktu itu.
"Nenek yang memberikan kami cemilan itu," jawab Cryl memberanikan diri untuk menjawab karena tidak tega melihat kakak nya menangis. Dan dibalas dengan helaan napas dari Daren.
"Apa kalian meminta Nenek untuk memberikan kalian cemilan?" tanyanya lagi untuk memastikan. Padahal Dianq waktu itu sangat marah pada Daren ketika Brisea menangis karena sakit gigi yang ia derita akibat memakan perment. Namun tetap saja Diana nakal memberikan cemilan untuk anaknya.
"Tuan, sebaiknya anda tidak melarang lagi anak-anak untuk memakan permen. Lebih baik anda memberi jangka waktu agar anak-anak juga bisa menikmati permen." Aneu memberanikan diri memberi saran, dia tidak enak jika nanti Daren memarahi ibunya sendiri yang sudah terlihat pucat pasih.
Daren mengerutkan kening, "Maksudmu?"
"Ijinkan mereka memakan permen seminggu atau dua minggu sekali dengan porsi yang tidak berlebihan. Jika tuan benar-benar menutup akses kebahagian mereka dengan memakan permen, Anak-anak akan berani berbohong untuk mendapatkan yang mereka inginkan. Itu akan menjadi kebiasaan buruk untuk mereka." ucao Aneu dengan panjang lebar.
"Semakin anda banyak melarang mereka, Anak-anak akan tumbuh sambil membangkang setiap aturan yang diberikan Daddy nya," ucap Aneu.
Diana merasa lega, "Iya Daren perkataan Aneu benar" ucapnya merasa senang karena kemungkinan Diana bisa lolos dari amarah Daren. Sementara Ronald sedang menunggu-nunggu keputusan yang akan di ambil anaknya.
"Baiklah, terserah kamu lakukan apapun yang terbaik untuk anak-anak, Aneu." Jawab Daren menyerahkan semua urusan anaknya kepada Aneu. Dan dijawab anggukan dan senyuman di bibir Aneu membuat Daren ikut tersenyum kepada Aneu.
Ronald yang terlalu peka hanya diam melihat keduanya.
"Terimakasih Mommy…" ucap Brisea lalu memeluknya.
"Cyi juga mau peluk Mommy!"
Cyi dan Brisea merasa beruntung karena ada seseorang yang selalu membelanya dan membuat mereka merasa aman. Sementara Axio dan Daren membulatkan mata dengan sempurna, karena kedua anak itu tidak sadar memanggil Aneu Mommy di depan Diana dan Ronald.
"Mommy?" tanya Diana.
.
__ADS_1
.
𝑡𝑜 𝑏𝑒 𝑐𝑜𝑛𝑡𝑖𝑛𝑢𝑒𝑑...