
Jantung Aneuly berdebar saat Daren mulai membuka celana jeans nya, dia salah tingkah dan sudah pasti malu wajahnya sudah memerah.
Yang Aneuly takutkan jika Daren tidak hanya mengobati dirinya, namun berniat lain pada tubuhnya.
"Pulang kerja tadi aku membeli ini, katanya bagus untuk luka di bagian sensitive." ujar Daren memperlihatkan salep yang ia keluarkan dari saku celananya. "Buka lah lebar-lebar sayang," pinta Daren agar memudah kan dirinya untuk mengoles luka.
"Biar aku saja sayang, aku bisa melakukanya sendiri." pinta Aneuly karena bagaimana pun dia masih merasa canggung.
Daren menatap Aneuly tanpa berbicara, Daren sama sekali tidak ingin di bantah dia akan bertanggung jawab dengan aoa yang sudah dirinya perbuat.
"Aku yang membuatmu terluka, jadi aku juga yang harus mengobatimu. Tolong buka sekarang!" ujar Daren tidak sabar karena sejak tadi Aneuly merapatkan kedua
pahanya saat Daren berhasil melepaskan celananya.
Aneuly pun perlahan membukanya, Daren menyibakan kain tipis yang membalut bagian sensitive Aneuly dengan sangat telaten dia mengoleskan salep itu di bagian yang terluka. Dengan jakun yang naik-turun karena berkali-kali menelan salivanya dengan menahan hasratnya mati-matian, akhirnya dia pun selesai mengoleskanya.
__ADS_1
"Tidulah di sini bersama ku Aneu..." Ajak Daren sambil mendorong pelan kedua bahu Aneuly agar berbaring di atas ranjangnya lalu menutupi tubuh gadi itu dengan selimut.
"Tapi, bagaimana jika ada orang lain yang melihat." Aneuly masih sangat takut tentang pandangan orang lain kepadanya, bagaimana jika Abian tau jika kelakuan dirinya lebih parah dari apa yang mereka pikirkan.
"Mereka tau jika kita menjalin hubungan," jawab Daren sambil merebahkan tubuhnya di samping Aneuly dan memeluk tubuh wanitanya.
"Bagaimaan dengan Abian?" tanya Aneuly. Karena dari ungkapan cintanya semalam tidak mungkin kan pria itu masih mau mengungkapkan perasaanya jika sudah tau jika dirinya sedang menjalin hubungan dengan Kakaknya.
Raut wajah Daren tiba-tiba berubah menjadi lebih serius, pria itu teringat lagi kejadian tadi jika Abian telah menjemput dan membawa pergi Aneuly.
"Katakan dengan jujur, tadi di bawa pergi kemana oleh Bian?" tanya Daren dengan wajah yang mulai menyelidik.
"Dia hanya menjemputku dan membawaku pergi ke pantai," jawab Aneuly jujur.
"Pantai?" tanya Daren bingung, "apa karena pergi ke pantai jadi kamu mau saja di ajak pergi oleh Abian?" tanya Daren lagi, karena dirinya pikir Daren bisa membawa Aneuly ke tempat yang lebih indah dari sekedar pantai.
__ADS_1
"Au juga tidak tau jika aka d bawa kesana, dia tidak bilang akan mengajaku kesana."
"Lalu apa yang dia katakan saat sampai di sana?" Tanya Daren curiga katena tidak mungkin Abian mengajak pergi ke tempat itu tanpa ada tujuan.
Aneuly hanya menggelengkan kepalanya, Daren pun menarik dagu wanitanya. "Jawab Aneu!" tanyanya lagi dengan sedikit nada tinggi.
"Tidak ada yang dia biacaraan," jawab Aneuly masih keukeuh tidak ingin berkata jujur, karema menurutnya itu bukan hal penying. Yang ada malah makin memperbanyak masalah.
"Apa dia menyentuhmu?" Aneuly langsung menggeleng saat Daren bertanya itu, namun jawaban yang spontan itu membuat Daren malah kesal dia mengira jika Abian sudah menyentuh salah satu bagiam dari tubuh Aneuly.
"Katakan atau aku akan menghapus paksa semua jejak tangan sialan itu!" sentak Daren semakin kepanasan membayangkan jika Abian menyentuhnya, apalagi kemarin Abian sempat terang-terangan menggandeng, merangkul dan kontak pisik lainya ke pada Aneuly.
.
.
__ADS_1
To be continued...